Bagaimana Jika Terlalu Banyak Minum Matcha, Tips Menyiasatinya - Majalah Otten Coffee
Dalam beberapa tahun terakhir, matcha menjadi salah satu minuman yang identik dengan gaya hidup sehat dan mindful, siasati agar tidak terlalu banyak minum matcha.

Bubuk teh hijau asal Jepang ini dikenal kaya antioksidan, memberi efek tenang namun fokus, dan bahkan disebut-sebut mampu membantu proses detoksifikasi tubuh. Tak heran, matcha sering tampil di berbagai menu minuman kekinian, dari latte hingga smoothie bowl, bahkan camilan sehat. Namun, meskipun dikemas dengan manfaat, terlalu banyak mengonsumsi matcha juga bisa menimbulkan sejumlah efek samping yang tidak bisa diabaikan. Sama seperti zat aktif lainnya, tubuh memiliki batas toleransi, dan konsumsi matcha yang berlebihan justru bisa mengganggu keseimbangan kesehatan secara keseluruhan.
Promo Bisa Berubah Sewaktu-waktu.
Jangan lupa untuk selalu memeriksa tanggal kedaluwarsa dan saran penyimpanan pada setiap rekomendasi bubuk matcha yang kamu beli agar warnanya tetap hijau cerah.
Kandungan Nutrisi dalam Matcha: Kebaikan yang Padat
Matcha berbeda dari teh hijau biasa karena kita mengonsumsi seluruh daun teh yang digiling halus, bukan hanya air seduhan dari daunnya. Ini berarti kandungan nutrisinya jauh lebih pekat. Dalam 1 gram matcha (sekitar ½ sendok teh), terdapat:
• Kafein: 35–70 mg, tergantung kualitas dan asal.
• L-theanine: Asam amino yang membantu relaksasi dan fokus.
• EGCG (Epigallocatechin gallate): Antioksidan kuat yang melawan radikal bebas.
• Serat, klorofil, vitamin A, C, E, dan mineral.
Namun, konsentrasi nutrisi ini juga berarti risiko meningkat bila dikonsumsi berlebihan, terutama jika tubuh tidak terbiasa dengan dosis tinggi senyawa aktif tersebut.
1. Efek Kafein: Dari Detak Jantung Cepat hingga Insomnia
Salah satu perhatian utama dari konsumsi matcha berlebihan adalah tingginya kandungan kafein. Meskipun efeknya lebih stabil dibanding kopi karena disertai L-theanine (yang memberikan efek menenangkan), konsumsi lebih dari 2–3 cangkir matcha sehari bisa menyebabkan:
• Insomnia, terutama jika diminum sore atau malam hari.
• Jantung berdebar (palpitasi).
• Kecemasan, kegelisahan, atau gangguan suasana hati.
• Kecanduan ringan terhadap kafein, dengan gejala seperti sakit kepala dan kelelahan saat berhenti konsumsi.
Menurut European Food Safety Authority (EFSA), asupan kafein yang dianggap aman untuk orang dewasa adalah maksimal 400 mg per hari. Jika 1 gram matcha mengandung rata-rata 60 mg kafein, maka batas amannya sekitar 6 gram per hari, atau setara 3 cangkir kecil matcha.
2. Masalah Pencernaan dan Penyerapan Zat Besi
Katekin, terutama EGCG, memiliki sifat mengikat zat besi non-heme (yang berasal dari tumbuhan). Bila matcha dikonsumsi bersamaan dengan makanan kaya zat besi (seperti bayam, kacang-kacangan, atau suplemen zat besi), penyerapan zat tersebut bisa terganggu. Akibatnya:
• Dapat memperparah anemia defisiensi besi, terutama pada wanita.
• Menimbulkan gangguan lambung, seperti mual atau rasa panas (heartburn), terutama bila diminum saat perut kosong.
Penelitian di The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa teh hijau dapat mengurangi penyerapan zat besi hingga 25%. Untuk mengurangi dampaknya, konsumsi matcha sebaiknya tidak berdekatan dengan waktu makan besar.
3. Risiko Logam Berat dan Kontaminan
Karena kita mengonsumsi seluruh daun teh dalam bentuk bubuk, matcha memiliki potensi membawa logam berat seperti timbal (Pb) yang mungkin diserap tanaman dari tanah. Beberapa studi independen seperti dari ConsumerLab dan Journal of Toxicology menemukan bahwa:
• Matcha dari sumber yang kurang terkontrol bisa mengandung timbal dalam jumlah kecil.
• Konsumsi dalam jumlah besar dalam jangka panjang berpotensi membebani hati dan ginjal.
Itu sebabnya, penting untuk memilih matcha organik dari produsen terpercaya (misalnya Uji atau Nishio di Jepang), yang memiliki standar budidaya dan uji laboratorium yang ketat.
4. Efek pada Hati dan Interaksi Obat
Beberapa studi, seperti yang diterbitkan di Regulatory Toxicology and Pharmacology (2018), mencatat bahwa konsumsi EGCG dalam dosis tinggi biasanya dari ekstrak teh hijau, tapi potensi serupa ada pada matcha dalam jumlah besar—bisa menyebabkan hepatotoksisitas atau kerusakan hati ringan.
Selain itu, senyawa dalam matcha bisa berinteraksi dengan beberapa jenis obat, seperti:
• Antikoagulan (pengencer darah)
• Obat tekanan darah
• Obat untuk gangguan tiroid dan diabetes
Nikmati Matcha, Tapi Tetap Bijak
Tidak ada yang salah dengan menikmati secangkir matcha setiap hari. Justru, matcha bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat jika dikonsumsi dalam jumlah moderat: sekitar 1–2 gram bubuk per hari, setara dengan 1–2 cangkir. Tapi jika Anda tergoda menambahkan matcha ke segala hal minuman, makanan, suplemen waspadai risiko kelebihan konsumsi kafein, gangguan penyerapan zat besi, potensi toksisitas, dan interaksi dengan obat.
Ingat, bahkan yang sehat sekalipun tetap harus dikonsumsi dengan seimbang. Matcha bukanlah obat mujarab, melainkan salah satu bagian dari pola hidup sehat yang harus dilengkapi dengan pola makan bergizi, olahraga teratur, dan istirahat cukup. Sudah pasti yang berlebihan tidak baik, siasati agar tidak terlalu banyak minum matcha.
Setelah menguasai beda green tea dan matcha sekaligus tahu penggunaan spesifik ceremonial vs culinary, kini saatnya mempraktikkan resep matcha ala kafe premium.
Tentang Kopi Susu Enak Ala Cafe
Powder Drink Kreasi Minuman Segar
Sirup Kopi Terbaik untuk menu cafe!

