Cara Membuat MATCHA LATTE Enak ala Kafe Matcha di Rumah - Majalah Otten Coffee
Matcha latte kini menjadi salah satu minuman populer yang banyak digemari pecinta teh maupun kopi. Perpaduan rasa khas bubuk matcha yang sedikit pahit dengan lembutnya susu menghasilkan sensasi menenangkan sekaligus menyegarkan. Tidak hanya enak, minuman ini juga dikenal kaya manfaat karena matcha mengandung antioksidan tinggi yang baik untuk kesehatan tubuh.
Di berbagai kafe modern, matcha latte hadir dalam beragam varian, baik disajikan panas maupun dingin. Namun, harga yang ditawarkan terkadang cukup tinggi sehingga banyak orang mulai mencari cara membuatnya sendiri di rumah. Kabar baiknya, proses meracik matcha latte tidak sesulit yang dibayangkan, bahkan bisa dilakukan dengan peralatan sederhana.
Selain untuk minuman, beberapa rekomendasi bubuk matcha juga diformulasikan khusus agar cocok dicampur ke dalam adonan kue kering atau dessert.
Selain itu, membuat matcha latte sendiri memungkinkan setiap orang menyesuaikan rasa sesuai selera. Misalnya, menambah tingkat kekentalan, memilih jenis susu—baik susu sapi, almond, oat, maupun kedelai—hingga mengatur kadar manis yang diinginkan. Dengan begitu, setiap cangkir matcha latte buatan rumah bisa menjadi pengalaman pribadi yang unik.
Sebuah penelitian, publikasi di Nutrients (2018) menunjukkan bahwa ekstrak matcha kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), yang berperan sebagai antioksidan kuat. EGCG terbukti mampu membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dengan cara menurunkan kadar kolesterol LDL, menstabilkan tekanan darah, serta melawan stres oksidatif dalam tubuh.

Bahan dan alat membuat matcha
- Matcha Bubuk; Otten Matcha Latte Powder
- Matcha Bowl
- Sendok takar teh (Chashaku)
- Wooden Whisk (Chasen)
- Susu UHT
Langkah demi Langkah membuat Matcha Latte ala Kafe Matcha
- Rendam pengaduk bambu dengan air panas ± 1 menit, tiriskan dengan chasen stand.
- Siapkan sifter (pengayak) ke matcha bowl.
- Tuang bubuk matcha Otten 2x Chashaku setara ± 3 gram ke sifter.
- Tekan gumpalan bubuk di sifter dengan Chashaku.
- Tuang 30 ml air hangat suhu sekitar ± 75° C.
- Gunakan Chasen aduk kanan kiri posisi matcha bowl agak miring.
- Likuid matcha telah selesai, persiapkan susu UHT ± 120 ml untuk dicampur.
- Opsional: untuk Hot Matcha Latte atau Iced Matcha Latte.
- Hot Matcha Latte maka susu disemburkan uap (steaming), agar suhu susu meningkat. Campurkan susu steam ke cangkir.
- Iced Matcha Latte maka siapkan es batu, dan cukup tuang ke gelas.
Cita rasa akhir dari matcha latte terletak pada, pemilihan bahan matcha bubuk, teknik melarutkan matcha, dan rasio bahan yang digunakan. Penasaran bagaimana membuat matcha tanpa pengaduk?
Langka demi Langka membuat Matcha Latte tanpa Chasen (Whisk)

Untuk membuat matcha latte tanpa chasen, prosesnya tetap sederhana. Bubuk matcha bisa larut halus dengan bantuan shaker, milk frother, atau sendok biasa. Langkah demi langkah ini akan membantu menghasilkan minuman lembut, creamy, dan nikmat, meski tanpa peralatan tradisional Jepang.
Cara membuat Matcha Latte dengan Shaker
- Persiapkan shaker minuman atau jug dengan penutup.
- Siapkan sifter (pengayak) ke shaker.
- Tuang bubuk matcha Otten 2x Chashaku setara ± 3 gram ke sifter.
- Tekan gumpalan bubuk di sifter dengan Chashaku.
- Tuang 30 ml air hangat suhu sekitar ± 75° C ke shaker.
- Tutup shaker dan guncang cepat, pastikan bubuk matcha larut sempurna.
- Likuid matcha telah selesai, persiapkan susu UHT ± 120 ml untuk dicampur.
Cara membuat Matcha Latte dengan Frother
- Persiapkan matcha bowl dan frother elektrik.
- Siapkan sifter (pengayak) ke matcha bowl.
- Tuang bubuk matcha Otten 2x Chashaku setara ± 3 gram ke sifter.
- Tekan gumpalan bubuk di sifter dengan Chashaku.
- Tuang 30 ml air hangat suhu sekitar ± 75° C ke matcha bowl.
- Aduk matcha dengan frother elektrik hingga bertekstur likuid.
- Likuid matcha telah selesai, persiapkan susu UHT ± 120 ml untuk dicampur.
Istilah Ceremonial Grade Matcha itu apa?
Ceremonial grade matcha merupakan kualitas matcha terbaik dengan asal usul produk yang jelas, diproses sejak setelah panen melalui pengukusan, pengeringan, hingga digiling halus dengan batu, lalu secara tradisional dilarutkan menggunakan metode khas Jepang untuk menghasilkan rasa otentik. Matcha jenis ini dibuat dari pucuk daun teh muda yang dipilih dengan hati-hati, sehingga menghasilkan bubuk berwarna hijau cerah dengan tekstur sangat lembut. Keaslian proses dan ketelitian dalam setiap tahap menjadikan ceremonial grade matcha sangat dihargai, baik dari segi rasa, aroma, maupun manfaat kesehatan.

Dalam pembuatan matcha latte, penggunaan ceremonial grade menghadirkan karakter rasa yang lebih halus, sedikit manis alami, dan tidak meninggalkan rasa getir berlebihan. Bubuk ini umumnya diaduk menggunakan alat tradisional bambu bernama chasen, yang berfungsi melarutkan bubuk dengan sempurna sekaligus membentuk busa lembut di permukaan. Ritual ini tidak hanya menjaga kualitas rasa, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman budaya minum teh yang diwariskan turun-temurun di Jepang.
Selain itu, ceremonial grade dikenal memiliki kandungan L-theanine yang tinggi. Senyawa ini memberi efek menenangkan, meningkatkan fokus, dan bekerja sinergis dengan kafein alami matcha untuk menghadirkan energi yang stabil. Itulah sebabnya, matcha latte berbahan ceremonial grade tidak sekadar minuman, tetapi juga sebuah pengalaman istimewa yang menggabungkan cita rasa premium, nilai tradisi, dan manfaat kesehatan dalam satu cangkir.
Rekomendasi Alat Pembuat Matcha dari Hario Matcha Collection Set
Commercial Grade Matcha seperti apa?
Commercial grade matcha merupakan jenis matcha yang diperuntukkan bagi penggunaan sehari-hari dalam jumlah besar, terutama untuk kebutuhan industri makanan dan minuman. Matcha ini biasanya dibuat dari daun teh yang lebih tua, dengan proses produksi yang tidak seketat ceremonial grade. Hasilnya adalah bubuk berwarna hijau lebih kusam, rasa cenderung lebih pahit, dan tekstur tidak sehalus kualitas premium. Walau demikian, commercial grade tetap memiliki nilai karena lebih terjangkau dan praktis digunakan.

Dalam industri kuliner, commercial grade matcha banyak dipakai sebagai campuran untuk kue, roti, es krim, atau minuman siap saji. Rasanya yang lebih kuat justru cocok sebagai bahan tambahan, karena tidak hilang meski dicampur dengan gula, susu, atau bahan lain yang dominan. Harga yang lebih rendah juga membuatnya ekonomis, terutama bagi pelaku usaha kecil menengah yang ingin menghadirkan nuansa matcha dalam produk mereka tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi.
Meskipun kualitasnya tidak sehalus ceremonial grade, commercial grade tetap memiliki kandungan nutrisi berupa antioksidan, kafein, dan L-theanine, meski dalam kadar yang lebih rendah. Dengan pemanfaatan yang tepat, commercial grade matcha bisa menjadi pilihan praktis untuk kebutuhan sehari-hari maupun komersial. Perbedaan ini menjadikannya sebagai alternatif bagi mereka yang mengutamakan kuantitas dan efisiensi, bukan pengalaman minum matcha yang mendekati tradisi Jepang.
Rasio Matcha dan Air yang Enak Berapa?
Rasio antara bubuk matcha dan air menjadi fondasi penting dalam menghasilkan rasa matcha latte yang seimbang. Standar umum yang digunakan adalah 3 gram bubuk matcha dengan 30 ml air hangat, atau kurang lebih perbandingan 1 : 10. Dengan takaran ini, bubuk matcha dapat larut dengan sempurna tanpa terlalu encer maupun terlalu pekat, sehingga menghasilkan konsistensi lembut dan rasa khas yang harmonis.

Rasio ini dapat dijadikan acuan dasar bagi pemula, namun tetap fleksibel untuk disesuaikan dengan preferensi. Bagi yang menyukai rasa lebih kuat dan intens, bubuk matcha bisa ditambah hingga 4 gram. Sebaliknya, untuk mereka yang menginginkan minuman ringan dan segar, jumlah bubuk bisa dikurangi menjadi 2 gram saja. Penyesuaian ini memungkinkan setiap orang menciptakan pengalaman matcha latte yang sesuai selera pribadi.
Menggunakan alat takar khusus, seperti sendok bambu chasaku atau timbangan digital, membantu menjaga konsistensi rasa setiap kali membuat matcha. Dengan demikian, hasil akhir tidak berubah-ubah meskipun dibuat berulang kali. Pemahaman rasio ini juga penting saat ingin menambahkan susu, karena akan menentukan apakah matcha latte terasa creamy, ringan, atau justru terlalu dominan oleh rasa teh hijau.
Suhu Air yang Digunakan Optimalnya Berapa?
Suhu air merupakan faktor penting yang sering diabaikan saat membuat matcha latte. Jika air terlalu panas—mencapai titik didih 100 derajat Celsius—senyawa penting dalam matcha dapat rusak, menghasilkan rasa pahit dan aroma yang kurang menyenangkan. Suhu ideal untuk melarutkan matcha adalah 70–80 derajat Celsius, cukup hangat untuk melarutkan bubuk sekaligus menjaga keseimbangan rasa dan nutrisi.

Kelebihan menggunakan suhu air yang tepat adalah kandungan EGCG (epigallocatechin gallate) dalam matcha tetap terjaga. Senyawa ini merupakan antioksidan utama yang bermanfaat untuk kesehatan jantung, metabolisme, dan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, asam amino L-theanine juga lebih stabil pada suhu ini, sehingga efek menenangkan dari matcha tetap bisa dirasakan.
Bagi yang tidak memiliki termometer dapur, ada cara praktis untuk mendapatkan suhu yang tepat. Air yang baru mendidih bisa didiamkan selama dua menit sebelum digunakan, sehingga suhunya turun ke kisaran yang sesuai. Perhatian kecil pada detail suhu ini dapat membuat perbedaan besar pada rasa akhir matcha latte, menjadikannya lebih lembut, tidak pahit, dan kaya manfaat.
Mengayak Bubuk Matcha dilakukan untuk apa?
Mengayak bubuk matcha sebelum dilarutkan adalah langkah kecil yang sering dianggap sepele, namun memiliki pengaruh besar pada kualitas akhir minuman. Bubuk matcha cenderung mudah menggumpal karena sifatnya yang sangat halus dan mudah menyerap kelembapan. Dengan mengayak menggunakan saringan halus, bubuk menjadi lebih ringan, rata, dan bebas dari gumpalan.

Proses pengayakan ini membantu matcha larut lebih baik saat dicampur dengan air hangat. Hasilnya, tekstur minuman lebih halus, konsistensi rasa terjaga, dan permukaan matcha latte tampak lebih rapi. Selain itu, matcha yang sudah diayak juga lebih mudah dikocok menggunakan chasen, sehingga busa lembut terbentuk dengan cepat dan merata.
Selain memberi hasil teknis yang baik, mengayak bubuk matcha juga mencerminkan perhatian terhadap detail—sesuatu yang sangat dijunjung dalam budaya teh Jepang. Dengan membiasakan langkah ini, pengalaman membuat matcha latte terasa lebih otentik, sekaligus memastikan setiap tegukan lebih nikmat dan konsisten.
Teknik Adukan Whisk / Chasen, Benarkah Pengaruhi Hasil Akhir?
Penggunaan chasen, whisk bambu tradisional Jepang, adalah kunci untuk melarutkan matcha secara sempurna. Teknik pengadukan yang benar dilakukan dengan gerakan cepat membentuk pola M atau W, bukan memutar melingkar seperti mengaduk kopi. Gerakan ini membantu memasukkan udara ke dalam campuran sehingga terbentuk busa halus yang menjadi ciri khas matcha.

Namun, sekadar menghasilkan busa saja belum cukup. Untuk membuat foam benar-benar lembut dan creamy, dilakukan teknik menekan buih dengan chasen setelah adukan awal selesai. Dengan tekanan halus ini, gelembung besar pecah menjadi buih mikro yang rata, menghasilkan permukaan yang lebih halus dan tekstur lembut saat diminum. Teknik ini menjadikan matcha latte buatan rumah terasa setara dengan kualitas kafe.
Bagi yang tidak memiliki chasen, masih ada alternatif seperti milk frother elektrik atau shaker. Meski hasil busa mungkin tidak setipis metode tradisional, rasa matcha tetap bisa dinikmati. Namun, bagi pecinta teh sejati, penggunaan chasen tidak hanya soal teknik, melainkan juga pengalaman budaya—menghubungkan setiap cangkir matcha dengan tradisi panjang Jepang yang penuh ketelitian.
Kesimpulannya, racikan resep matcha yang nikmat bermula dari pemahaman utuh mengenai beda green tea dan matcha dan kecermatan memilih bahan ceremonial vs culinary.



