LAWAN PRANCIS HINGGA HONGKONG: WAWANCARA PESERTA TOURNAMENT COFFEE - Majalah Otten Coffee
Bukan perkara mudah berada di titik persaingan internasional, ada banyak tantangan yang harus dilalui oleh barista Indonesia, Andika Pratama, sebagai perwakilan Indonesia untuk World AeroPress Championship 2022. Berikut wawancara kami dengan peserta tournament coffee tersebut.
SAYA paham sekali bagaimana perjuangan Andika Pratama memenangkan tiket IAC2022. Ia tinggal di Batam dan harus berangkat ke Medan untuk kompetisi regional, kemudian dilanjutkan berangkat ke Jakarta untuk kompetisi nasional.
Memang disayangkan, tapi kita harus berpuas diri, Andika Pratama sudah berjuang semaksimal mungkin dan melakukan yang terbaik di kompetisi World AeroPress Championship 2022. Pemenang hari ini adalah mereka yang lahir dari akumulasi tekad setelah kekalahan. Tahun 2023 World AeroPress Championship nanti jelas akan menanti Andika Pratama dan pecinta AeroPress lain untuk bertanding.
Yuk, baca wawancara kami dengan Andika Pratama selama 3 hari mengikuti World AeroPress Championship di Vancouver – Kanada. Semoga bisa termotivasi dan terinspirasi!
Rangkaian selama 3 hari; hari pertama adalah kelas workshop terkait industri kopi, hari kedua kompetisi WAC2022 digelar, dan hari ketiga adalah fun activity bertajuk bar take-over.
Pengalaman hari pertama mendarat di Kanada!
Saat sampai di Kanada sebenarnya masih ada 1 hari untuk istirahat, tapi saya penasaran dengan veneu WAC berlangsung nantinya, karena jaraknya sangat dekat dengan hotel. Saya membeli alat AeroPress sendiri di Kanada dibantu dengan Jeremiah, pemenang Canada Aeropress Champ 2022. Saya membeli lagi karena AeroPress ketinggalan dan jaga-jaga jika tidak disediakan panitia karena mereka menyarankan untuk membawa AeroPress sendiri.
Seperti apa kelas workshop/sharing session selama WAC berlangsung?
Kegiatan WAC2022 hari pertama adalah workshop/sharing session dan juga praktik. Workshop ini dihadiri oleh figur di industri kopi seperti Benjamin Put, Michael Phillips, Wendelien (Aeropress Champ 2019), dan lainnya. Mereka berbagi pengalaman yang telah mereka lalui selama di industri kopi, seperti value dari mengikuti kompetisi dan peran penting tim dalam mengikuti kompetisi, dan banyak lagi.
Banyak yang bisa diambil dari sesi workshop tersebut, seperti untuk menantang diri kita sendiri untuk memberikan yang terbaik.
Once you are involved in the competition and put yourself to the test against the best of the best, it makes you understand that there is always so much you can improve. If you don’t make mistakes, you have no experience. You might win, but you won’t have experience, and experience is at the core of a true world champion, kurang lebih seperti itu yang dibahas.
Apa saja yang kamu lakukan selama ulik biji kopi untuk kompetisi?
Setelah workshop, kami lanjut ke praktik. Biji kopinya dari cafeimport yaitu colombia finca juan martin dengan proses pasca panen wash process, dan disangrai dengan sangat baik oleh Quetly Coffee. Biji kopi ini enak untuk dibawakan resep jenis apa pun. Waktu latihan justru habis karena bingung untuk menentukan mau bawa resep kopi yang seperti apa.
Hampir semua resep kopi yang dicoba memberikan hasil yang menarik menurut saya. Sempat ditanggapi oleh juri, ada Ply Pasarj, Mike dan Wendelien yang mencoba kopi buatan saya. Semuanya bilang kopi saya menarik dan silakan maju dengan percaya diri.
Karena saat latihan, waktunya tidak banyak, saya hanya bermain di variabel suhu dan grind size. Tidak terlalu ubah banyak variabel, nanti takutnya bingung sendiri dan malah tidak dapat resep kopinya.
Bagaimana suasana kompetisi WAC?
Hari kedua ketika kompetisi, waktu cepat sekali berlalu. Dari tiga hari kegiatan, hanya setengah hari yang digunakan untuk kompetisi. Benar kabarnya kata kebanyakan orang kompetisi AeroPress memang dibuat semenyenangkan mungkin. Saya hanya sampai di Preliminary Finals, yang kalau menang dari sini lanjut ke semifinal.
Putaran pertama saya melawan pemenang dari Hongkong dan Yunani, dan hasilnya menang saya lanjut ke putaran berikutnya dan bertemu pemenang dari Denmark dan Prancis. Di situ, saya kalah skor 2-1 dan dimenangkan perwakilan Prancis, Pierre de Chanterac yang merupakan juara Brewers Cup France.

Kompetisi berlangsung begitu cepat. Saya pun tidak sempat untuk minta tanggapan dari hasil kopi yang saya buat. Semua orang tampak sibuk mempersiapkan putaran selanjutnya, belum lagi biji kopi mendadak diganti dan semuanya sibuk untuk mencoba biji kopi yang diganti tersebut. Saya pun disibukkan dengan mengisi brew bar untuk penonton di venue.
Seperti apa kegiatan cafe takeover setelah kompetisi?
Ketika registrasi melalui email WAC, ada pertanyaan kesediaan untuk cafe takeover dan saya bersedia. Sebelum mulai mengisi cafe menjadi barista tamu, saya menyempatkan untuk datang ke tempat cafe takeover peserta lain yang memang jaraknya berdekatan seperti Pallet, Prototype, & Matchstick. Saya ditempatkan di Timbertrain bersama peserta perwakilan Hongkong, Laos dan Australia. Senang bisa melakukan cafe takeover di Timbertrain apalagi bersama juara WAC22 “jibbi the littles” asal Australia.
Selama melakukan cafe takeover, orang yang datang ke Timbertrain sangat antusias dan banyak bertanya resep kopi apa yang saya gunakan.
Timbertrain sangat hangat sambutannya, saya dan tim sempat mengobrol dengan salah satu ownernya dan dia kaget ketika mengetahui saya dan tim dari Sregcoffee baru berumur 2 tahun di industri kopi specialty tapi sudah bisa bersaing di World AeroPress. Setelah semua kegiatan cafe takeover selesai, kami datang ke after party di the American, salah satu bar yang ada di sana. Tidak semua peserta hadir. Saya pun tidak bisa berlama-lama mengikuti kegiatan after party karena esoknya penerbangan pagi.
Sebagai penutup, harapan untuk Indonesia AeroPress Championship 2023 semoga peminatnya semakin banyak lagi dari tahun ini dan siapa pun yang menang di IAC23 dapat membawa pulang trophy World AeroPress Champion 2023 ke Indonesia. Kalau saya diberi kesempatan untuk berkompetisi lagi, kenapa tidak? Pasti akan ada banyak pembelajaran lagi nantinya. We will see.


