Tren Ramadhan 2026: Kopi Campur Buah yang Lagi Naik Daun - Majalah Otten Coffee
Ramadhan selalu menjadi momen eksperimen rasa dalam dunia kuliner. Dari kolak klasik, es buah, hingga minuman kekinian, bulan puasa sering kali melahirkan tren baru yang kemudian bertahan jauh setelah Lebaran usai. Di tahun Ramadhan 2026, satu tren minuman yang mencuri perhatian adalah kopi campur buah perpaduan espresso atau kopi dingin dengan rasa segar dari buah-buahan tropis.

Jika dulu kopi identik dengan rasa pahit dan berat, kini kopi hadir dengan wajah baru: lebih ringan, menyegarkan, dan ramah untuk berbuka puasa. Tren ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan hasil pergeseran selera konsumen, gaya hidup sehat, dan eksplorasi kreatif barista serta pelaku UMKM minuman di Indonesia.
Mengapa Kopi Campur Buah Populer di Ramadhan 2026
Ada beberapa faktor kuat yang membuat kopi campur buah naik daun khususnya saat Ramadhan.
Pertama adalah kebutuhan minuman segar saat berbuka. Setelah seharian berpuasa, tubuh membutuhkan cairan yang menyegarkan dan tidak terlalu berat. Kopi panas dengan susu kental manis mulai ditinggalkan, digantikan oleh minuman dingin berbasis espresso, cold brew, atau kopi hitam ringan yang dikombinasikan dengan buah.
Kedua, perubahan cara orang menikmati kopi. Di 2026, kopi tidak lagi selalu diminum pagi hari. Banyak orang menjadikan kopi sebagai bagian dari gaya hidup sosial saat sore atau malam, termasuk saat ngabuburit atau setelah tarawih. Kopi campur buah menawarkan rasa yang “aman” untuk jam-jam tersebut.
Ketiga, pengaruh tren global. Coffee mocktail, fruit-infused coffee, dan cold espresso drinks sudah lebih dulu populer di Jepang, Korea, dan Australia. Di Indonesia, tren ini menemukan momentumnya saat Ramadhan karena cocok dengan iklim tropis dan tradisi minum dingin saat berbuka.

Dari Coffee Mocktail ke Menu Andalan Ramadhan
Awalnya, kopi campur buah hadir sebagai menu eksperimental di kedai kopi spesialti. Biasanya hanya dibuat dalam jumlah terbatas, disajikan sebagai signature drink atau menu musiman. Namun di Ramadhan 2026, minuman ini naik kelas menjadi menu utama berbuka puasa.
Perbedaannya terletak pada pendekatan rasa. Jika coffee mocktail fokus pada kompleksitas dan teknik, versi Ramadhan lebih menekankan:
- Rasa segar dan mudah diterima
- Kadar kopi yang lebih ringan
- Kombinasi manis-asam alami dari buah
- Tampilan visual yang menggugah saat azan maghrib
Hasilnya adalah minuman yang tetap “kopi”, tapi terasa seperti es buah versi dewasa.
Jenis Kopi Campur Buah yang Paling Diminati
1. Espresso Lemon & Citrus Blend
Kombinasi espresso dengan lemon, jeruk sunkist, atau yuzu menjadi favorit utama. Rasa asam citrus membantu menyegarkan mulut setelah puasa, sementara espresso memberi sentuhan pahit ringan yang bersih.
Biasanya disajikan sebagai:
- Iced espresso + citrus juice
- Espresso tonic dengan garnish jeruk
- Lemon coffee tanpa gula berlebih
Minuman ini populer karena tidak bikin enek dan terasa “ringan”.
2. Kopi Semangka & Melon
Buah dengan kadar air tinggi seperti semangka dan melon menjadi pilihan aman untuk berbuka. Dipadukan dengan cold brew atau kopi hitam ringan, hasilnya adalah minuman yang sangat segar dan tidak agresif di lambung.
Tren ini banyak ditemukan di:
- Booth minuman Ramadhan
- Kedai kopi neighborhood
- Pop-up stall dekat masjid dan area ngabuburit
3. Kopi Nanas & Tropikal Blend
Nanas, markisa, dan mangga mulai banyak digunakan sebagai puree atau juice base. Rasa tropikal yang kuat membuat kopi terasa lebih playful dan cocok untuk konsumen muda.
Biasanya dipadukan dengan:
- Cold brew low acidity
- Espresso dengan takaran lebih kecil
- Sedikit soda untuk efek sparkling
4. Kopi Kurma & Buah Kering
Ramadhan tidak lengkap tanpa kurma. Di 2026, kurma tidak hanya dimakan langsung, tapi diolah menjadi:
- Kurma syrup
- Kurma cold brew
- Espresso kurma tanpa gula tambahan
Kopi kurma menjadi pilihan bagi mereka yang ingin tetap tradisional tapi modern, sekaligus lebih ramah untuk lambung saat berbuka.
Kenapa Kopi Campur Buah Cocok untuk Berbuka Puasa
Secara fisiologis dan psikologis, kopi campur buah punya beberapa keunggulan:
- Lebih mudah diterima tubuh dibanding kopi susu berat
- Menghidrasi, terutama jika berbasis buah segar
- Gula alami dari buah mengurangi kebutuhan gula tambahan
- Kafein lebih rendah karena takaran kopi biasanya ringan
Banyak pelaku F&B juga menyiasati ini dengan menggunakan decaf espresso atau cold brew dengan ekstraksi ringan agar tetap aman diminum saat berbuka.

Peran Media Sosial dalam Mendorong Tren
Tidak bisa dipungkiri, Instagram dan TikTok berperan besar dalam popularitas kopi campur buah. Warna minuman yang cerah, lapisan buah dan kopi yang kontras, serta garnish segar membuat minuman ini sangat “kamera-friendly”.
Konten yang paling sering muncul:
- Video penuangan espresso ke juice buah
- Close-up es batu transparan
- ASMR minuman berbuka
- POV “buka puasa pertama dengan kopi buah”
Tren ini membuat kopi campur buah bukan hanya minuman, tapi pengalaman visual dan emosional.
Peluang Besar untuk UMKM & Kedai Kopi
Bagi pelaku usaha, kopi campur buah adalah menu yang relatif low cost, high margin:
- Bahan mudah didapat
- Tidak perlu mesin mahal
- Bisa dijual dari booth kecil
- Cocok untuk take away
Banyak UMKM Ramadhan 2026 menjadikan kopi buah sebagai menu pembeda di antara es teh dan es buah konvensional.
Apakah Tren Ini Akan Bertahan Setelah Ramadhan?
Kemungkinan besar, ya meski dengan adaptasi. Setelah Ramadhan, kopi campur buah akan bergeser menjadi:
- Menu seasonal
- Signature drink kedai kopi
- Minuman siang hari atau cuaca panas
Seperti es kopi susu yang dulu musiman lalu menjadi staple, kopi campur buah punya potensi bertahan karena menjawab kebutuhan konsumen modern: segar, ringan, dan tidak membosankan.
Penutup: Kopi yang Berubah Mengikuti Zaman
Tren Ramadhan 2026 menunjukkan satu hal penting: kopi terus beradaptasi. Dari minuman pahit untuk begadang, kini kopi hadir sebagai minuman berbuka yang menyegarkan dan inklusif.
Kopi campur buah bukan sekadar tren musiman, tapi refleksi dari cara baru kita menikmati kopi lebih santai, lebih sehat, dan lebih kontekstual dengan momen. Di bulan puasa, kopi tidak lagi datang untuk “membangunkan”, tapi untuk menemani berbuka dengan cara yang lebih lembut
