Tren Minum Kopi: Pergeseran dari Kopi Manis ke Kopi Lebih Sehat - Majalah Otten Coffee
Dulu, bagi sebagian orang, menikmati kopi berarti menikmati perpaduan espresso, susu, gula aren, dan krimer dengan rasa manis yang dominan. Kopi susu menjadi bagian dari rutinitas harian, teman bekerja, sekaligus produk andalan banyak coffee shop modern. Namun, perlahan muncul pendekatan lain dalam menikmati kopi: mengurangi gula, memilih rasa yang lebih ringan, dan mulai memperhatikan apa yang sebenarnya masuk ke dalam gelas.

Perubahan ini menarik untuk diamati. Di satu sisi, kopi susu manis masih memiliki tempat kuat dalam industri kedai kopi. Di sisi lain, kopi hitam, americano, cold brew tanpa pemanis, serta latte dengan gula lebih sedikit menawarkan alternatif bagi konsumen yang ingin mengendalikan asupan gula.
Apakah ini berarti konsumen mulai meninggalkan kopi manis demi kopi yang lebih sehat?
Belum tentu. Tanpa data penjualan yang representatif, kita tidak bisa menyimpulkan bahwa seluruh pasar kopi sedang beralih ke minuman tanpa gula. Namun, penelitian nutrisi terbaru menunjukkan bahwa kandungan gula dan lemak tambahan layak menjadi perhatian, terutama bagi mereka yang rutin minum kopi setiap hari.
Pergeseran yang lebih relevan bukanlah dari kopi susu ke kopi hitam semata, melainkan dari kebiasaan minum kopi tanpa banyak pertimbangan menuju pilihan yang lebih sadar terhadap komposisi minuman.
Bagi industri coffee shop, perubahan perspektif ini membuka peluang untuk menghadirkan menu yang tetap nikmat, tetapi memberi pelanggan kendali lebih besar atas tingkat kemanisan dan bahan tambahan.

1. Mengapa kopi manis menjadi bagian dari budaya ngopi modern?
Untuk memahami perubahan ini, kita perlu melihat bagaimana kopi berkembang menjadi produk konsumsi sehari-hari.
Kopi hitam tradisional memiliki karakter rasa yang cukup beragam, mulai dari pahit, asam, nutty, hingga floral. Namun, bagi konsumen yang belum terbiasa menikmati karakter tersebut, penambahan susu dan gula dapat membuat kopi terasa lebih mudah diterima.
Dalam perkembangan industri ready-to-drink dan coffee shop modern, kombinasi espresso, susu, sirup, serta gula aren juga menawarkan banyak kemungkinan rasa. Produk seperti es kopi susu menjadi mudah dinikmati, praktis dibawa, dan sesuai dengan kebiasaan konsumen yang mencari minuman sekaligus teman beraktivitas.
Di Indonesia, kopi susu gula aren berkembang sebagai salah satu kategori yang dikenal luas di industri kedai kopi modern. Meski begitu, tidak tepat menganggap semua konsumen memilih kopi berdasarkan tingkat kemanisan saja. Harga, lokasi, kenyamanan, konsistensi rasa, dan kebiasaan sosial juga berperan.

Rasa manis bukan masalah dengan sendirinya. Persoalannya muncul ketika gula tambahan dalam minuman menjadi bagian besar dari asupan harian, terlebih jika konsumen juga mengonsumsi teh manis, minuman kemasan, dessert, dan makanan tinggi gula.
Dengan semakin besarnya perhatian terhadap pola makan dan kesehatan metabolik, komposisi minuman menjadi salah satu aspek yang patut dievaluasi.
2. Apa kata riset terbaru tentang kopi dan gula tambahan?
Penelitian ilmiah memberikan alasan untuk membedakan antara manfaat kopi sebagai minuman dan dampak bahan tambahan yang digunakan dalam penyajiannya.
Sebuah studi prospektif yang diterbitkan dalam The Journal of Nutrition pada Juli 2025 meneliti hubungan konsumsi kopi, gula tambahan, lemak jenuh, dan risiko kematian pada 46.222 orang dewasa di Amerika Serikat. Peneliti menggunakan data survei kesehatan nasional yang dihubungkan dengan catatan kematian, dengan masa tindak lanjut median sekitar 9,3–11,3 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi kopi berkaitan dengan risiko kematian dari semua penyebab yang lebih rendah pada beberapa kelompok konsumsi. Namun, hubungan tersebut terutama terlihat pada kopi hitam dan kopi dengan kandungan gula tambahan serta lemak jenuh yang rendah.

Temuan ini bukan bukti bahwa menambahkan gula langsung menyebabkan seseorang mengalami penyakit atau bahwa kopi hitam otomatis membuat seseorang lebih sehat. Studi tersebut bersifat observasional, sehingga tidak dapat memastikan hubungan sebab-akibat.
Meski demikian, penelitian ini memperkuat alasan untuk memperhatikan komposisi kopi, bukan hanya jumlah cangkir yang diminum.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam The American Journal of Clinical Nutrition pada Maret 2025 menganalisis data tiga kohort prospektif besar di Amerika Serikat untuk mengkaji konsumsi kopi, bahan tambahan, dan risiko diabetes tipe 2. Studi tersebut secara khusus meneliti apakah gula, pemanis buatan, krim, dan krimer non-susu memengaruhi hubungan antara kebiasaan minum kopi dan risiko diabetes.
Kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembahasan tentang kopi dan kesehatan perlu lebih spesifik. Kopi hitam, kopi dengan sedikit gula, dan minuman kopi dengan banyak gula serta lemak tambahan tidak memiliki komposisi nutrisi yang sama.

Bagi konsumen, implikasinya sederhana: jika kopi merupakan bagian dari rutinitas sehari-hari, mengurangi gula tambahan bisa menjadi langkah praktis untuk memperbaiki kualitas pola konsumsi secara keseluruhan.
3. Mengurangi gula bukan berarti harus berhenti menikmati kopi susu
Salah satu kesalahpahaman dalam pembicaraan tentang minuman sehat adalah anggapan bahwa kopi hitam selalu menjadi satu-satunya pilihan yang tepat. Padahal, kebutuhan dan preferensi setiap orang berbeda.
Kopi susu tetap bisa menjadi bagian dari pola makan yang seimbang. Hal yang perlu diperhatikan adalah jumlah gula tambahan, ukuran sajian, jenis susu, dan seberapa sering minuman tersebut dikonsumsi.
Misalnya, pelanggan yang terbiasa memesan kopi susu dengan gula aren penuh dapat mulai meminta setengah takaran sirup. Setelah terbiasa dengan rasa yang lebih ringan, ia bisa mencoba mengurangi lagi sesuai selera.
Pendekatan bertahap ini sering kali lebih realistis daripada langsung memaksakan diri menikmati kopi hitam tanpa gula, terutama bagi orang yang sejak awal menyukai minuman manis.

Penting pula untuk membedakan gula tambahan dengan gula alami yang terdapat dalam susu. Susu mengandung laktosa, sedangkan sirup gula aren, gula pasir, dan madu yang ditambahkan ke dalam minuman merupakan sumber gula bebas menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Karena itu, latte tanpa sirup tambahan tidak selalu bebas gula, tetapi kandungan gula tambahannya bisa jauh lebih rendah daripada versi yang menggunakan beberapa takaran sirup.
Tujuannya bukan membuat semua minuman terasa hambar. Tujuannya adalah menemukan tingkat kemanisan yang sesuai dengan selera tanpa harus menambahkan gula secara berlebihan.
4. Mengapa kopi hitam dan minuman rendah gula mulai menarik perhatian?
Kopi hitam memiliki satu keunggulan nutrisi yang sederhana: jika tidak ditambahkan gula, susu, atau bahan lain, kandungan kalorinya relatif rendah.
Minuman seperti americano, espresso, dan cold brew tanpa pemanis memungkinkan konsumen menikmati kopi dengan tambahan energi yang minimal. Sementara itu, latte tanpa sirup tetap menawarkan tekstur lembut dari susu, meskipun kandungan kalorinya bergantung pada jenis dan jumlah susu yang digunakan.

Ada pula alasan sensoris. Mengurangi gula dapat membantu sebagian orang lebih memperhatikan karakter alami kopi, termasuk aroma cokelat, kacang, karamel, buah, dan tingkat keasaman yang muncul dari biji serta proses sangrai.
Bagi penikmat specialty coffee, pengalaman tersebut bukan hal baru. Dalam dunia kopi spesialti, rasa manis yang berasal dari karakter biji dan hasil ekstraksi sudah lama menjadi bagian dari evaluasi kualitas minuman.
Namun, perlu dicatat bahwa popularitas specialty coffee tidak otomatis membuktikan terjadinya pergeseran massal menuju kopi tanpa gula. Untuk menyatakan adanya perubahan perilaku konsumen secara nasional, diperlukan data penjualan, survei konsumen, atau riset pasar yang representatif.
Yang dapat dikatakan dengan lebih pasti adalah bahwa kopi rendah gula menyediakan pilihan bagi konsumen yang ingin mengontrol asupan gula tanpa harus meninggalkan kebiasaan ngopi.
5. Batas konsumsi gula yang perlu diketahui
WHO merekomendasikan agar konsumsi gula bebas pada orang dewasa dan anak-anak dibatasi hingga kurang dari 10% total asupan energi harian. Pengurangan hingga di bawah 5% dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Sebagai ilustrasi, untuk pola makan sebesar 2.000 kalori per hari, batas 10% setara dengan sekitar 50 gram gula bebas, sedangkan 5% setara dengan sekitar 25 gram.
Angka tersebut mencakup gula bebas dari seluruh makanan dan minuman sepanjang hari, bukan hanya kopi. Jadi, pelanggan yang memesan dua gelas kopi susu manis, minum teh manis, dan mengonsumsi dessert perlu mempertimbangkan total asupannya.
Perlu diingat pula bahwa gula aren, madu, dan sirup bukan otomatis pilihan yang lebih sehat hanya karena berasal dari bahan yang terdengar alami. Dalam konteks rekomendasi WHO, gula yang ditambahkan dalam bentuk-bentuk tersebut tetap termasuk gula bebas.
Untuk coffee shop, informasi mengenai tingkat kemanisan dapat membantu pelanggan mengambil keputusan yang lebih sadar. Pilihan seperti tanpa sirup, setengah manis, dan tingkat manis reguler bisa menjadi langkah awal yang mudah diterapkan.

6. Bagaimana coffee shop merespons pergeseran ini?
Perubahan preferensi konsumen, jika terlihat pada data pelanggan masing-masing kedai, dapat menjadi peluang untuk mengembangkan menu tanpa meninggalkan produk andalan.
Ada beberapa strategi yang dapat dipertimbangkan.
Pertama, menyediakan pilihan tingkat kemanisan. Pelanggan dapat memilih takaran gula reguler, setengah, atau tanpa tambahan pemanis. Cara ini relatif mudah diterapkan pada minuman yang menggunakan sirup.
Kedua, mengembangkan menu berbasis rasa alami kopi. Espresso, americano, dan cold brew dapat diperkenalkan melalui deskripsi rasa yang mudah dipahami, bukan hanya istilah teknis seperti acidity, body, atau aftertaste.
Ketiga, mengevaluasi resep minuman susu. Jika resep menggunakan beberapa komponen pemanis, barista dapat menguji apakah takaran gula bisa dikurangi tanpa menghilangkan karakter rasa yang membuat produk tersebut disukai.

Keempat, tidak menjadikan klaim kesehatan sebagai gimmick. Kopi tanpa gula dapat disebut sebagai pilihan tanpa gula tambahan jika memang resepnya sesuai. Namun, hindari klaim bahwa sebuah minuman dapat menurunkan berat badan, mencegah diabetes, atau menyembuhkan penyakit tanpa bukti yang memadai.
Kelima, menggunakan data penjualan. Catat berapa banyak pelanggan yang memilih tingkat kemanisan berbeda, produk mana yang dibeli ulang, serta bagaimana perubahan resep memengaruhi biaya dan margin.
Strategi tersebut memungkinkan coffee shop merespons kebutuhan pelanggan tanpa harus berasumsi bahwa seluruh pasar menginginkan kopi pahit atau tanpa susu.
7. Apakah kopi yang lebih sehat akan menjadi tren jangka panjang?
Peluang kopi rendah gula untuk bertahan tidak hanya bergantung pada kesadaran kesehatan, tetapi juga pada rasa, harga, kenyamanan, dan kebiasaan konsumen.
Tinjauan komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal GeroScience pada 2024 merangkum bukti dari penelitian observasional dan intervensi mengenai konsumsi kopi dan kesehatan kardiometabolik. Kajian tersebut menunjukkan bahwa hubungan kopi dengan kesehatan perlu dipahami berdasarkan pola konsumsi dan konteks individu, bukan melalui anggapan bahwa semua produk kopi memberikan dampak yang sama.

Artinya, masa depan kopi rendah gula tidak harus ditandai dengan hilangnya kopi susu gula aren dari menu. Pasar justru dapat berkembang menjadi lebih beragam: kopi manis untuk pelanggan yang menyukainya, kopi susu dengan gula lebih sedikit, dan kopi hitam untuk mereka yang ingin menikmati karakter biji secara lebih langsung.
Bagi coffee shop, pendekatan ini lebih realistis daripada mengubah seluruh menu demi mengikuti satu narasi kesehatan. Pada akhirnya, inovasi yang bertahan biasanya bukan sekadar mengikuti tren, tetapi memberikan pilihan yang relevan bagi pelanggan.
Masa depan ngopi mungkin bukan tentang menghilangkan gula, melainkan mengendalikan pilihan
Pergeseran dari kopi manis menuju kopi yang lebih rendah gula menarik untuk diamati karena mempertemukan dua hal yang semakin penting dalam industri minuman: pengalaman rasa dan kesadaran terhadap komposisi nutrisi.
Riset terbaru memberikan alasan untuk memperhatikan gula dan lemak tambahan dalam minuman kopi. Namun, bukti yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh konsumen Indonesia sedang meninggalkan kopi manis.

Bagi penikmat kopi, langkah sederhana seperti meminta setengah gula, memilih latte tanpa sirup tambahan, atau sesekali menikmati americano tanpa pemanis dapat menjadi awal perubahan kebiasaan.
Bagi pelaku coffee shop, peluangnya terletak pada kemampuan menyediakan pilihan yang beragam tanpa mengorbankan rasa dan identitas brand.
Sebab, menikmati kopi tidak harus selalu berarti memilih antara rasa enak dan pola konsumsi yang lebih sadar. Dengan resep yang tepat, keduanya bisa berjalan beriringan.
