Tips Agar Kopi Tidak Terlalu Asam saat Diseduh - Majalah Otten Coffee
Bagi sebagian penikmat kopi, rasa asam merupakan karakter yang menyenangkan. Sensasi seperti jeruk, apel, atau buah beri dapat membuat secangkir kopi terasa segar dan kompleks. Namun, bagi mereka yang lebih menyukai rasa cokelat, karamel, dan kacang-kacangan, kopi yang terlalu asam bisa terasa kurang nyaman di lidah.

Kabar baiknya, ada sejumlah cara untuk mengurangi kesan asam pada kopi tanpa harus menghilangkan karakter alaminya. Mulai dari memilih biji kopi, mengatur ukuran gilingan, menentukan suhu air, hingga memperbaiki teknik penyeduhan, setiap faktor memiliki peran dalam menghasilkan rasa kopi yang lebih seimbang.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Food Chemistry pada 2024 menunjukkan bahwa metode penyeduhan dapat memengaruhi komposisi kimia dan karakter keasaman kopi. Artinya, rasa kopi tidak hanya ditentukan oleh jenis biji, tetapi juga oleh cara kita mengekstraksinya.
Lantas, bagaimana cara menyeduh kopi agar tidak terlalu asam? Berikut panduan praktis berdasarkan prinsip ekstraksi kopi dan penelitian terkait.
1. Pilih Biji Kopi dengan Tingkat Sangrai Medium
Salah satu cara paling sederhana untuk mengurangi rasa asam pada kopi adalah memilih biji dengan tingkat sangrai atau roast level yang sesuai.
Kopi sangrai ringan (light roast) umumnya memiliki karakter buah dan keasaman yang lebih menonjol. Sebaliknya, kopi sangrai medium hingga medium-dark cenderung menghadirkan rasa cokelat, karamel, kacang-kacangan, dan karakter yang lebih bulat.

Jika kamu tidak terlalu menyukai kopi asam, pilih biji kopi dengan profil sangrai medium sebagai titik awal. Tingkat sangrai ini dapat memberikan keseimbangan antara keasaman, kemanisan, dan kepahitan.
Perhatikan pula deskripsi rasa pada kemasan kopi. Biji dengan catatan rasa cokelat susu, gula merah, hazelnut, atau karamel bisa menjadi pilihan yang menarik.
Meski demikian, tingkat sangrai bukan satu-satunya penentu rasa. Varietas, ketinggian tempat tumbuh, proses pascapanen, dan profil sangrai turut memengaruhi karakter kopi.
2. Atur Ukuran Gilingan Kopi
Ukuran gilingan atau grind size merupakan faktor penting dalam proses ekstraksi kopi. Ukuran partikel menentukan seberapa cepat air melarutkan senyawa dari bubuk kopi.
Gilingan yang terlalu kasar dapat membuat air melewati kopi dengan cepat sehingga ekstraksi tidak berlangsung optimal. Akibatnya, kopi berpotensi terasa asam, tipis, dan kurang manis.
Jika kopi yang kamu seduh terasa terlalu asam, cobalah menggiling biji sedikit lebih halus. Lakukan perubahan secara bertahap sambil memperhatikan waktu seduh dan hasil rasanya.
Ukuran gilingan juga harus disesuaikan dengan metode penyeduhan. Untuk V60, gunakan gilingan medium hingga medium-fine sebagai titik awal. French press lebih cocok menggunakan gilingan kasar, sedangkan espresso membutuhkan gilingan halus.

Hindari menggiling kopi terlalu halus tanpa mempertimbangkan metode seduh. Gilingan yang terlalu halus dapat menghambat aliran air dan menghasilkan rasa pahit atau sepat jika ekstraksi menjadi tidak seimbang.
3. Gunakan Suhu Air yang Tepat
Suhu air berpengaruh terhadap kecepatan ekstraksi senyawa dari bubuk kopi. Secara umum, air yang lebih panas membantu meningkatkan ekstraksi, terutama pada kopi sangrai ringan yang relatif sulit diekstraksi.
Jika kopi terasa terlalu asam dan kurang manis, cobalah menaikkan suhu air beberapa derajat.
Sebagai panduan awal, kopi sangrai ringan dapat diseduh menggunakan air bersuhu 92–96 derajat Celsius. Untuk sangrai medium, kamu bisa mencoba 90–94 derajat Celsius. Sementara itu, kopi sangrai medium-dark dapat dicoba pada kisaran 85–92 derajat Celsius.
Angka tersebut bukan aturan mutlak. Hasil terbaik bergantung pada jenis biji, ukuran gilingan, metode seduh, dan preferensi rasa.
Jangan langsung mengubah suhu secara drastis. Jika sebelumnya menggunakan air bersuhu 88 derajat Celsius, misalnya, cobalah 92 derajat Celsius terlebih dahulu. Kemudian, bandingkan hasilnya.

4. Perhatikan Rasio Kopi dan Air
Rasio seduh merupakan perbandingan berat kopi dengan jumlah air yang digunakan. Rasio yang tepat membantu menghasilkan minuman dengan konsentrasi dan karakter rasa yang sesuai.
Sebagai titik awal, kamu dapat menggunakan rasio 1:16. Artinya, setiap satu gram kopi diseduh dengan 16 gram air.
Untuk menyeduh 15 gram kopi, misalnya, gunakan sekitar 240 gram air. Timbangan digital akan membantu menjaga konsistensi hasil seduhan.
Jika kopi terasa terlalu pekat dan asamnya sangat dominan, kamu bisa mencoba rasio 1:17. Namun, perlu diingat bahwa menambahkan air hanya mengurangi konsentrasi minuman. Cara tersebut tidak otomatis memperbaiki ekstraksi yang kurang optimal.
Karena itu, evaluasi juga ukuran gilingan dan suhu air sebelum memutuskan mengubah rasio seduh.
5. Lakukan Blooming dengan Benar
Dalam metode pour-over, proses blooming dilakukan dengan menuangkan sedikit air ke bubuk kopi sebelum melanjutkan penyeduhan.
Tahap ini membantu membasahi bubuk kopi dan melepaskan gas yang masih tertahan setelah proses penyangraian. Pembasahan yang merata juga membantu air berkontak dengan bubuk kopi secara lebih konsisten.

Untuk 15 gram kopi, gunakan sekitar 40–45 gram air pada tahap awal. Diamkan selama 30–45 detik, kemudian lanjutkan menuangkan air secara bertahap hingga mencapai berat yang diinginkan.
Pastikan seluruh bubuk kopi terkena air. Hindari menuangkan air hanya pada satu titik karena sebagian bubuk kopi mungkin tidak terekstraksi secara merata.
Meski demikian, blooming yang lebih lama tidak selalu menghasilkan kopi yang lebih manis. Tahap ini merupakan salah satu bagian dari proses penyeduhan yang perlu disesuaikan dengan kondisi biji dan resep.
6. Perbaiki Teknik Pouring
Teknik menuangkan air atau pouring turut memengaruhi konsistensi ekstraksi, khususnya pada metode V60 dan alat seduh sejenis.
Tuangkan air secara perlahan dan merata dengan gerakan melingkar. Usahakan seluruh permukaan bubuk kopi terbasahi tanpa terlalu sering menuangkan air langsung ke dinding kertas filter.
Aliran air yang terlalu deras dapat mengganggu kestabilan bubuk kopi. Sebaliknya, menuangkan air secara tidak merata berpotensi menyebabkan sebagian kopi terekstraksi lebih banyak daripada bagian lainnya.

Jika hasil seduhan terasa asam, tipis, dan kurang manis, periksa kembali teknik pouring yang digunakan. Kamu juga bisa mencoba resep dengan dua atau tiga tahap penuangan untuk mengetahui metode yang paling cocok dengan biji kopimu.
7. Pilih Metode Seduh yang Sesuai
Metode penyeduhan dapat menghasilkan karakter kopi yang berbeda, bahkan ketika menggunakan biji yang sama.
French press, misalnya, menggunakan metode perendaman. Kopi berkontak dengan air selama beberapa menit sehingga menghasilkan minuman dengan karakter yang dapat terasa lebih penuh. Gunakan gilingan kasar dan waktu seduh sekitar empat menit sebagai titik awal.
Sementara itu, cold brew menggunakan air dingin atau bersuhu rendah selama proses perendaman. Dalam kondisi penelitian tertentu, cold brew menghasilkan tingkat keasaman tertitrasi yang lebih rendah daripada seduhan panas. Namun, hasilnya tetap dipengaruhi jenis biji, rasio, dan lama perendaman.
Jika kamu tidak menyukai kopi dengan sensasi asam yang tajam, kedua metode ini layak dicoba. Namun, jangan menganggap semua kopi French press atau cold brew pasti lebih rendah keasamannya. Profil biji tetap memegang peranan penting.

8. Bedakan Keasaman Alami dan Under-Extraction
Tidak semua rasa asam pada kopi merupakan kesalahan penyeduhan. Dalam dunia specialty coffee, keasaman merupakan salah satu karakter penting yang dapat memberikan kompleksitas rasa.
Kopi dengan karakter jeruk, apel, atau buah beri dapat memiliki keasaman alami yang menyegarkan. Karakter tersebut berbeda dari rasa asam yang tajam, menyerupai buah mentah, dan tidak diimbangi kemanisan.
Kopi yang mengalami under-extraction atau ekstraksi kurang optimal sering kali terasa asam, tipis, dan kurang berkembang. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan menggiling kopi sedikit lebih halus, menaikkan suhu air, atau memperbaiki distribusi air.
Namun, jika kopi sudah terasa manis dan seimbang tetapi masih memiliki karakter jeruk yang kuat, kemungkinan besar rasa tersebut memang berasal dari profil bijinya.

Penelitian terkait kopi juga menunjukkan bahwa pH tidak selalu menggambarkan secara sempurna seberapa asam kopi terasa di lidah. Komposisi asam, konsentrasi minuman, dan persepsi sensoris turut berpengaruh.
Karena itu, jangan hanya mengandalkan angka atau resep. Cicipi kopi ketika suhunya mulai turun dan perhatikan keseimbangan rasa, kemanisan, aroma, serta sensasi akhirnya.
Resep V60 agar Kopi Tidak Terlalu Asam
Jika ingin mulai bereksperimen di rumah, gunakan resep sederhana berikut:
- Biji kopi: 15 gram, sangrai medium.
- Air: 240 gram.
- Suhu air: 92–94 derajat Celsius.
- Ukuran gilingan: medium.
- Waktu seduh: sekitar 2 menit 30 detik hingga 3 menit 30 detik.
Basahi kertas filter, masukkan bubuk kopi, kemudian tuangkan 40–45 gram air untuk blooming selama 30–45 detik. Lanjutkan penuangan secara perlahan hingga mencapai 240 gram air.
Setelah selesai, biarkan kopi sedikit mendingin sebelum mencicipinya. Perubahan suhu dapat membuat karakter manis, asam, dan pahit lebih mudah dikenali.

Jika hasilnya masih terlalu asam, ubah satu parameter terlebih dahulu. Cobalah menggiling kopi sedikit lebih halus sebelum mengubah suhu atau rasio. Dengan cara ini, kamu dapat memahami faktor yang paling memengaruhi hasil seduhan.
Kenali Biji Kopinya dan Proses Ekstraksi
Tips agar kopi tidak terlalu asam saat diseduh dimulai dari pemilihan biji dan pengendalian proses ekstraksi. Memilih sangrai medium, menyesuaikan ukuran gilingan, menggunakan suhu air yang tepat, serta menjaga rasio kopi dan air dapat membantu menghasilkan rasa yang lebih seimbang.
Jangan terburu-buru mengganti biji kopi jika hasil seduhan terasa terlalu asam. Evaluasi terlebih dahulu teknik penyeduhan dan ubah parameter secara bertahap.
Pada akhirnya, kopi yang nikmat tidak harus sepenuhnya bebas dari rasa asam. Tujuan utama penyeduhan adalah menghasilkan keseimbangan antara keasaman, kemanisan, kepahitan, aroma, dan body sesuai selera.
