TIDAK ADA KOPI DI OLIMPIADE RIO - Majalah Otten Coffee
Kejuaraan olahraga Internasional paling bergengsi yang diadakan di negara penghasil kopi terbesar di dunia.
OLIMPIADE musim panas di Rio de Jeneiro sudah berlangsung hampir seminggu, meskipun sejujurnya suasananya tidak lagi semeriah seperti yang saya rasakan waktu SD dulu. (Dulu kalau ingin menonton siaran penuh Olimpiade bisa langsung buka televisi dan menikmatinya saat itu juga. Sekarang, hm, entahlah. Mungkin saya saja yang sudah jarang nonton tivi).
Yang menarik dari Olimpiade kali ini adalah pertandingan olahraga empat tahunan terbesar di dunia itu diadakan di Brazil, Negara penghasil kopi nomor satu di planet bumi. Tapi ironisnya justru tidak ada kopi yang didapati di kampung atlet di sana.
Seorang atlet panahan dari Mesir, beberapa hari sebelum event ini dimulai, berkicau bahwa ia tidak menemui produk kopi apapun di kampung atlet. Meskipun alasan yang muncul kemudian agak beraroma persaingan bisnis—Coca Cola adalah salah satu sponsor resmi Olimpiade 2016 dan katanya perusahaan itu membatasi hanya produk minuman mereka saja yang “boleh” beredar di sana– tapi sebenarnya ada fakta yang lebih menarik di balik kenapa tidak ada kopi di kampung atlet di Rio.
Di kebanyakan kasus skandal doping, substansi yang digunakan oleh atlet adalah hal yang biasanya menjadi sorotan. Kafein, seperti yang sudah terbukti secara ilmiah, bisa berfungsi sebagai ergogenic acid. Penjelasan sederhananya, ini adalah substansi yang bisa meningkatkan kecepatan dan stamina. Makanya orang yang habis minum kopi atau mengkonsumsi kafein biasanya bisa bekerja lebih semangat, tho?
Nah karena manfaat yang bisa diberikannya ini, para pengurus resmi Olimpiade telah membatasi penggunaan kafein sejak tahun 1984, ketika pertandingan global ini diadakan di Los Angeles. Sejak itu sampai tahun 2004, para atlet terancam bisa dikeluarkan dari kompetisi jika hasil tes urin mereka menemukan ada kandungan kafein lebih dari 12 microgram per milliliter.
Tapi karena perbedaan efek kafein pada setiap atlet tidak sama, peraturan ini pun sudah tidak dianggap seketat dulu lagi. Terutama setelah sains yang terus berevolusi menemukan bahwa kafein dan kopi sudah termasuk ‘konsumsi sehari-hari’. Ini jugalah sebabnya mengapa organisasi World Anti-Doping Agency (WADA) menyingkirkan kafein dari daftar substansi yang mereka larang meski daftar ini tetap direviu setiap tahun untuk selalu mengawasi perkembangannya.
Di luar fakta bahwa apakah para pengurus resmi Olimpiade memang sengaja tidak memasukkan kopi ke daftar menu di kampung atlet di Rio, atau perusahaan minuman cola dunia itu memang tidak mau ada produk lain apapun di sana (walaupun perwakilan dari Coca Cola sudah membantah bahwa mereka telah “memboikot” kopi selama Olimpiade berlangsung), tapi tampaknya para atlet itu memang harus benar-benar bertanding dengan jujur tanpa bantuan pelecut energi apapun. Kan biar sesuai dengan motto semangat olahraga, “fair play”. :p
Salam kopi!


