TENTANG HOLISTIC BRANDING: APA SAJA YANG PERLU DIPERHATIKAN SEBELUM MEMBUKA KEDAI KOPI? - Majalah Otten Coffee
Hal-hal dasar tapi tergolong penting untuk menentukan akan seperti apa kedai kopi itu nanti.
HOLISTIC branding adalah mencitrakan sebuah brand secara keseluruhan. Karena di sini kita berbicara tentang kedai kopi dan bisnisnya, maka holistic branding di sini mengacu kepada impresi, kesan, citra kedai kopi yang akan dilihat calon pelanggan di masa depan. Untuk membuat sebuah kedai kopi menjadi berhasil, maka orang yang ingin membuka kedai itu harus mengerti dan paham dulu, apa-apa saja yang mungkin dibutuhkan agar membuat pelanggan menjadi puas. Karena bukan rahasia, kalau pelanggannya puas, maka mereka juga pasti akan senang. Kalau mereka senang, hampir dipastikan mereka akan balik lagi. Dan mungkin akan mengajak teman-temannya yang lain lagi untuk mengunjungi kedai kopi itu.
Untuk menciptakan hal menyenangkan seperti ini, yang pertama kali perlu dikerjakan adalah dengan mulai membentuk citra kedai kopi yang akan dibuka nanti secara spesifik. Dalam Bahasa Inggris, istilah ini sering disebut dengan Specific Brand Image. Citra kedai kopi tidak datang secara otomatis dan tiba-tiba. Ada beberapa proses sensorik yang harus terjadi dulu, kemudian pelanggan akan menangkap kesan yang memang diciptakan oleh kedai kopi itu, lalu menarik kesimpulan. ‘Oh kedai kopinya begini, kedai kopinya asyik, dan seterusnya’.
Tampilan dan suasana secara keseluruhan, keadaan emosional para pegawai dan barista yang bekerja di dalamnya, konsep menu, dan seluruh konten yang ada dalam kedai akan memengaruhi semua pengalaman sensorik tamu yang bisa berpotensi menjadi pelanggan. Dan pengalaman sensorik ini tentunya diciptakan dan berhubungan dengan kelima indera utama yang ada pada manusia—yaitu tamu kedai kopi.
Oke, ini mungkin akan terkesan sedikit psikologis, tapi bukankah semua kepuasan dan hal-hal yang menyenangkan itu memang bermula dari kondisi psikologi manusia? Berikut adalah lima konsep yang perlu dipikirkan sebelum membuka kedai kopi.
Tampilan visual: desain dan suasana kedai secara keseluruhan
Orang seringkali terkesan pertama kali karena melihat. Apa yang dilihat lalu turun ke hati, baru ke kantong. Haha… Sense of sight, alias indera penglihatan ini seringkali mengesampingkan indera lainnya dan memiliki ‘kekuatan’ untuk memengaruhi keputusan seseorang. Dalam konteks ini, jika sebuah kedai kopi memiliki tampilan (baik desain interior dan eksterior) yang keren umumnya tamu yang datang akan menjadi lebih tergoda untuk mengeksplorasi isi kedai itu lebih lagi. Dari eksplorasi, umumnya berkembang kepada pengalaman ingin mencoba. Jadi jangan pernah sepele terhadap fungsi seni dan keindahan di dalam kedai, itu adalah penarik utama ketika seorang tamu pertama kali melangkahkan kaki masuk ke kedai.
Jika tidak punya budget berlebih untuk menyewa jasa seorang desainer interior, kalian bisa mencari sebanyaknya referensi tentang psikologi ruang. Warna apa yang bisa menimbulkan kesan hangat dan akrab, lampu temaram bagaimana yang bisa memberikan suasana tenang namun senang, dan seterusnya. Di jaman internet begini sumber dan informasi sudah bertebaran dimana-mana. Tinggal inisiatif sendiri saja mencarinya darimana.

Penciuman: bau dan aroma kedai
Jika namanya kedai kopi maka aroma yang tercium ketika pertama kali masuk ke dalam sejatinya haruslah aroma kopi. Bukan aroma pasta, spaghetti atau pengharum ruangan. Secara teknis, ada sel-sel reseptor yang berada di dalam bagian hidung. Sel-sel ini akan mengirimkan informasi kimiawi yang lalu berubah menjadi sinyal-sinyal elektrik untuk menangkap bau. Bau yang menyenangkan, dalam hal ini aroma kopi, akan memberi kesan hangat dan akrab. Seperti lazimnya warung kopi yang membaurkan segala kalangan, kedai kopi yang tercium seperti kopi, bukan restoran atau rumah makan, biasanya akan langsung mendekatkan tamu dengan kedai kopi itu sendiri.
Aroma kopi umumnya akan tercium lebih kuat jika di dalam kedai tersebut terdapat mesin roasting—tak perlu besar, yang penting ada. Biji kopi yang tersangrai membuat aroma kopi menguar lebih kukuh dan menghinggapi seluruh isi ruangan. Selain menjadi mesin aromaterapi gratis, keberadaan mesin roasting sebetulnya juga akan menjadi semacam pengukuhan bahwa kedai kopi itu bukan hanya sebuah kedai kopi, tapi juga kedai specialty.
Pendengaran: musik dan lagu yang diputar di dalam kedai
Tidak lucu kalau kedai kopi yang seharusnya memberi ketenangan jiwa justru memutarkan lagu-lagu bernuansa rock dan heavy metal berisik yang mengguncangkan jiwa. Lol. (Btw, saya tidak memiliki tendensi apa-apa terhadap penggemar musik rock). Kedai kopi, biasanya, sering dijadikan sebagai tempat untuk hang out, berkumpul dengan teman, nongkrong atau bahkan untuk membicarakan bisnis. Dalam situasi seperti ini, musik bisa menjadi pelumas untuk melancarkan segala perbincangan. Secara psikologis, musik juga bisa membuat seseorang menjadi lebih rileks dan kalem. Apalagi dibarengi sambil minum kopi.
Bukan hanya baik untuk pengunjung, musik juga bisa membantu meningkatkan kinerja dari karyawan yang bekerja di kedai kopi. Sudah banyak penelitian yang menemukan bahwa mendengarkan musik bisa membuat seseorang merasa lebih baik dan juga meningkatkan mood. Karena itu, termasuk penting juga untuk memilih jenis musik apa yang akan diputarkan dalam kedaimu dari pagi sampai malam. Kebanyakan kedai-kedai kopi biasanya memiliki playlist(s) khusus berisi lagu-lagu indie yang berirama santai. Lagu-lagu bergenre folk, bossa nova atau jazz biasanya adalah pilihan yang mengisi rata-rata playlist di banyak kedai kopi.
Sentuhan: aksesoris dan ornamen pelengkap
Hal ini seringkali tidak disadari namun justru menjadi salah satu faktor penting yang bisa meningkatan pengalaman sensorik dari tamu. Bukankah cappuccino akan terasa lebih nikmat ketika kita menyesapnya dari cangkir porselen atau keramik? Tidakkah Coca Cola terasa lebih segar ketika diminum dari gelas kaca ketimbang gelas plastik? Hal-hal kecil seperti ini tampaknya memang remeh dan seringkali ‘terlewatkan’ oleh mereka yang ingin membuka bisnis kedai kopi—karena sering dianggap kurang penting pula. Tapi justru hal kecil seperti inilah yang menjadi pemantik rasa takjub seseorang lalu mengembangkannya menjadi kagum, lalu suka. —Kedai-kedai kopi artisan biasanya banyak menggunakan cangkir-cangkir hasil kerajinan seniman lokal yang mereka pesan sendiri. Membuat mereka semakin unik dan berciri.
Perasa: citarasa, flavor secara menyeluruh
Dan pada akhirnya, semua kesimpulan akan pengalaman sensorik ini akan berujung dan ditentukan oleh rasa. Kopi-kopi yang disajikan, menu-menu yang dihadirkan, apakah semuanya telah sebaik ekspekstasi dan tampilan yang dibawakan sejak awal tadi? Istilahnya, sense of taste merupakan eksekusi terakhir untuk menyempurnakan semua unsur yang ada dalam kedai kopi. Maka pastikan rasa dan kualitas, baik menu-menu kopi maupun camilan pendamping, yang ada dalam kedai kopi semuanya memiliki citarasa terbaik. Juga, adalah penting untuk menjaga konsistensi rasa dan kualitas yang disajikan dalam kedai sepanjang waktu.

Sebagai pelengkap kesemuanya itu adalah layanan dan keramahan para staff dan barista yang bekerja dalam kedai. Karena percuma semua terlihat sempurna kalau tamu tak merasa nyaman berada di dalamnya. Secara psikologis, pelanggan akan lebih menyukai barista dan staff yang ramah dan murah senyum ketimbang mereka yang ‘berlagak sok keren’ lalu memasang tampang swag sepanjang hari. Karena kedai kopi yang baik sejatinya bukan hanya menawarkan komoditi tapi juga memberikan pengalaman tak terlupakan bagi pelanggannya. Itulah yang membuat tamu pada akhirnya akan seringkali datang, lagi dan lagi.
Selamat membuka kedai kopi! 🙂


