SEDUH KOPI SENDIRI ADALAH PANGKAL KAYA - Majalah Otten Coffee
Banyak berita yang akhir-akhir ini membuat saya tersedak salah satunya adalah berita soal Ibu Menteri Sri Mulyani yang meminta milenial mengurangi jajan kopi.
JIKA kopi dikambinghitamkan atas nama keborosan maka sedikit banyak saya ikut tersinggung. Bayangkan minuman yang kita candu ini dijadikan masalah bahkan oleh ibu menteri. Meski setelah digali lebih dalam mungkin memang ada benarnya. Milenial yang tidak memikirkan masa depan (dalam hal ini adalah perihal dana pensiun) gemar berboros ria ke kedai kopi (meski tidak 100% juga) tanpa menabung.
Minum kopi di kedai kopi memang tak murah. Rata-rata secangkir kopi dibandrol 20 ribuan hingga 40 ribuan tergantung jenis kopi dan beda menunya. Jika ritual ngopi di kedai kopi sehari sekali, maka sebulan menjadi? Ya, hitunglah sendiri.
Mungkin jika budget ngopi-ngopi ditabung mungkin lebih bermanfaat. Padahal tak banyak yang tahu bahwa kita tak melulu ngopi di kedai kopi. Banyak dari kita yang melakukan gerakan “seduh sendiri, pangkal kaya”. Sudah jelas seduh sendiri di rumah jauhhhhh lebih hemat ketimbang ngopi di kedai kopi meski kita tak mendapatkan suasana menyenangkan dan nikmat kopi dari sang barista yang menenangkan.
Saya sendiri jujur tidak mampu jika harus ngopi di kedai kopi setiap hari. Apalagi saya ngopi dua kali sehari. Namun, seduh sendiri memang dinilai sangat hemat. Untuk secangkir kopi saya menggunakan 12 gram kopi. Katakan saya hanya ngopi sekali sehari. 12 gram dikali 30 hari sama dengan 360 gram. 200 gram kopi single origin Gayo berkisar 65 ribu. Untuk sebulan saya tak lebih dari 100 ribu untuk ritual ngopi. Coba bandingkan dengan ngopi di kedai kopi? Beda jauh!
Meski begitu seduh kopi sendiri ini membutuhkan modal juga. Ketel, penetes kopi, timbangan. Tidak mudah juga meski bisa jadi investasi jangka panjang. Gerakan “seduh kopi sendiri pangkal kaya” ini sama sekali tidak menentang ngopi di kedai kopi. Kita semua butuh kedai kopi sebagai gravitasi tempat bahagia tumpah, tempat keseruan pulang dengan suka cita. Tapi lagi-lagi agar Bu Sri Mulyani tidak salah kaprah mari pintar-pintar menikmati kopi dengan sedikit perhitungan.
Ngomong-ngomong bagaimana cara kamu agar tetap ngopi enak dengan cara lebih hemat?

