Secangkir Harapan: Writing Competition 2023 - Majalah Otten Coffee
“Awas ada lembu!” seru Pak Ahsan di kursi depan, dengan sigap sang pengemudi mengurangi laju mobil dan membiarkan segerombolan lembu menyeberang. Sudah hampir 5 jam kami berada di dalam mobil double cabin yang tengah melaju membelah hutan Sumatra. Ada dua mobil lagi yang berjalan beriringan di belakang kami. Tujuan dari perjalanan ini adalah sebuah desa di daerah perbukitan Sumatra. Profesi utama masyarakatnya adalah berkebun, terutama perkebunan kopi. Berdasarkan cerita yang kudengar dari Pak Hasan selaku pemerintah yang bertugas di daerah itu, desa tersebut belum terjamah teknologi dan perekonomian mereka berada dibawah rata-rata.

Sudah hampir dua tahun aku dan tim melakukan kegiatan semacam ini, menjelajah mencari perkebunan kopi potensial, kemudian memasarkan hasil perkebunannya melalui perusahaan kami. Masih kecil memang, tapi bukankah semua usaha raksasa dimulai dari kecil-kecilan terlebih dahulu?
Siapa sangka, aku yang sewaktu di perguruan tinggi, membayangkan diriku di usia sekarang akan menjadi seorang wanita kantoran yang berangkat dengan pakaian rapi ke kantor, lengkap dengan laptop di tangan, sambil sibuk berbicara dengan seseorang di telepon tentang strategi untuk meningkatkan omzet perusahaan di periode selanjutnya. Terdengar sukses dan sangat sempurna. Tapi siapa yang bisa menerka masa depan?
Seperti itu juga aku yang kini berada di dalam mobil menuju perkebunan kopi di salah satu desa terisolir di pulau Sumatra ini. Keputusanku 2 tahun yang lalu untuk memenuhi ajakan seorang rekan untuk memulai bisnis kopi akhirnya mengubah banyak sekali jalan hidupku. Pilihan cukup gila untuk aku yang bahkan minum kopi susu gula aren barang dua atau tiga teguk saja bisa tremor seharian. Tapi keputusan itulah yang akhirnya mengantarkan ku pada banyak episode yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Seperti hari ini, setelah kurang lebih 7 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di desa tujuan, tepat saat matahari pagi muncul di antara perbukitan. Pemandangan langka yang tidak akan pernah aku dapatkan di ibukota. Kami menuju salah satu rumah warga yang juga pemuka adat di desa ini.
Setelah berbincang dan beramah-tamah kami langsung menuju area perkebunan. Kami juga di temani dua orang ibu yang juga petani kopi di desa ini. Beliau adalah Ibu Asni dan Ibu Minah. Ibu Asni merupakan perempuan paruh baya dengan perawakan cukup tinggi dan sedikit kurus. Beliau adalah seorang orang tua tunggal yang membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Sedangkan Ibu Minah adalah seorang lansia sebatang kara yang masih harus bekerja hingga usia senjanya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Selama perjalanan menuju kebun, mereka berdua berkisah betapa beratnya bertahan hidup dari hasil perkebunan kopi. Mereka harus bersabar menunggu lama hingga musim panen tiba. Tapi bagian terberatnya bukan itu. Kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda terutama sandang, pangan dan papan memaksa mereka harus berutang kepada para rentenir dengan bunga pinjaman berkali lipat dan menjanjikan hasil perkebunan sebagai jaminan.
Ketika musim panen tiba, maka para rentenir akan mengambil bagian dari hasil perkebunan peminjam. Petani akan jadi pihak yang paling menyedihkan. Para rentenir tersebut akan mengambil alih semua hasil panen, kemudian memberikan harga yang jauh lebih rendah dari harga pasar, akhirnya yang tersisa untuk petani hanya sekedar bekal untuk melanjutkan kehidupan untuk beberapa pekan ke depan. Miris memang membandingkan harga satu kilogram kopi disini bahkan lebih murah dari harga kopi susu yang biasa ku beli di gerai kopi Ibukota.
Setelah beberapa menit berjalan cukup jauh, lengkap dengan medan yang menanjak, akhirnya kami sampai di lokasi perkebunan. Kami mengambil beberapa gambar dan memberikan beberapa pengarahan tentang standarisasi perkebunan kopi. Kemudian pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanan ke titik perkebunan selanjutnya.
Aku menjabat tangan Ibu Minah mengucapkan terima kasih dan berpesan supaya beliau menjaga kesehatannya. Kemudian Ibu Asni, awalnya dengan ragu-ragu beliau merangkul tubuhku namun ketika aku balas merangkul, tubuhnya bergetar, tidak ada kata yang keluar dari mulut beliau, tapi getaran tubuh beliau bercerita banyak tentang kehidupan mereka yang mengalami kesulitan tiada henti. Mereka yang tidak berani bermimpi tinggi karena selalu hantui oleh bayang-bayang kesulitan ekonomi. Mereka yang masih sulit untuk sekedar mewujudkan cita-cita untuk sejahtera di tengah naik daunnya minuman kopi di ibukota.
Setelah puas berpamitan, mobil kembali melaju untuk melanjutkan perjalanan. Aku masih merasakan getaran kesedihan Ibu Asni dengan jelas, tanpa sadar butiran hangat mengalir di pipiku. Tapi ini berbeda dengan milik Ibu Asni, ini bukan bulir kesedihan. Ini adalah bulir yang meyakinkanku bahwa aku sudah memilih jalan yang tepat meskipun berbeda dengan apa yang pernah aku bayangkan sebelumnya. Bulir ini juga yang akan menyirami tekadku untuk berjuang lebih keras lagi di medan tempur yang saat ini kupilih, agar ketika aku berkunjung ke desa itu lagi, aku bisa melihat pancaran kebahagiaan dari mata Ibu Asni.
[Artikel Nominasi Kopi Fest Indonesia Writing Competition 2023]
Gambar utama ilustrasi dari Otten.

