SAAT PENGADILAN PINDAH KE KEDAI KOPI - Majalah Otten Coffee
Jika secangkir kopi bergeser maknanya dari minuman yang membuat bahagia menjadi arena tempat kebenaran diaduh maka yang menjadi terdakwa lagi-lagi adalah sang barista.
ARTIKEL ini ditulis tanpa menyinggung siapapun. Hanya sepotong daging yang selama ini tersangkut di gigi. Membuat risih jika tidak dikeluarkan. Seorang teman datang dengan wajah lesu. Perihalnya hanya karena seorang peminum kopi datang ke kedai kopi tempat dia bekerja dan menghakimi secangkir kopi yang dia seduh. Kawan, menjadi barista haruslah bermental baja meski menjadi peminum kopi tak harus selalu menjadi hakim.
Merebaknya keseruan kita perihal kopi dan embel-embelnya membuat pengetahuan soal kopi tak habis-habis digali. Setiap hari ditemukan cara baru untuk mendapatkan rasa kopi paling enak. Setiap hari ditemukan level sangrai, suhu yang tepat, formula air yang pas, agitasi seduh, level gilingan, waktu seduh dan istilah-istilah kopi yang membuat telinga awam sakit.

Mencintai kopi itu baik dan menemukan resep kopi terbaik sesuai lidah pun lebih baik lagi. Yang kurang elok adalah jika mengubah konsep kedai kopi yang menjadi tempat kepulangan banyak orang menjadi pengadilan nan mencekam. Orang-orang datang layaknya hakim dan jaksa. Menghakimi barista dengan secangkir kopi yang tak berdosa. Padahal kopi harusnya jadi media diskusi bukan ranah ‘kelahi’ untuk mendapatkan keputusan si anu benar, si inu salah.
Saya sendiri pun sering tidak puas pada hasil seduhan sang barista. Alih-alih marah-marah saya lebih suka bertanya atau berdiskusi. Seduhan dari barista di kedai kopi tak melulu kesalahan barista. Kamu mungkin tidak tahu bahwa setiap kedai kopi memiliki SOP sendiri. Yang kamu terima mungkin tidak cocok bagi lidahmu tapi belum tentu tidak cocok bagi 10 lidah orang lain, bukan? Jika sudah begini pantaskah kedai kopi kita jadikan pengadilan yang mengerikan?

Meski begitu barista tak melulu 100% benar. Tak jarang kita menemui barista-barista yang jagoan yang anti-kritik. Seperti layaknya pemimpin otoriter maka segala yang mereka sajikan bersifat mutlak tak dapat diganggu-gugat. Jika sudah begini maka pelanggan kopi yang jadi terdakwanya. Segala macam yang dipesan di coffee bar serta merta dihakimi di balik bar sana.
Padahal tanpa peminum kopi, kedai kopi adalah kesunyian fana. Kehilangan nyawa karena tak ada ‘napas’ dan geliat kehidupan yang memberi ruh pada kedainya. Pengadilan itu mengerikan, maka jangan jadikan kedai kopi ranah penghakiman. Baik peminum maupun penyeduh selayaknyalah dua orang yang saling mengasihi. Dalam kasih kesalahan bisa dimaafkan, diperbaiki lalu dinikmati kembali dalam bentuk yang lebih syahdu.
Jadi barista jika suatu hari aku menghakimimu tolong ingatkan. Karena menikmati kopi dengan baik pun membutuhkan kesadaran agar tak hilang segala makna yang satu: saling membahagiakan!
Sudah ngopi hari ini?

