Rumah Kopi Cantel Progo: Writing Competition 2023 - Majalah Otten Coffee
Oranye adalah warna yang vibrant, menyala, membangkitkan energi. Di kalangan pegiat interior, oranye seringkali digunakan untuk ruangan di mana orang akan berkreasi. Tak salah rasanya kalau oranye menjadi warna utama interior dan eksterior kafe yang buka sejak jam 7 pagi ini. Semangat langsung menyelimuti saat saya memasuki ruangan dan disambut dengan sapaan ramah para waiter.

Area tempat kasir dan barista langsung berada di area lobby, tepat di depan pintu masuk. Saya memutar kepala ke kiri kanan, memilih-milih tempat untuk menikmati kopi pagi itu. Kafe yang terletak di ujung timur Jalan Progo ini memiliki area indoor, outdoor dan dua ruang meeting di atas. Akhirnya saya memilih duduk di dalam bangunan, tak jauh dari kasir, karena baterei laptop saya yang sudah minim.
Walaupun area indoor-nya tersekat-sekat karena bangunan ini sejatinya adalah rumah, ruangan-ruangan di sini tidak sempit dan cukup nyaman untuk ngobrol, bekerja, atau nugas. Di beberapa ruangan terdapat cermin yang memberikan efek luas. Dan walaupun memilih untuk duduk di dalam ruangan, jendela-jendela yang terbuka memastikan lancarnya sirkulasi udara. Sementara untuk kamu yang ingin merokok, bisa memilih area outdoor di sayap sebelah barat atau di belakang bangunan.
Di sini kita bisa memilih-milih menu dengan nyaman, tak harus menunggu waiter mendatangi, dan tak pula harus berdiri kebingungan di depan kasir. Dengan memindai barcode di meja, berbagai pilihan sudah terpampang di telepon genggam. Untung juga bisa memilih sambil duduk santai, karena ternyata saya menghabiskan waktu agak lama untuk menyelami menu
yang beragam dan kreatif. Misalnya untuk minuman kopi, selain es kopi susu, long black, latte dan caramel macchiato, ada strawberry latte yang membuat saya penasaran. Bagaimana jadinya kopi arabica dipadukan dengan susu strawberry? Sementara untuk non-kopi, ada es teh dengan kelopak mawar dan vanila, dan bisa juga ditambah susu kalau mau. Juga ada minuman yang rasanya seperti permen masa kecil saya dulu, Sugus milk cream, yang rasanya mirip permen Sugus bungkus oranye. Ih, lucu amat!
Kebingungan berlanjut ketika menentukan pilihan makanan. Ada berbagai pilihan bakmi yang sepertinya enak semua: pakai beef meltique, nashville chicken, chicken teriyaki, beef bulgogi? Selain itu, untuk porsi satu orang ada berbagai rice bowl, nasi goreng, nasi daun jeruk dan spaghetti. Dan kalau semua itu masih terasa berat, ada pilihan salad, snack dan roti bakar yang bisa dinikmati bareng-bareng. Sementara untuk dessert, ada es bubur ketan hitam diguyur santan panas. Atau mau coba croissant custard, yang custard-nya tidak berupa isian pastry berbentuk bulan sabit itu, melainkan sebagai saus creamy menggoda yang mengguyur potongan-potongan croissant.
Tak lama setelah memesan dan melakukan pembayaran di kasir, pesanan saya datang. Hari itu saya mencoba bakmi dengan ayam gochujang, yang ternyata enak banget! Potongan ayamnya banyak dan bumbunya meresap hingga ke dalam, cocok untuk saya yang tidak suka bau ayam negeri. Mie yang disajikan tidak diberi kecap manis, sehingga rasanya dominan gurih, pas dengan rasa saus gochujang yang gurih-asam-pedas.
Dengan lokasi yang strategis, tepat di pusat kota, dan tempat parkir yang terbilang luas untuk ukuran kafe, tak salah jika Rumah Kopi Cantel Progo ini begitu nyantel di hati. Selain
tentu saja, karena pilihan makanan dan minumannya yang nyantel di lidah. Yuk, pacantel di Kopi Cantel!
[Artikel Nominasi Kopi Fest Indonesia Writing Competition 2023]

