RED ESPRESSO: ESPRESSO DARI TEH - Majalah Otten Coffee
Minuman kopi yang bukan berasal dari tanaman kopi.
TUMBUHAN kopi, Coffea, yang diolah menjadi berbagai macam minuman sudah pernah saya dengar. Tapi jika espresso, menu yang cukup digemari banyak peminum kopi ini, diolah dari (daun) teh –atau tumbuhan yang bukan Coffea – sejujurnya, saya baru mendengarnya kali ini. Dan tampaknya ‘espresso’ jenis baru ini sedang populernya di beberapa negara Barat. Espresso jenis baru ini dinamanakan red espresso. Tapi apa itu tepatnya?
Apa itu red espresso?
“Kopi” jenis ini disebut red espresso karena terbuat teh—yang umumnya memang berwarna merah. Secara spefisik, red espresso terbuat dari tumbuhan rooibos (istilah saintifiknya, Aspalathus linearis), yaitu tanaman herbal/tisane yang ajaibnya hanya tumbuh di wilayah pegunungan Cederberg, di Western Cape, Afrika Selatan. Tanaman rooibos ini pun biasanya hanya tumbuh di dataran tinggi dan dipanen musiman.

Proses panennya sendiri dilakukan pada awal musim panas, daun yang berwarna hijau (terang) akan dipotong secara manual lalu dibundel ke dalam berkas-berkas gandum dan kemudian diangkut untuk dibawa turun gunung ke fasilitas pemotongan. Proses pengolahan rooibos sedikit mirip dengan pengolahan kopi. Tanaman yang sudah dipanen tadi akan diproses pada sore hari dengan memasukkannya ke dalam mesin pemotong.
Setelahnya, di keesokan pagi, potongan-potongan tanaman rooibos tersebut akan dibentangkan di atas tempat pengeringan teh, lalu disiram/dibasahi dan kemudian dijemur di bawah terik matahari musim panas—yang suhunya berkisar 40°C.
Selanjutnya adalah proses fermentasi. Begitu disiram, paparan panas yang mengenai rooibos (yang dijemur) akan menyebabkan proses fermentasi ringan. Lalu warnanya akan mulai berubah dari hijau terang menjadi merah-kecoklatan.
Yang menarik dari proses pengeringan ini, rooibos hanya akan dijemur pada saat siang hari atau terik saja. Ketika malam, rooibos akan disimpan untuk dijemur lagi di keesokan paginya sampai benar-benar kering dan berwarna merah—seperti warna teh lazimnya. Untuk membuat red espresso, rooibos yang sudah kering ini akan digiling dengan level sangat halus seperti umumnya untuk membuat espresso.

Red espresso vs. espresso
Teh itu diibaratkan seperti orang yang sedang yoga, sehingga menikmatinya pun tidak terburu-buru, dengan tenang dan menikmati sensasi rileks yang diberikannya. Sementara, espresso ibaratnya seperti orang yang mau lomba lari. Sehingga menikmatinya pun harus sesegera mungkin, dengan lecutan semangat yang akan datang bertubi-tubi. Nah red espresso ini, katanya, adalah kombinasi dari dua budaya minum yang berbeda ini. Kita bisa mendapatkan rasa menakjubkan yang biasanya didapati pada espresso, namun dengan manfaat kesehatan yang juga bisa didapatkan dari teh.
Menurut beberapa barista professional, red espresso sama sekali tidak terasa seperti espresso. Sebaliknya, minuman ini justru terasa seperti teh aromatik yang cukup kuat. Gagasan untuk memproses teh dalam tekanan tinggi sehingga menjadi konsentrat yang cukup pekat seperti espresso bagaimana pun adalah sebuah dimensi baru, yang akan memberi pengalaman yang baru pula.
Btw, rooibos yang diproses sama dengan espresso ini juga bisa membentuk crema yang cukup tebal, dan bisa dicampur dengan steamed milk juga sekiranya pemesannya ingin menikmati cappucino dan semacamnya.

Saat ini red espresso sedang menjadi tren di kota-kota besar. Tokyo dan Singapura adalah dua negara terdekat dari Indonesia yang konon juga sedang tren minuman ini.
Bagaimana dengan kalian sendiri? Tertarik mencoba red espresso? :p

