Perjalanan Rasa di Sebuah Rumah Seduh dan Sangrai Bernama Onomi: Writing Competition 2023 - Majalah Otten Coffee
Sebuah rumah bernuansa tempo dulu dengan pepohonan rindang menyambut di pintu masuk menjadi tempat pertama yang menumbuhkan kesukaanku terhadap kopi. Menyuguhkan konsep slow bar dengan meja seduh yang terbuat dari kayu bengkirai ditemani ornamen kekayuan di berbagai sudut ternyata menyimpan kisahnya sendiri. Kedai kopi sederhana dengan nama Onomi Coffee Roastery ini ternyata dijalankan oleh seorang pemuda paruh baya yang banting setir dari profesinya ketika pandemi menghantam kota Bali di tahun 2020.
Kesukaannya terhadap kopi dimulai sejak ia mempelajari latte art, perlahan namun pasti rasa penasarannya meningkat. Bagaimana caranya menyangrai biji kopi sendiri adalah pertanyaan yang ingin ia temukan jawabannya. Obrolan di rumah seduh pun bergulir, ringan dan berkesan. Mulai dari pemilihan biji kopi yang dia pilih, mayoritas berasal dari Indonesia, seperti Flores, Jawa, dan tentunya Bali. Fokusnya adalah memberikan seduhan kopi Arabika bagi tamu yang mampir, “karena kalau kopinya tidak dibeli orang, yah saya yang minum sendiri,” adalah alasan utama saat ditanya kenapa memilih biji kopi Arabika sebagai sajiannya.
Pilihan kopi berbasis espresso dan manual brew tersedia di kedai yang didominasi gradasi warna cokelat hingga kemerahan ini. Lantainya memiliki ciri khas sangat kental dengan keramik berwarna merah bata, nampak serasi dengan salah satu sisi dinding belakang yang berhiaskan partisi bolong-bolong sebagai ventilasi udara. Pijaran lampu kuning temaram dan alunan musik bernada santai menambah suasana hangat saat berada di dalam kedai. Sesekali terdengar bunyi gemerisik daun dan kicauan burung yang singgah di atap. Hiasan di setiap meja kayu menggunakan botol kaca yang diisi oleh biji kopi dan beberapa tangkai bunga kering. Di salah satu tikungan sudut sebelum masuk ke area meja seduh, terpampang mesin sangrai berwarna hitam dengan pipa silver menjulur ke area luar.
Menyangrai biji kopinya sendiri dengan mesin berkapasitas satu kilo dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan kedai kopinya saat itu, bahkan sesekali menjadi pemasok untuk tempat kopi lokal lainnya. Belajar sangrai secara otodidak ia lakoni, mengorbankan berkilo-kilo biji kopi sebagai bahan latihan sampai akhirnya mendapatkan rasa kopi yang diinginkan. “tapi tetap harus didukung juga sama gilingan dan seduhan yang tepat,” tambahnya.
Ketika ditanya kenapa nekat belajar sangrai biji kopi sendiri, ia terdiam sejenak. Lalu sambil setengah tersenyum, sang pemilik kedai menjawab, “dulu saya pernah lihat bapak saya goreng biji kopi di wajan sampai gosong, jadi niatnya mau manggangin biji kopi yang enak buat bapak.” Wah! Pasti sekarang bapaknya senang dong karena bisa menikmati kopi enak di rumah sendiri, adalah respon yang terlontar setelah mendengar kalimat barusan. “Iya, tapi sekarang bapak sudah enggak ada, yah bersyukur sempat kasih cobain kopi-kopi enak dan ternyata beliau suka, bahkan jadi sering minta diseduhin di hari-hari terakhirnya.”
Penutup obrolan tadi terasa menghangatkan hati. Sebuah rumah seduh sekaligus tempat sangrai sederhana ini ternyata menyimpan cerita penuh kenangan. Tak hanya pulang dengan rasa kopi yang tertinggal di pangkal lidah, tapi juga membawa rasa cinta untuk segera dicurahkan kepada keluarga di rumah. Hari-hari mungkin terasa panjang saat dijalani, namun ketika menilik perjalanannya ke belakang, ternyata tahun demi tahun dapat berlalu dengan sangat singkat. Siapa menduga, berawal dari iseng menyambangi kedai kopi rumahan justru bisa memberi sudut pandang berbeda tentang arti kopi dan keluarga.
[Artikel Nominasi Kopi Fest Indonesia Writing Competition 2023]

