PENGGILING KOPI TRADISIONAL DI CEBU FILIPINA - Majalah Otten Coffee
Terkadang hal-hal menarik justru sering muncul sebagai kejutan yang jauh dari rencana. Seperti perjalanan kemarin di Cebu City, Filipina yang mengantarkan kaki kami bertemu penggiling kopi tradisional.
SIANG itu Cebu City sedang panas-panasnya. Ya, meskipun panas tapi tak membuat langkah kami surut untuk menjelajah kota. Cebu City menurut saya adalah kota yang menarik dan meski carut-marut dan identik dengan Indonesia, kota ini begitu seru dan meriah. Karena kemeriahannya itu saya merasa harus mengunjungi salah satu pasar tradisional yang jauh dari pusat turis. Pasar itu bernama Pasar Tabo-An.

Pasar Tabo-An ternyata adalah tipikal pasar yang menjual bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari. Di bagian luar para penjual ikan asin dan ikan-ikan kering lainnya berjejer rapi. Aroma asin menyeruak kemana-mana. Semakin ke dalam pasar ini semakin seru. Beragam makanan dijual pun alat-alat dapur. Karena datang ke sana pada Desember, dekorasi natal pun ada di mana-mana.

Kami juga melihat warung kopi yang menjual kopi tradisional. Ada pula kopi tubruk dan kopi saring yang tentunya khas Filipina. Harus kamu ketahui bahwa kopi di Filipina biasanya datang dari Minadanao. Sebuah wilayah dataran tinggi tempat tumbuhnya kopi-kopi terbaik negeri ini. Saya sempat mencicipi kopi dari daerah ini salah satu kedai kopi di sini. Lumayan nikmat juga!

Saat hendak menyururi bagian pojok pasar, saya mencium aroma kopi yang kuat sekali. Ternyata aroma itu berasal dari salah satu kios kecil. Kios itu adalah kios penggilingan kopi. Wah kebetulan sekali! Seperti pasar di Indonesia yang juga menyediakan jasa penggilingan kopi, di sini juga ada yang seperti itu.
Pemiliknya adalah seorang bapak berusia kurang lebih 60-an yang dengan asyik menggilig kopi dengan mesin penggiling kopi tradisionalnya. Kami mengobrol dengan dia yang sayangnya tidak bisa berbahasa Inggris tapi dibantu oleh salah satu pelanggan. Katanya kiosnya ini sudah berdiri lebih dari 30 tahun. Mesin yang digunakan pun tua sekali. Cara menggunakannya pun dengan cara diputar dan dia menggunakan tongkat kayu untuk meratakan biji-biji kopi yang hendak digiling. Seru juga!

Orang-orang yang ingin menggunakan jasanya cukup membayar sekitar 10 – 20 rupiah saja perkilo. “Saya dan orang-orang di kantor sering datang ke kios bapak ini untuk menggiling kopi. Di sini salah satu tempat penggilingan kopi yang masih ada dan murah juga,” kata salah seorang pelanggan yang kamu temui di sana.
Selain menggiling kopi, bapak yang sehari-hari bekerja dengan telanjang dada ini juga menyediakan jasa penggilingan beras dan tepung-tepungan. Ada beberapa mesin penggiling di sana, dan kopilah salah satunya yang paling laris.

Di tengah kencarnya modernitas dan teknologi menghantam industri kopi di dunia, ternyata usaha mikro seperti penggiling kopi masih ada dan bertahan. Entah berapa banyak wajah kopi enak yang digiling di sini. Entah berapa banyak wajah berbahagia yang melibatkan jasa bapak ini. Mampir ke kios ini untuk saya adalah kejutan manis yang menampar. Menampar bahwa industri kopi tak hanya perkara bermewah-mewah tapi juga sederhana dan bersahaja.
Pasar Tabo-An
Cebu City, Cebu, Filipina

