NOAH’S BARN COFFFEENERY: KEDAI TEPAT MELEPAS PENAT - Majalah Otten Coffee
Seperti lumbung Nuh, kedai kopi di bagian barat kota Bandung ini memiliki suasana teduh—yang membuat segala penat luruh.
NOAH’S Barn sebetulnya bukan nama yang asing bagi penggemar kedai kopi. Kedai ini sudah ada sejak 2012 dan saat ini telah memiliki cabang keduanya di kawasan Dago yang populer. Ulasan mengenai kedai kopi ini pun bisa ditemui di beberapa situs kuliner dan jalan-jalan sehingga para barista di kedai ini tampaknya sudah menganggap orang-orang yang datang dan memotret-motret kedai mereka adalah hal yang biasa saja.
Saya datang ke Noah’s Barn yang berada di Jalan Garuda—“cabang utama”, kata seorang teman. Waktu itu menjelang siang dan kedai ini tampak sedikit lengang. Hanya ada tiga remaja perempuan yang duduk melingkar sambil bercengkerama dengan riang di meja seberang bar. Satu dari tiga barista yang terlihat sedikit sibuk—sepertinya mereka sedang memberesi peralatan sebelum kedai “benar-benar buka dan pelanggan membludak”—menyambut saya dengan senyuman ramah.


Karena sudah mendapat espresso, ditambah latte (yang dibuat juga dengan dua shot espresso) pagi tadi, saya menjatuhkan pilihan pada kopi seduh manual. Ketika itu “hanya” ada kopi-kopi Afrika antara lain single origin dari Kenya dan Ethiopia, bersama kopi-kopi Sumatera seperti Aceh Gayo dan Sumatera Utara Rasuna Natural sebagai opsi. Biji-biji kopi lokal dari Jawa Barat (yang sebetulnya adalah yang paling ingin saya cicipi) baru masuk ke roastery dan barangkali sedang dalam proses roasting pada saat saya datang. Maka satu-satunya pilihan yang terlihat eksotis saat itu adalah Kenya, tepatnya dari Kagumoini. (Saya tinggal di Medan yang sudah sangat akrab dengan kopi-kopi primadona asal Sumatera seperti Gayo, Sidikalang atau Lintong. Sementara kopi Ethiopia, ah, kebetulan saya sedang agak bosan dengan kopi ini. Haha…)
Seorang barista—Pepe, belakangan saya tahu namanya—dengan sigap kemudian menyeduh pesanan saya di bar khusus manual brew yang menghadap ke sisi belakang. Ia menggunakan 14 gram biji kopi yang akan menghasilkan sekitar 200 gram air dengan metode pour over V60.

Ngomong-ngomong, ada beberapa sertifikat berisikan penghargaan kepada Guido Mariotti, salah satu pemilik Noah’s Barn, yang cukup menarik perhatian di atas meja. Beberapa piagam berbeda hasil dari kompetisi Latte Art se-kota Bandung dipajang di sudut lain. Maka, sambil menunggu kopi selesai diseduh Pepe, sekalian saja mata saya jelalatan menjelajahi seantero kedai. Haha…



Noah’s Barn yang berada di Jalan Garuda memang tak seluas cabang keduanya di Dago, tapi menurut saya di sanalah keistimewaannya. Kedai yang tidak terlalu besar ini didesain dengan konsep “warehouse”, dengan dominasi kayu dan warna coklat yang hangat. Meja-mejanya, termasuk sebuah communal table di bagian depan, pun diatur berdekatan. Dugaan saya, barangkali memang sengaja disusun demikian agar tak ada “jarak” diantara pengunjungnya. Bukankah esensi kedai kopi seharusnya memang mengakrabkan dan mendekatkan?
Di bar utama, sebuah mesin espresso Synesso Hydra 2 grup tampil dengan bersahaja. Berbeda dengan kedai kopi kebanyakan yang umumnya memamerkan mesin espresso mereka di depan, di kedai ini, Synesso yang perkasa itu diendapkan dengan rendah hati ke bagian belakang—seolah menyatakan bahwa: “kita tidak perlu tersugesti oleh jenis mesin kopinya agar menyimpulkan bahwa kopi itu enak. Nikmati saja dulu kopi yang dibuat oleh barista. Bahwa pada akhirnya kita tahu apa jenis mesin kopinya, itu urusan belakangan”.

Bersanding dengan Synesso Hydra adalah 2 mesin penggiling kopi Anfim dan sebuah water boiler. (Tambahan water boiler terpisah memang kerap ditemui di kedai-kedai kopi yang sibuk dan memiliki traffic tinggi karena bisa membantu mesin espresso lebih awet dan tahan lama lantaran boiler mesin tidak akan terus-terusan dipakai untuk menghasilkan air panas).
Di atasnya terdapat rak-rak dimana alat-alat seduh manual dan berbagai packaging kopi yang cukup terkenal seperti Proud Mary, Blue Bottle dan Reuben Hills berjejer rapi. Berbagai packaging kopi dari luar negeri ini juga disusun berbaris di sepanjang sayap kiri kedai, sengaja dipajang menjadi semacam koleksi seperti di museum.


Kopi pesanan saya ternyata sudah siap. Sebelum disajikan, Pepe menuangkannya sedikit ke gelas kecil, mencicipinya, lalu manggut-manggut tanda puas sebelum akhirnya menuangkan seluruh isinya ke dalam gelas untuk saya. Ah! Saya terkesan. Mereka benar-benar memastikan dulu bahwa kopi yang mereka racik adalah seduhan terbaik sebelum diberikan kepada yang memesan.
Secangkir kopi Kenya Kagumoini ini terasa begitu menarik dengan ragam notes unik khas kopi Afrika, seperti peach, lime dan hints ala earl-grey. (Kopi ini ternyata sangat nikmat jika disesap saat suhunya masih hangat, karena ketika suhunya mendingin flavour-nya sudah berubah sedikit bitter). Melengkapi kopi saya adalah sepotong kue coklat yang manisnya pas dan tak berlebihan.
Ah ya, satu lagi yang istimewa dari Noah’s Barn di Jalan Garuda adalah: kedai ini hanya menyajikan kopi (dan varian minuman lainnya) bersama camilan saja. Tidak ada brunch, apalagi makanan berat ala restoran. Semakin membuktikan bahwa mereka benar-benar kedai kopi—yang semestinya adalah kedai kopi.



Barista yang ramah senyum, suasana yang menyenangkan dan harga yang bersahabat (di kantong) adalah kombinasi tepat yang membuat tempat ini satu lagi kedai kopi favorit saya. Seperti namanya, lumbung Nuh, tempat yang nyaman ini seolah mampu meruntuhkan segala penat.
Noah’s Barn Coffeenery
Jl. M.U. Nurtanio (Garuda) no. 39
Bandung
Jam buka: Setiap hari, 09.00 – 22.00
Rekomendasi mesin kopi rumahan
Disc. hingga 1JT* Mesin Kopi Breville

