MENYUSURI TANGGA KOPI SPESIALTI - Majalah Otten Coffee
Saya mencoba untuk ikut kelas belajar, bergabung trip ke kebun kopi, kelilingi pameran kopi, dan sudah pasti coffee hopping, cicipi kopi dari satu kedai ke kedai lainnya. Ikut bertumbuh bersama, menyaksikan perkembangan kopi spesialti di Indonesia.
Kopi adalah minuman yang disukai orang dari berbagai kalangan. Tak peduli usia tua ataupun muda, kopi selalu menjadi pilihan.
Masih teringat masa kecil, awal bisa mencicipi kopi itu karena nenek yang punya kebiasaan untuk membuat kopi hitam setiap hari. Kopi tubruk ditambahkan kental manis, terasa nikmat dipadu dengan cakwe, pisang goreng, atau biskuit manis. Saya yakin bukan hanya saya yang memiliki kenangan seperti itu.
Aroma kopi yang terkadang muncul di kedai kopi tradisional yang bisa membangkitkan kenangan akan kasih sayang nenek. Bisa dikatakan aroma yang sudah tidak ditemukan di kopi spesialti. Namun, inilah alasan mengapa sampai sekarang masih suka kopi, aroma rasa yang sudah tidak asing dinikmati sejak kecil.
Teringat pertama kali mencicipi kopi spesialti dengan teknik pour over di saat berada di Taiwan pada November 2013. Saat itulah mencoba kopi tanpa gula yang digiling langsung bijinya saat akan diseduh. Seru! Bentuk alat yang asing tapi menarik hati. Semakin penasaran jadinya.
Kami mencicip kopi dari empat negara yaitu Brazil, Colombia, Kenya, dan Ethiopia. Dari mulai mencium aroma seduhannya terlebih dahulu, lalu mencicipi beberapa teguk secara perlahan. Tukang seduh saat itu menjelaskan bahwa kopi dari negara yang berbeda, memiliki karakter rasa yang berbeda pula.
Dari kopi pertama, kedua, ketiga, pelan-pelan saya bisa menangkap maksud dari kata yang diucapkan tadi. Sempat juga teman lain yang nyeletuk, “Kok aku minum sama saja?” Tentu saja, beda orang beda tingkat sensitivitas lidahnya. Saya yang waktu itu masih awam dengan istilah-istilah kopi, hanya bisa merasakan ada perbedaan berat dan ringan cairan yang terasa di lidah. Lalu, ketika ditelan, rasa yang tertinggal menghasilkan rasa asam dan manis yang berbeda.
Sampai akhirnya saat mencicip kopi keempat yang berasal dari Ethiopia, benar-benar terasa bedanya. Baru pertama kali minum kopi yang ada aroma dan rasa buah yang unik. Aroma manisnya jelas dan tertinggal rasa seperti blueberry.
Spontan saya bergumam, “Kalau kopi yang begini mah sudah pasti bisa diminum tanpa gula.” Dari itulah rasa tertarik untuk memiliki alat seduh semakin kuat.
Ketika seduh kopi sendiri menjadi sebuah kebiasaan

Selang beberapa hari kemudian, saya diajak seorang teman untuk berkunjung ke pameran kopi di Taipei. Jujur, tercengang saya melihat ramainya dan banyaknya alat kopi yang dipajang.
Belum pernah ada yang kayak ini di Indonesia. Ada pula beberapa stand yang diisi oleh tenant mancanegara. Kopi eksotis dari Panama, Ethiopia, Costa Rica, dan sebagainya, rasanya hanya dalam beberapa hari saya sudah tercuci otak. Ternyata kopi bisa diminum murni, enak walau tidak dicampur apa-apa.
Sudah yakin nih, balik ke Indonesia harus angkut pulang alat seduh. Karena masih cupu, saya belinya dripper set yang terbuat dari stainless. Pikirnya sederhana, khawatir kalau pakai kertas filter, nanti kalau kertasnya habis bagaimana? Belum tentu di Indonesia bisa tersedia. Teko leher angsa dan gilingan kopi manual yang model kayu juga sekalian dilengkapi supaya bisa coba menyeduh kopi sendiri di rumah.
Kembali ke Indonesia, saya mulai cari artikel literatur mengenai kopi spesialti. Di masa itu, masih sedikit informasi yang bisa didapatkan dalam bahasa Indonesia. Keberadaan kedai kopi spesialti juga masih terbatas. Namun, setidaknya sejak itu, saya sudah tidak pernah minum kopi instan. Kondisi tubuh juga sudah cocok menerima kopi tanpa gula. Lambat laun, seduh kopi sendiri di rumah sudah menjadi sebuah kebiasaan.
Kebetulan di tahun 2014, saya berkesempatan ke Daegu, Korea Selatan. Saat berkeliling di supermarket, saya melihat banyak biji kopi yang masih utuh belum digiling. Terbersit dalam pikiran, “Ternyata tren kopi dibeli pulang lalu giling sendiri itu sudah umum ya di negara-negara Asia Timur. Kita saja yang masih kurang update.”
Akhirnya, saya beli pulang beberapa bungkus biji kopi. Kalau tidak salah ingat, kopinya asal Kenya dan Hawaii Kona. Walau belum paham banget cara seduh secara teknis, saya menikmati tahapan dari menggiling kopi sendiri, mencium aroma yang menguap saat terkena air panas. Meminjam beberapa saat untuk menenangkan hati.
Memasuki tahun 2015, semakin banyak kedai kopi spesialti yang bermunculan di Jakarta. Artikel online mengenai kopi dalam bahasa Indonesia sudah mulai banyak. Salah satunya website Otten Coffee, sering berselancar di sini untuk melihat perkembangan alat seduh dan istilah-istilah dalam kopi spesialti. Ibarat mulai kuliah lagi, semakin membaca malah semakin menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.
Rasa penasaran untuk ulik kopi semakin tinggi. Mulai dari hobi akhirnya jadi profesi. Saya dapat tawaran untuk belajar sangrai kopi dan bertanggung jawab untuk menyediakan kopi sangrai untuk beberapa gerai kedai kopi. Learning by doing, hari-hari dijalani bagai gelas kosong yang siap diisi air. Banyak mencari tahu dan menggali ilmu, saya tuntut diri sendiri supaya bisa melakukan yang terbaik.
Dari situlah mulai banyak berkenalan dengan roaster dan pengolah kopi. Mencoba untuk ikut kelas belajar, bergabung trip ke kebun kopi, kelilingi pameran kopi, dan sudah pasti coffee hopping, cicipi kopi dari satu kedai ke kedai lainnya. Ikut bertumbuh bersama, menyaksikan perkembangan kopi spesialti di Indonesia.
Saat ini, nama Indonesia sudah terpampang di panggung dunia. Berbagai kader handal yang terlibat dalam industri kopi spesialti telah membuktikan diri. Indonesia dari hulu ke hilir telah mengalami perkembangan pesat. Saya bangga bisa turut mempromosikan kopi Indonesia. Setiap ada kesempatan untuk keluar negeri, saya sering bawa kopi lokal sebagai oleh-oleh.
Banyak orang yang terkesan dan menjadi tertarik dengan kopi lokal Indonesia. Mereka bahkan tidak menyangka Indonesia bisa menghasilkan kopi yang berkualitas baik. Tuhan telah menganugerahkan lahan yang subur dan alam yang kaya. Sebagai negara produsen kopi, Indonesia telah memiliki keunggulan tersendiri. Semoga kita sebagai putra-putri bangsa bisa menghargai dan terus mengharumkan nama bangsa. Berjayalah Indonesia, bergunalah bagi dunia!
Penulis: Kurniawati Maitreya
