MENGENAL KOPI LIQUEUR - Majalah Otten Coffee
Kopi dicampur minuman beralholkol adalah salah satu tren yang tidak boleh diabaikan dalam pergerakan kopi.
JIKA ada satu negara yang mengklaim bahwa mereka adalah penemu kopi liqueur, maka itu adalah Italia. Ya, Italia hampir selalu mengaku sebagai pionir dalam minuman kopi jenis apapun meski di pertengahan abad ke-18 Frederick the Great telah duluan “memulai” dengan menyeduh kopinya menggunakan champagne.
Ketika pedagang-pedagang Venesia mengenalkan biji kopi ke dataran Eropa, Italia pun turut mematut diri dengan memperkaya khasanah proses brewing menjadi bukan hanya sekedar kegiatan menyeduh kopi saja, tapi mengubahnya menjadi sebuah karya seni. Yang menarik, apa yang dilakukan Italia itu ternyata terus berlanjut hingga kini, mereka terus melahirkan nama-nama baru dalam menu kopi yang barangkali akan membuat siapapun yang mendengarnya mengernyitkan dahi karena tak biasa.
Sebut saja misalnya kopi liqueur bernama Caffé Borghetti dari Fratelli Branca dimana biji kopi diseduh dalam level konsentrasi yang sama dengan espresso. Atau Galliano Ristretto, yaitu kopi hitam pekat namun mengandung kekayaan rasa liqueur yang kedalamannya nyaris serupa dengan satu shot kopi bertekanan penuh. Tapi bagaimana rasanya? “Minuman sejenis itu memiliki pahit khas espresso yang sangat saya sukai,” kaya Gia St. George, direktur khusus urusan beverage di Tacoteca, Los Angeles.
Di Amerika sendiri, sejumlah pengrajin penyulingan telah berbondong-bondong menerjunkan usaha mereka dalam bidang kopi liqueur. St. George Spirits—sebuah artisan pembuat penyulingan—di Alameda, California misalnya. Mereka ikut terpengaruh dengan tren kopi liqueur sehingga mengadaptasi usahanya menjadi St. George’s NOLA Coffee Liqueur, dengan meracik kopi chicory sebagai menu utamanya. Untuk menambah sentuhan rasa vanilla di dalamnya, St. George menggunakan kopi jenis Yirgacheffe dari Ethiopia.
Sementara di The Lexington House di Los Gatos, California, salah satu pemiliknya yang sekaligus juga bartender, Jimmy Marino, mencampurkan kopi liqueur bercitarasa lembut dari St. George tadi dengan rum sehingga melahirkan jenis kopi liqueur yang baru lagi bernama Coffeed Negroni. “Rasanya tidak terlalu manis, tapi seimbang,” jelas Marino.
Well, jika sekarang kita menyebut kopi liqueur maka banyak orang setidaknya akan segera membayangkan tentang Baileys atau Sheridans, dua merek Irish coffee terkenal. Ya, Italia bisa saja yang menemukan kopi liqueur, tapi Irlandia-lah yang memopulerkannya.
Konon Irish coffee aslinya ditemukan oleh Joe Sheridan, seorang kepala juru masak di Foynes, County Limerick di Irlandia—pelabuhan Foynes ini merupakan cikal bakal bandara Shannon International Airport di bagian barat Irlandia. Nah, pada suatu musim dingin yang hebat di sekitar tahun 1940-an, para penumpang Amerika yang baru tiba di pelabuhan Foynes benar-benar merasa kedinginan karena suhu yang beku sehingga Sheridan kemudian menambahkan whiskey ke dalam kopi untuk menghangatkan mereka. Setelah para penumpang bertanya apakah mereka disajikan kopi Brasil, Sheridan menjelaskan bahwa itu adalah kopi Irlandia, Irish coffee.
Stanton Delaplane, seorang penulis perjalanan untuk San Fransisco Chronicle, lalu membawa Irish coffee ‘masuk’ ke Amerika setelah meminumnya di bandara Shanon. Sejak itu nama Irish coffee bergerak semakin meluas bukan hanya menghinggapi daratan Amerika saja juga negara-negara lain di sekitarnya. Variasi kopi plus liqueur ini pun berkembang kian jamak bukan hanya plus whiskey atau rum saja tapi juga melibatkan berbagai jenis liqueur lainnya menurut khas negara masing-masing sehingga melahirkan nama-nama yang berbeda pula.
Di Indonesia sendiri juga, kalau Anda menyinggahi kedai-kedai kopi terutama di kota-kota besar, Anda pasti juga akan menemukan menu Irish coffee, wine coffee, atau entah kopi apa pun yang dicampur liqueur lainnya.
Jika pernah mencoba kopi liqueur, bagaimana rasanya menurut Anda? 🙂
__


