Mencari Kebahagiaan dari Secangkir Kopi: Writing Competition 2023 - Majalah Otten Coffee
Perjalana ini dimulai pada tahun 2019, saat quarter life crisis menyerang diriku. Stress dengan perkuliahan ditambah beban organisasi di kampus membuatku ingin terus lari dari kehidupan. Sayangnya saat itu aku tidak memiliki hobi sebagai pelarian. Ada salah satu temanku yang selalu setia mendengarkan ceritaku, saat itu kami mengobrol banyak ditemani dengan secangkir kopi miliknya. Ia menawarkan pada ku kopi tersebut dan mengatakan bahwa kopi mungkin bisa mengisi kekosongan hatiku.
Berawal dari rasa pahit, lama kelamaan aku penasaran dengan cairan hitam ini. Aku mencoba mengikuti beberapa acara kopi. Mulai dari yang gratis sampai berbayar. Aku bersyukur ditemukan dengan orang-orang baik di industri kopi. Sehingga rasa ingin tahuku pun terus bertambah. Diawali dengan kelompok belajar di Kopi Dewa yang dimotori oleh Kang Restu, aku belajar banyak kopi dari hulu ke hilir dan memutuskan bahwa manual brew adalah hal yang paling menarik buatku.
Setelah cukup puas dengan ilmu yang diserap, aku mencoba menguji diri lewat kompetisi. Mulai dari kompetisi yang berskema throwdown hingga compulsory dan open service. Aku sangat menyukai kompetisi kopi karena kita dapat bertukar informasi baru dan membuat relasi baru yang aku percaya dapat memantik industri ini untuk lebih maju.
Kopi telah mulai mengisi kekosongan hatiku. Hingga COVID-19 menyerang dan memaksa banyak pegusaha gulung tikar. Industri kopi pun terkena dampaknya, banyak barista yang dirumahkan termasuk diriku. Beruntung aku tinggal di Bandung, rumah berbagai komunitas. Saat COVID-19 menyerang komunitas di Bandung mendirikan Dasamuka sebagai sarana memberikan kesempatan barista-barista yang dirumahkan untuk mendapatkan penghasilan sementara, ilmu dan relasi untuk dapat bekerja kembali. Saat itu aku mencoba melamar dan diterima untuk menjadi barista di batch kedua. Sistem Dasamuka ini unik, mereka mengganti baristanya setiap 2 pekan untuk memberikan kesempatan barista yang dirumahkan lainnya.
Aku mendapat relasi baru di Dasamuka, Mas Rama. Seorang founder dari Kozi Coffee. Kebetulan saat itu dia sedang membutuhkan asisten roaster dan menawarkanku. Tidak kusia-siakan kesempatan itu dan aku pun bergabung dengan Kozi Coffee. Menyangrai kopi mirip seperti menyeduh kopi, ada banyak variable yang dapat kita kontrol untuk menghasilkan rasa yang kita tuju. Hal ini membuatku mudah beradaptasi mengerjakan pekerjaan di roastery.
Pada bulan kesembilan aku bekerja di Kozi, seorang temanku menawarkan pekerjaan di luar negeri, UAE. Sebuah roastery baru di Abu Dhabi membutuhkan seorang roaster. Aku yang semangat saat itu mencoba melamar. Panjang memang pengurusan wawancara dan berkasnya, tapi aku tetap semangat mengurusi semuanya hingga akhirnya aku diterima. Senin, 27 September 2021 adalah pertama kalinya aku menginjakan kaki di luar negeri. Merasakan panasnya udara timur tengah dan keberagaman orang-orang yang ada disana. Sayangnya apa yang aku harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Aku kecewa. Ada tindakan curang yang dilakukan. Bahkan atasanku adalah orang yang mengancam kesehatan jiwaku. Aku memutuskan untuk pergi menyelamatkan diriku, 7 bulan adalah lebih dari cukup.
Setibanya di Indonesia aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Selesaikah dengan industri ini atau melanjutkan kembali. Karena yang kusukai adalah kompetisi, aku menahan kesimpulan dari pertanyaanku hingga aku selesai berkompetisi di Indonesia Brewers Cup. Awalnya aku ingin lomba secara independent, tapi akhirnya tidak bisa. Banyak pihak yang akhirnya membantuku saat berlomba. Kawan-kawan Bandung, Dasamuka, Kozi, Suji, bahkan kawan yang aku kenal di UAE menawarkan bantuan kopi untuk berkompetisi. Meskipun hasilnya kompetisi tidak sesuai yang diharapkan, tapi aku belajar banyak. Aku tersentuh, bahwa masih banyak orang baik di industri ini. Tinggal bagaimana kita tetap bisa menjaga integritas masing-masing dari diri kita saja. Dan pada akhirya kesimpulan yang aku ambil, kopi tetap menjadi pasangan yang bisa mengisi hatiku ini.
[Artikel Nominasi Kopi Fest Indonesia Writing Competition 2023]

