Tips Makanan Sehat untuk Pelari Maraton Pemula - Majalah Otten Coffee
Menyiapkan diri untuk maraton pertama bukan hanya tentang menambah jarak lari setiap minggu. Ada satu bagian penting yang sering membuat pelari pemula kebingungan: apa yang sebaiknya dimakan agar tubuh kuat berlari hingga garis finis?
Sebagian orang mulai mengurangi nasi karena takut berat badan naik. Ada pula yang hanya mengandalkan pisang sebelum lari, melewatkan makan setelah latihan, atau baru memikirkan asupan energi beberapa hari menjelang lomba.

Padahal, nutrisi merupakan bagian penting dari persiapan maraton. Tubuh membutuhkan energi untuk menyelesaikan latihan jarak jauh, memperbaiki jaringan otot, dan memulihkan diri sebelum sesi berikutnya.
Menurut posisi bersama Academy of Nutrition and Dietetics, Dietitians of Canada, dan American College of Sports Medicine yang diterbitkan dalam Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics, strategi nutrisi yang tepat dapat mendukung performa olahraga sekaligus pemulihan.
Bagi pelari yang baru pertama kali mengikuti maraton, prinsipnya bukan makan sebanyak-banyaknya atau mengikuti diet atlet profesional secara mentah-mentah. Yang lebih penting adalah mencukupi energi, memilih makanan yang sesuai dengan tubuh, dan melatih strategi makan serta minum sebelum hari perlombaan.
1. Jangan Takut Makan Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi penting bagi pelari jarak jauh. Tubuh menyimpannya dalam bentuk glikogen di otot dan hati, kemudian menggunakan cadangan tersebut selama aktivitas fisik.

Ketika berlari dalam waktu lama, cadangan glikogen dapat berkurang. Jika asupan energi tidak memadai, pelari bisa mengalami kelelahan dan kesulitan mempertahankan kecepatan.
Karena itu, nasi, kentang, roti, oatmeal, pasta, dan buah dapat menjadi bagian dari pola makan pelari maraton.
Untuk pelari Indonesia, nasi putih tetap bisa menjadi pilihan praktis, terutama menjelang latihan panjang karena relatif mudah dikombinasikan dengan lauk dan biasanya lebih rendah serat dibandingkan nasi merah.
Contoh menu yang dapat dicoba:
- Nasi putih dengan telur dan ayam.
- Oatmeal dengan pisang.
- Roti dengan selai dan buah.
- Kentang rebus dengan ikan.
- Pasta dengan saus sederhana dan protein tanpa lemak.
Jumlah karbohidrat yang dibutuhkan bergantung pada berat badan, durasi latihan, intensitas, dan fase persiapan. Panduan olahraga umumnya menggunakan kisaran sekitar 5–7 gram per kilogram berat badan per hari untuk aktivitas moderat sekitar satu jam, dan 6–10 gram per kilogram untuk program ketahanan dengan volume lebih tinggi. Angka tersebut merupakan kisaran panduan, bukan target wajib untuk semua pelari.

2. Penuhi Kebutuhan Protein untuk Pemulihan Otot
Karbohidrat menyediakan energi, sedangkan protein membantu memperbaiki dan membangun jaringan tubuh setelah latihan.
Sumber protein yang mudah ditemukan antara lain telur, ikan, ayam, daging tanpa lemak, susu, yoghurt, tahu, dan tempe.
Kamu tidak harus membeli protein powder untuk mempersiapkan maraton. Bagi banyak pelari pemula, makanan sehari-hari dapat menjadi sumber protein yang memadai jika jumlah dan variasinya sesuai kebutuhan.
Sebagai gambaran, menu setelah latihan dapat berupa nasi, ayam panggang, dan sayuran. Pilihan lain adalah telur dengan roti dan susu, atau nasi dengan ikan dan tempe.
Usahakan menyertakan sumber protein dalam makanan utama, terutama setelah latihan panjang atau sesi yang cukup berat. Kombinasikan dengan karbohidrat untuk membantu pemulihan energi.

Jangan hanya fokus pada protein hingga mengurangi karbohidrat secara berlebihan. Kedua zat gizi tersebut memiliki peran berbeda dan sama-sama penting dalam program latihan ketahanan.
3. Konsumsi Buah dan Sayuran, tetapi Atur Waktunya
Buah dan sayuran membantu memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, serat, serta zat gizi lain yang mendukung kesehatan secara keseluruhan.
Pisang, jeruk, pepaya, bayam, wortel, dan sayuran hijau bisa menjadi pilihan sehari-hari. Pisang juga praktis dibawa ketika berlatih di luar rumah.
Namun, waktu mengonsumsi makanan berserat tinggi perlu diperhatikan. Sebagian pelari mengalami kembung, mulas, atau ingin buang air besar ketika berlari setelah makan besar.
Jika kamu memiliki perut sensitif, pilih makanan yang sudah terbukti nyaman bagi tubuh sebelum latihan panjang. Mendekati lomba, sebagian pelari juga mengurangi serat untuk meminimalkan gangguan pencernaan, tanpa harus menghilangkan buah dan sayuran dari pola makan secara keseluruhan.

Ingat, makanan yang sehat dalam keseharian belum tentu menjadi pilihan paling nyaman tepat sebelum berlari. Waktu konsumsi dan toleransi tubuh sama pentingnya dengan kualitas makanan.
4. Jangan Berlari Jarak Jauh dengan Perut Kosong Tanpa Perencanaan
Bagi pelari yang terbiasa berlari pagi, sarapan terkadang terasa merepotkan. Namun, untuk latihan panjang atau persiapan maraton, berlari tanpa asupan energi perlu dipertimbangkan dengan hati-hati.
Makan sebelum berlari membantu menyediakan energi dan menjaga kenyamanan selama latihan. Academy of Nutrition and Dietetics menyarankan agar pelari merencanakan asupan sebelum, selama, dan setelah maraton, bukan hanya berfokus pada hari perlombaan.
Sekitar 1–4 jam sebelum berlari, pelari dapat mengonsumsi makanan kaya karbohidrat yang mudah dicerna, menyesuaikan porsi dengan waktu yang tersedia dan toleransi pencernaan. Jika hanya memiliki waktu singkat, camilan sederhana seperti pisang atau roti tawar dapat lebih nyaman daripada makanan besar.

Hindari mencoba sarapan baru pada hari lomba. Jika biasanya makan roti dan pisang sebelum latihan panjang, gunakan kombinasi yang sama saat maraton sebagai titik awal.
Tujuannya bukan membuat perut terasa penuh, melainkan menyediakan energi tanpa menimbulkan ketidaknyamanan.
5. Latih Strategi Makan Selama Berlari
Inilah salah satu hal yang sering terlupakan oleh pelari pemula. Untuk maraton yang dapat berlangsung beberapa jam, makanan sebelum start saja biasanya tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan energi selama lomba.
Panduan nutrisi olahraga umumnya merekomendasikan sekitar 30–60 gram karbohidrat per jam untuk aktivitas ketahanan selama 1–2,5 jam. Untuk aktivitas yang lebih lama, asupan hingga 90 gram per jam dapat dipertimbangkan oleh pelari yang telah melatih toleransi pencernaannya.
Sumber karbohidrat selama berlari bisa berupa:
- Energy gel.
- Minuman olahraga yang mengandung karbohidrat.
- Chews atau permen olahraga.
- Pisang atau makanan sederhana lain yang mudah dikonsumsi.

Tidak semua pelari harus langsung mencapai angka tertinggi. Pelari pemula sebaiknya memulai dari strategi yang realistis sesuai durasi lomba, petunjuk produk, dan kemampuan perut menerima asupan.
Latih strategi ini saat long run. Coba jenis produk, waktu konsumsi, serta kombinasi dengan air yang akan digunakan saat perlombaan. Jika menggunakan gel, ikuti petunjuk produk mengenai kebutuhan air.
Jangan menunggu sampai merasa sangat lelah baru mencoba makan. Perencanaan asupan sejak awal membantu mengurangi risiko kehabisan energi pada bagian akhir lomba.
6. Minum Air Secukupnya dan Perhatikan Elektrolit
Kebutuhan cairan setiap pelari berbeda, tergantung suhu udara, kelembapan, intensitas lari, durasi, dan jumlah keringat yang keluar.
Minumlah secara teratur sesuai kebutuhan, dan gunakan sesi latihan untuk memahami toleransi tubuh. Untuk lari panjang dalam cuaca panas atau ketika berkeringat banyak, minuman yang mengandung elektrolit, terutama natrium, dapat membantu menggantikan sebagian elektrolit yang hilang.

Namun, minum terlalu banyak juga berbahaya. Memaksakan konsumsi air melebihi kebutuhan dapat meningkatkan risiko hiponatremia terkait olahraga, yaitu kondisi ketika kadar natrium dalam darah menjadi terlalu rendah.
Karena itu, jangan menjadikan kewajiban menghabiskan sejumlah botol air sebagai satu-satunya patokan. Sesuaikan strategi minum dengan kondisi lingkungan, rasa haus, pengalaman latihan, dan kebutuhan pribadi.
7. Lakukan Carb Loading Sebelum Maraton dengan Cara yang Tepat
Carb loading adalah strategi meningkatkan asupan karbohidrat menjelang lomba untuk mengoptimalkan cadangan glikogen. Strategi ini dapat membantu pada aktivitas ketahanan yang berlangsung lama, termasuk maraton.
Menurut tinjauan Louise Burke dalam Sports Medicine, pelari terlatih dapat meningkatkan cadangan glikogen dengan mengurangi volume latihan menjelang perlombaan dan meningkatkan asupan karbohidrat selama 36–48 jam terakhir. Protokol untuk atlet dengan kebutuhan tinggi dapat mencapai 10–12 gram karbohidrat per kilogram berat badan per hari, tetapi angka ini tidak harus diterapkan oleh setiap pelari pemula.

Dalam praktiknya, kamu bisa menambah porsi nasi, roti, kentang, pasta, atau makanan kaya karbohidrat lain yang sudah biasa dikonsumsi. Pilih makanan yang nyaman bagi pencernaan dan kurangi eksperimen kuliner menjelang lomba.
Carb loading bukan pesta makan tanpa batas. Tujuannya adalah meningkatkan ketersediaan energi, bukan membuat tubuh terlalu kenyang atau mengalami gangguan pencernaan.
Bagi pelari yang memiliki kondisi medis, kebutuhan diet khusus, atau riwayat gangguan makan, rencana nutrisi sebaiknya dibicarakan dengan dokter atau ahli gizi olahraga.
8. Jangan Lupakan Makanan Setelah Latihan
Setelah long run, tubuh membutuhkan energi untuk memulihkan cadangan glikogen dan protein untuk mendukung perbaikan otot.
Kamu tidak harus langsung mengonsumsi suplemen mahal. Makanan sederhana sudah bisa menjadi pilihan, misalnya nasi dengan telur dan ayam, roti dengan telur, atau susu dan pisang jika belum siap makan besar.

Jika latihan berikutnya berlangsung dalam waktu dekat, pemulihan energi menjadi semakin penting. Sebaliknya, setelah latihan ringan, kamu bisa kembali ke jadwal makan normal dengan memastikan kebutuhan energi harian tetap tercukupi.
Jangan pula menjadikan latihan maraton sebagai alasan untuk terus mengurangi makan demi menurunkan berat badan. Kekurangan energi dalam jangka panjang dapat mengganggu pemulihan, meningkatkan kelelahan, dan berdampak buruk pada kesehatan.
Contoh Pola Makan Sederhana untuk Pelari Maraton Pemula
Berikut contoh menu sehari yang bisa dijadikan inspirasi. Porsi perlu disesuaikan dengan berat badan, volume latihan, dan kebutuhan energi masing-masing.
Sebelum latihan pagi
Pisang dan roti tawar, disertai air secukupnya. Untuk latihan panjang, pertimbangkan sarapan yang lebih lengkap jika waktunya memungkinkan.
Makan utama
Nasi, ayam atau ikan, telur atau tempe, serta sayuran.
Camilan
Buah, yoghurt, roti, atau susu sesuai toleransi tubuh dan kebutuhan energi.
Makan malam
Nasi atau kentang, ikan atau tahu-tempe, dan sayuran. Tambahkan porsi karbohidrat sesuai beban latihan.
Menu tersebut merupakan contoh, bukan perhitungan kebutuhan kalori individual. Pada hari long run, kebutuhan makanan dan cairan biasanya lebih besar daripada hari istirahat.

Persiapan Maraton Dimulai dari Kebiasaan Makan Sehari-hari
Makanan sehat untuk pelari maraton tidak harus mahal atau rumit. Nasi, telur, ayam, ikan, tempe, buah, dan sayuran dapat menjadi fondasi pola makan yang baik.
Prioritaskan karbohidrat untuk energi, protein untuk pemulihan, cairan sesuai kebutuhan, dan strategi asupan selama lari yang sudah diuji saat latihan.
Yang tidak kalah penting, jangan menunggu sampai minggu perlombaan untuk mulai memperbaiki pola makan. Bangun kebiasaan secara bertahap sejak masa latihan, lalu evaluasi makanan apa yang paling membantu tubuh berlari dengan nyaman.
Maraton pertama bukan hanya ujian ketahanan kaki, tetapi juga latihan mengenali kebutuhan tubuh sendiri. Dengan persiapan nutrisi yang baik, kamu memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menyelesaikan perjalanan menuju garis finis.
