Lebih Baik Ngopi Sebelum atau Sesudah Lari? - Majalah Otten Coffee
Bagi banyak pelari, secangkir kopi hitam menjadi bagian dari rutinitas sebelum berolahraga. Ada yang meminumnya untuk mengusir kantuk, meningkatkan fokus, dan membuat tubuh terasa lebih siap berlari. Namun, sebagian pelari justru memilih menikmati kopi setelah menyelesaikan latihan sebagai bagian dari rutinitas pemulihan.

Lantas, lebih baik ngopi sebelum atau sesudah lari?
Jika tujuannya meningkatkan performa saat berlari, kopi sebelum lari cenderung lebih bermanfaat. Kafein dalam kopi dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan daya tahan pada sebagian orang. Sementara itu, kopi setelah lari boleh dinikmati sebagai bagian dari rutinitas harian, tetapi bukan kebutuhan utama untuk pemulihan.
Kesimpulan ini sejalan dengan International Society of Sports Nutrition (ISSN), yang meninjau bukti ilmiah mengenai kopi dan performa olahraga. Organisasi tersebut menyatakan bahwa kopi berpotensi mendukung performa fisik, meskipun hasilnya dipengaruhi dosis, waktu konsumsi, sensitivitas individu, dan jenis latihan.
Berikut penjelasan tentang waktu terbaik minum kopi bagi pelari, manfaatnya, serta hal yang perlu diperhatikan agar kebiasaan ini tidak mengganggu latihan.
1. Manfaat Minum Kopi Sebelum Lari
Kopi mengandung kafein, zat stimulan yang bekerja pada sistem saraf pusat. Salah satu mekanisme utamanya adalah menghambat reseptor adenosin, yaitu bagian dari sistem tubuh yang berperan dalam munculnya rasa kantuk dan persepsi kelelahan.

Efek tersebut dapat membuat sebagian pelari merasa lebih waspada dan mampu mempertahankan usaha selama latihan.
Penelitian yang dirangkum dalam posisi resmi ISSN menunjukkan bahwa kafein dapat memberikan manfaat kecil hingga sedang pada berbagai aspek performa olahraga. Manfaat terhadap aktivitas daya tahan aerobik termasuk salah satu temuan yang relatif konsisten. Namun, efeknya tidak sama pada setiap individu.
Bagi pelari, potensi manfaat kopi sebelum latihan meliputi:
- Meningkatkan kewaspadaan: membantu pelari merasa lebih siap, terutama saat berlari pada pagi hari.
- Membantu mempertahankan daya tahan: kafein dapat mendukung performa dalam aktivitas aerobik yang berlangsung cukup lama.
- Mengurangi persepsi kelelahan: sebagian orang merasa usaha berlari tidak terlalu berat ketika berada di bawah pengaruh kafein.
- Mendukung fokus: dapat membantu konsentrasi saat menjalankan sesi latihan terstruktur.
Meski demikian, kopi bukan pengganti latihan yang konsisten, nutrisi yang memadai, atau tidur berkualitas. Pelari juga tidak harus minum kopi untuk memperoleh hasil latihan yang baik.

2. Kapan Waktu Terbaik Minum Kopi Sebelum Lari?
Waktu yang sering digunakan dalam penelitian olahraga adalah sekitar 30–60 menit sebelum berlari, dengan 60 menit sebagai waktu yang umum diteliti untuk konsumsi kafein. Hal ini berkaitan dengan proses penyerapan kafein dan peningkatan konsentrasinya dalam darah.
Namun, waktu terbaik bisa berbeda sesuai jenis kopi, ukuran sajian, sensitivitas tubuh, dan kondisi pencernaan.
Sebagai panduan praktis:
| Waktu minum kopi | Pertimbangan |
| 15–30 menit sebelum lari | Bisa cocok bagi orang yang sudah terbiasa dan tidak mengalami gangguan pencernaan |
| 30–60 menit sebelum lari | Pilihan awal yang masuk akal untuk menguji efek kafein |
| Tepat sebelum mulai lari | Sebagian orang mungkin belum merasakan efek optimalnya |
| Setelah lari | Cocok jika ingin menikmati kopi, tetapi bukan keharusan untuk pemulihan |
Mulailah dengan porsi kecil yang sudah biasa dikonsumsi. Jangan mencoba dosis besar menjelang lomba, terutama jika belum pernah menguji respons tubuh saat latihan.

3. Apakah Kopi Setelah Lari Juga Bermanfaat?
Minum kopi setelah berlari bukanlah kebiasaan yang salah. Bagi banyak orang, kopi menjadi bagian menyenangkan dari rutinitas setelah latihan. Kopi juga mengandung senyawa selain kafein, termasuk polifenol, yang sedang diteliti karena berbagai efek fisiologisnya.
Namun, penting untuk membedakan kenikmatan minum kopi dari kebutuhan pemulihan olahraga.
Setelah lari, tubuh terutama membutuhkan penggantian cairan sesuai kehilangan keringat, asupan karbohidrat untuk membantu memulihkan cadangan energi, serta protein untuk mendukung perbaikan jaringan otot apabila diperlukan.
Kopi saja tidak dapat menggantikan kebutuhan tersebut.
Kajian ISSN mengenai kopi dan performa olahraga menemukan bahwa kopi dapat berkontribusi pada asupan cairan dan beberapa penelitian menunjukkan potensi manfaat terkait pemulihan glikogen. Akan tetapi, bukti mengenai efek langsung kopi terhadap pemulihan otot dan nyeri otot setelah latihan masih terbatas.
Karena itu, setelah lari jarak jauh, utamakan air putih, makanan yang mengandung karbohidrat dan protein, serta istirahat. Kopi dapat diminum setelah kebutuhan dasar tersebut diperhatikan.

4. Apakah Kopi Membuat Pelari Dehidrasi?
Salah satu anggapan yang sering muncul adalah kopi menyebabkan dehidrasi sehingga tidak cocok diminum sebelum olahraga.
Kafein memang dapat meningkatkan produksi urine pada kondisi tertentu, terutama pada orang yang tidak terbiasa mengonsumsinya. Namun, bukti ilmiah tidak menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah yang wajar otomatis menyebabkan dehidrasi saat berolahraga.
Kajian ISSN mengenai kopi dan performa olahraga menyimpulkan bahwa kekhawatiran mengenai efek diuretik kopi sering dibesar-besarkan. Kandungan air dalam kopi tetap berkontribusi terhadap asupan cairan, dan efek diuretik ringan kafein tidak terbukti secara konsisten mengganggu status hidrasi saat olahraga.
Meski demikian, hal ini bukan berarti pelari boleh mengabaikan hidrasi. Kebutuhan cairan bergantung pada durasi latihan, cuaca, intensitas, dan banyaknya keringat yang keluar.
Saat berlari dalam cuaca panas dan lembap, pelari perlu memberikan perhatian lebih pada penggantian cairan. Untuk sesi panjang, pertimbangkan pula kebutuhan elektrolit dan strategi hidrasi yang sesuai.

5. Berapa Banyak Kopi yang Sebaiknya Diminum Sebelum Lari?
Jumlah kafein lebih penting daripada sekadar jumlah cangkir kopi. Kandungan kafein dapat berbeda berdasarkan jenis biji, metode seduh, dan ukuran sajian.
ISSN melaporkan bahwa dosis kafein sekitar 3–6 mg per kilogram berat badan sering digunakan dalam penelitian untuk meningkatkan performa olahraga. Namun, dosis tinggi tidak selalu memberikan manfaat tambahan dan dapat meningkatkan risiko efek samping. Dosis efektif minimum juga belum dapat ditentukan secara pasti untuk semua orang.
Untuk pelari rekreasional, tidak perlu langsung mengejar dosis penelitian tersebut. Mulailah dengan kopi hitam dalam porsi kecil yang sudah dikenal tubuh, lalu amati responsnya.
Perhatikan beberapa hal berikut:
- Jangan menganggap semua kopi mengandung kafein dalam jumlah sama.
- Hitung pula kafein dari teh, cokelat, minuman energi, dan suplemen.
- Hindari menambah dosis hanya karena tidak langsung merasakan efeknya.
- Jika muncul jantung berdebar, gemetar, gelisah, atau mual, hentikan konsumsi dan evaluasi jumlah yang diminum.

Tujuannya bukan mendapatkan stimulasi sebesar mungkin, melainkan menemukan kebiasaan yang nyaman dan sesuai dengan kebutuhan latihan.
6. Siapa yang Sebaiknya Berhati-hati Minum Kopi Sebelum Lari?
Tidak semua pelari merespons kafein dengan cara yang sama. Sebagian merasa lebih fokus, sedangkan yang lain mengalami kecemasan, gangguan pencernaan, atau jantung berdebar.
Pelari yang memiliki kecenderungan refluks asam lambung atau GERD juga perlu berhati-hati. Kopi dapat memicu gejala pada sebagian orang, terutama ketika diminum sebelum berlari dengan perut kosong. Jika kopi menimbulkan rasa panas di dada, mual, atau nyeri perut, lebih baik mengurangi jumlahnya, mengubah waktu konsumsi, atau menghindarinya sebelum latihan.
Selain itu, kafein yang dikonsumsi terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu kualitas istirahat. Hal ini penting bagi pelari yang berlatih sore atau malam hari karena pemulihan sangat bergantung pada tidur yang cukup.
Orang dengan kondisi jantung tertentu, tekanan darah yang tidak terkontrol, atau yang menggunakan obat-obatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum sengaja menggunakan kafein untuk meningkatkan performa.

7. Strategi Ngopi untuk Pelari Jarak Jauh
Untuk latihan 5–10 kilometer, kopi sebelum lari dapat menjadi pilihan jika tubuh sudah terbiasa dan tidak menimbulkan keluhan. Untuk latihan half marathon atau jarak yang lebih jauh, manfaat kafein perlu ditempatkan sebagai bagian kecil dari strategi performa.
Pelari tetap harus memperhatikan asupan energi, hidrasi, dan pengaturan pace. Untuk sesi panjang, latihan strategi konsumsi karbohidrat selama berlari juga lebih penting daripada hanya mengandalkan kopi.
Sebaiknya, uji kebiasaan minum kopi ketika latihan rutin, bukan pertama kali pada hari perlombaan. Catat waktu minum, jumlah kopi, kenyamanan pencernaan, dan bagaimana tubuh merespons latihan.
Dengan pendekatan ini, pelari dapat mengetahui apakah kopi benar-benar membantu atau justru mengganggu performa.

Jadi Sebelum atau Sesudah Lari?
Jika tujuan utama adalah mendukung performa, minum kopi sekitar 30–60 menit sebelum lari merupakan pilihan yang masuk akal bagi pelari yang toleran terhadap kafein. Penelitian menunjukkan bahwa kafein dapat membantu performa daya tahan pada sebagian orang, tetapi manfaatnya tidak universal.
Sementara itu, kopi setelah lari boleh dinikmati sebagai bagian dari rutinitas, tetapi tidak menggantikan air, makanan bergizi, dan istirahat yang dibutuhkan tubuh untuk pulih.
Pada akhirnya, waktu terbaik minum kopi bergantung pada tujuan latihan dan respons tubuh. Jangan memaksakan kopi jika menyebabkan gangguan pencernaan, jantung berdebar, atau tidur terganggu. Bagi pelari, konsistensi latihan dan pemulihan yang baik tetap lebih penting daripada secangkir kopi.
