Kopi, Perjalanan Tiada Akhir: Writing Competition 2023 - Majalah Otten Coffee
Cinta memang tidak selalu hadir pada pandangan pertama. Cinta bisa hadir, bahkan menetap, setelah melampaui proses dan perjalanan yang lama. Inilah yang saya rasakan ketika bersinggungan dengan dunia per-kopian. Dunia yang sebenarnya tidak baru, tetapi baru saya rasakan keindahannya setelah tahun berselang hingga belasan.
Masih lekat dalam ingatan, sekitar tahun 2000-an, bagaimana kakek saya selalu meminta suguhan kopi setiap berkunjung ke rumah. Secangkir kopi hitam pekat, yang nampaknya pahit, sangat beliau nikmati menyertai hisapan rokok tingwe atau ngelinting dewe (rokok buatan sendiri). Saya tidak habis pikir apa nikmatnya minuman semacam itu. Namun ternyata, rasa penasaran inilah yang sebenarnya mengawali perjalanan saya mengenali hingga menikmati dunia indah kopi.
Kopi Sachet dan Garam
Saya mulai mencoba minum kopi dengan cara sangat sederhana yaitu sobek sachet, tabur, dan siram air. Ketika itu, saya meneguknya sebatas untuk membantu tetap terjaga karena harus mengerjakan tugas kuliah. Saya tidak menghiraukan rasa pahit, manis, atau asam yang terkandung di dalamnya.
Hingga suatu saat, Ibu saya sempat menambahkan sedikit garam pada kopi saya. Awalnya, saya menduga bakalan seperti oralit rasanya. Tetapi, ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Rasa kopi menjadi berbeda dari biasanya tetapi kesimpulannya adalah enak. Saya tersadar adanya cita rasa kopi yang perlu dinikmati, daripada sekedar meneguknya. Terpikirlah bahwa kopi ini bukan sekedar minuman pahit pengusir kantuk, tetapi juga minuman yang mampu menyajikan keunikan rasa ketika diolah sedemikian rupa.
Apa sih Menariknya Kopi?
Kesan nikmat kopi sachet dan garam rupanya membekas lama, ya masih sebatas itu “modifikasi” kopi yang saya tahu. Hingga sekitar tahun 2018, saat bertugas di Banjarmasin, rekan kantor kerapkali membeli dan mencicipi kopi-kopi dari berbagai daerah di Kalimantan. Ditambah lagi, seringnya event-event kopi diadakan di sana plus menjamurnya kedai kopi. Harga yang ditawarkan dari sebungkus biji kopi maupun secangkir kopinya terbilang cukup mahal. Tentunya, jika dibandingkan dengan kopi instan yang biasa saya beli. Sayapun kembali heran dengan trend semacam itu.
Suatu ketika, seorang barista pun diundang untuk menyajikan kopi di kantor. Tampak barista pria tersebut sangat menikmati proses menyeduh kopi setahap demi setahap. Itulah kesempatan memperoleh jawaban atas keheranan saya, hingga akhirnya meluncurlah pertanyaan sederhana kepada si barista. “Apa sih Mas menariknya kopi?”
Barista bernama Dwi, pemilik usaha kedai sekaligus penggiat pertanian kopi itu, menanggapi pertanyaan saya dengan kalimat yang menarik. “Kopi adalah perjalanan, dari sekedar peminum, meningkat menjadi penikmat, dan akhirnya pecinta”.
Kurang lebih penjelasannya adalah, peminum adalah orang yang sekedar meminum kopi, entah karena haus atau agar kuat begadang, entah kopi kekinian atau sekedar kopi instan. Lalu, penikmat merupakan mereka yang sudah bisa merasakan cita rasa kopi, light ala kopi saring, pekat ala espresso, atau fruity ala arabica dan dark chocolate ala robusta. Tingkat tertinggi, pecinta adalah para penikmat yang sudah mendedikasikan diri sepenuhnya untuk memajukan kopi, dari memperhatikan kualitas penanamannya hingga teknik penyeduhan yang baik. Jawaban itu menyadarkan tingkatan saya yang masih peminum sekaligus memancing ketertarikan saya untuk bisa naik level menjadi penikmat.
Kopi Bukan Disobek tapi Diseduh
Sejak Dwi membukakan jendela dunia per-kopian sesungguhnya, saya secara berangsur mulai mengalihkan kopi sachet ke kopi seduhan. Awal 2021, saat bertugas di Pematang Siantar, saya mulai sering menikmati kopi seduhan di kedai-kedai. beberapa kedai legendaris memang terdapat di sana, diantaranya Kok Tong atau Kopi Sedap. Karena terletak di Sumatera Utara, salah satu kawasan sentra komoditas kopi kelas dunia, cukup mudah juga bagi saya mendapatkan kopi-kopi berkualitas pada berbagai kedai di kota bersejarah ini.
Salah satu rekan ngopi sempat berceloteh “Kopi bukan disobek tapi diseduh.” Guyonan yang mengajak kita bukan sekedar mengkonsumsi kopi bubuk sachet, tapi menikmati kopi segar hasil seduhan. Dua-dua nya enak, tapi yang terakhir memang jauh lebih nikmat.
Saya pun mulai mengamati cara barista saat menyeduh kopinya. Dalam satu kesempatan, seorang barista bernama Erik menawarkan untuk praktek langsung. Dia pun menyiapkan alat mirip cangkir berlubang yang ditutup dengan semacam kertas saring. Erik menjelaskan itulah yang namanya metode seduh V60, cara seduh paling populer karena barista mampu mudah dan leluasa mengeksplorasi rasa kopi yang diinginkan. Dari situ saya belajar bagaimana asal biji kopi, tingkat kehalusan gilingannya, dan bahkan suhu air dapat mempengaruhi rasa kopi.
Sekilas memang ribet meyeduh kopi secara manual, namun ternyata justru disitulah adanya nilai seni dalam penyeduhan. Saya pun beranjak tertarik dari sebatas menyeruput sekarang menjadi menyeduh. Mulailah saya menonton berbagai video tutorial menyeduh kopi, yang ternyata menggunakan bermacam metode, tidak hanya V60 tetapi ada espresso, french press, tubruk, dan sebagainya. Bersamaan dengan itu, saya secara bertahap membeli alat-alat untuk mempraktekkan berbagai metode penyeduhan itu. Akhirnya, jadilah saya home brewer.
Entah rasa kopi hasil seduhan saya ini sudah sesuai standar atau belum, saya tidak terlalu mempertimbangkan itu, yang terpenting kopi tersebut terasa nikmat di lidah saya. Luar biasanya, meskipun saya salah seduh karena tidak sesuai tutorial, misalnya kopi terlalu halus atau air kurang panas, kelebihan pekatnya ataupun terlalu light, rasa yang dimunculkan justru unik sehingga kopi masih nikmat. Tentu saja, ketika penyeduhannya tepat, rasa yang dihasilkan pun lebih nikmat. Kembali ingat pesan kawan lama, sepertinya saya sekarang sudah naik kelas, dari peminum menjadi penikmat kopi.
Berguru Kepada Pecintanya
Eksplorasi saya terhadap kopi terus berlanjut. Tidak hanya melihat panduan YouTube dan bereksperimen sendiri di rumah, tetapi juga langsung berinteraksi dengan para penggiatnya. Kebetulan, seorang teman penggemar kopi mengajak saya untuk mengunjungi perkebunan kopi di Karo dan Tapanuli Utara. Di sanalah saya bertemu dengan seorang ahli kopi Indonesia yang sudah mendunia, Dr. Surip Mawardi. Dari beliaulah saya mengetahui bagaimana pentingnya proses penanaman kopi untuk menghasilkan biji yang baik. Di situ ada proses perawatan tanaman, pemupukan, dan pengolahan tanah. Dapat dikatakan, kesempurnaan proses hulu tersebut dapat menentukan kualitas biji kopi nantinya.
Perjalanan berlanjut, jika sebelumnya saya belajar mengenai awal mula terciptanya biji kopi berkelas, berikutnya saya memperoleh pengkayaan proses bisnis kopi. Kali ini saya berkesempatan bertemu dengan Joko, seorang eksportir biji kopi. Terkesimalah saya ketika mengetahui bahwa biji kopi Indonesia, terutama dari daratan Sumatera, merupakan produk berkelas di mancanegara dan menjadi incaran industri kopi kelas dunia. Benar juga kisah Howard Schultz, mantan CEO legendaris Starbucks, yang jatuh cinta dengan industri kopi setelah meneguk secangkir kopi Sumatera di Seattle, Amerika Serikat.
Eksplorasi saya berikutnya adalah ke Simalungun. Di Kabupaten sisi timur Danau Toba ini, saya bertemu dengan pengusaha kopi, pasangan Indo-Amerika bernama Lisa-Leo. Dengan antusiamenya, mereka menjelaskan bagaimana pentingnya proses pencucian, penjemuran, sampai dengan roasting hingga dihasilkan biji kopi dengan berbagai kualitasnya. Kualitas tersebut yang pada akhirnya menentukan harga jual. Sesuatu yang menarik saya pelajari yaitu anggapan bahwa kopi kualitas non-premium semestinya dibuang, ternyata salah. Faktanya, seluruh kualitas kopi mempunyai nilai ekonomi, apabila tepat segmen pembelinya. Kopi non-premium memiliki pangsa pasar pada kedai-kedai kopi kekinian yang konsumennya kaum millenial. Harga jualnya yang relatif terjangkau mampu menopang bisnis perkopian saat pandemi, ketika masyarakat sedang menahan pembelanjaan kopi premium.
Masih di Simalungun, saya sempatkan untuk menggali ilmu lagi kepada penggiat kopi senior yakni Toni Manik. Beliau salah seorang yang berjasa memperjuangkan pendaftaran indikasi geografis kopi arabica Simalungun. Secara singkat, indikasi geografis merupakan bagian dari Hak Kekayaan Intelektual berupa tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang. Dengan pendaftaran itu maka tidak sembarang pihak dapat mengklaim mampu memproduksi kopi Simalungun, ke-khas-an kopi pun terlindungi. Menurut Toni, ke-khasan kopi arabica Simalungun sudah mulai menarik penggemar kopi di Eropa. Dengan demikian, potensi ekspor pun mulai terbuka.
Coffee, the Endless Journey
Itulah perjalanan saya menjelajahi dunia per-kopian yang boleh dikatakan masih pendek. Perjalanan tersebut belum akan saya akhiri atau mungkin memang tidak akan ada akhirnya. Saat ini, saya masih getol dengan sensasi kopi cold brew, hal baru bagi saya yang tadinya hanya tahu nikmatnya kopi itu ketika panas atau hangat. Belakangan, saya juga sedang menerapkan jargon “ngopi dimanapun” dengan selalu membawa perlengkapan portable manual brew setiap perjalanan keluar kota. Ke depan, saya sudah berencana untuk mempelajari teknik cupping sembari melatih sensory lidah. Ya, belajar yang tidak ada habisnya.
Mengutip penjelasan pakar kopi Mohammad Fauzil Adhim, teknik seduhan kopi merupakan hasil eksperimen panjang para sarjana di Turki sekitar tahun 1400-an. James Hoffman, dalam bukunya The World Atlas of Coffee, menyebutkan juga bahwa penggiat kopi hingga sekarang pun masih berupaya meningkatkan kualitas produksi dan teknik pengolahan guna menyuguhkan kopi yang semakin baik. Semua itu menggambarkan bagaimana pembelajaran dan inovasi per-kopian masih menempuh perjalanan panjang yang nampaknya tidak berujung.
Sebelum menutup tulisan ini, saya terkesan pernyataan Howard Schultz yang dituangkan dalam bukunya Onward. “Coffee has survived, I believe, because of its inherit magic”. Memang betul, eksistensi kopi yang sudah ratusan tahun ini tetap bertahan karena adanya adanya keajaiban yang terkandung di dalamnya. Tidak sekedar secangkir kopi dengan sejuta rasanya, namun juga secangkir kopi yang mengikat emosi para penikmatnya. Itulah yang menguatkan “My coffee journey, perjalanan tiada akhir untuk menjadi pecinta kopi“, selama beberapa tahun ini. Kopi tidak sekedar menghadiahkan kenikmatan rasanya, tetapi juga merekatkan persaudaraan, membuka cakrawala ilmu baru, dan yang terpenting, membangkitkan kesadaran akan kebesaran Tuhan dalam sebiji kopi.
[Artikel Nominasi Kopi Fest Indonesia Writing Competition 2023]
Referensi:
1. Howard Schultz, Onward, Rodale, 2011
2. James Hoffmann, The World Atlas of Coffee, Octopus Publishing Group, 2018
3. Mohammad Fauzil Adhim, Seseduh Sejarah Kopi (channel YouTube Salim A. Fillah)
4. www.starbucksathome.com
Penulis: Abdul Haris

