KLASIFIKASI GREEN BEANS DAN GRADE COFFEE - Majalah Otten Coffee
Perkembangan industri kopi di seluruh dunia tidak terlepas dari peran coffee society, terciptanya ekosistem penikmat kopi memberikan ruang pada kopi untuk terus tetap menjadi komoditas yang istimewa. Evolusi tren bertahap dari mulai first wave, second wave hingga kini di tahap third wave yang mana kopi perlu penanganan serius dari awal kopi masih menjadi tanaman hingga kopi menjadi sajian minuman yang penuh nikmat.

Terkait penanganan kopi, salah satunya adalah menentukan grade coffee dan mengklasifikasikan green beans agar kopi tergolong pada kualitas yang baik. Tujuan dari grade coffee dan pengklasifikasian green beans juga mengacu agar terciptanya kriteria kualitas kopi yang menyeluruh dan pastinya memudahkan untuk menetapkan harga secara adil. Namun, perlu diketahui bahwa sistematis penilaian grade coffee dan cara mengklasifikasikan green beans memiliki perbedaan di tiap negara, tidak akan sama secara universal mengingat tiap negara memiliki kultural yang berbeda. Kultur sangat mempengaruhi perkembangan kopi di masing-masing negara, pengolahan biji kopi tiap daerah pastinya berkembang dari kultur sekitaran kebun kopi. Sebabnya, tiap negara produsen kopi mengembangkan klasifikasi green beans dan grafik grade coffee sendiri, yang bahkan seringkali juga digunakan untuk menjadi penetapan standar minimum ekspor.

Klasifikasi green bean memiliki indikator berbeda tiap negara produsen kopi, mempertimbangkan mulai dari asal usul, karakteristik hingga kualitas cupping. Beberapa hal ini nantinya menjadi bahan pertimbangan kualitas green bean dan juga indikator grade kopi, yang nantinya mempengaruhi harga jual biji kopi.
Selanjutnya, pengklasifikasian green beans berdasarkan ukuran biji kopi, mengacu pada pertimbangan faktor tingkat ketinggian di atas permukaan laut dari tanaman kopi tersebut. Ketinggian tanam memberikan tekstur biji yang padat dan biji kopi cenderung lebih besar jika dibandingkan dengan kopi yang ditanam di ketinggian tanam yang rendah. Kondisi biji kopi ini nantinya akan mempengaruhi masa pemanggangan, dan umumnya kopi yang ditanam di ketinggian tanam yang optimal akan berkembang secara lambat namun umumnya memiliki profil rasa yang terbaik. Dengan demikian ada hubungan yang saling terkait di antara ukuran biji kopi, densitas, dan kualitas rasa.
Indikator Klasifikasi Green Bean
Penentuan grade dan sistematisasi klasifikasi green bean dilihat dari beberapa hal, atau keseleruhan bisa juga sebagian hal, tergantung prosedur standar yang diterapkan di masing negara.
- Altitude
- Region
- Varietas
- Pengolahan Biji Kopi
- Ukuran Biji Kopi
- Bentuk Biji dan Warna
- Jumlah Biji Kopi Yang Cacat
- Cacat Biji Kopi Yang Ditoleransi
- Densitas Biji Kopi
- Kualitas Cupping
Altitude
Tinggi rendahnya tempat di mana kopi ditanam memiliki dampak signifikan terhadap kualitas biji kopi. Ketinggian menentukan suhu, kelembapan, dan tekanan udara yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan buah kopi.
Region
Setiap wilayah penghasil kopi memiliki karakteristik yang unik dalam hal tanah, iklim, dan varietas kopi yang tumbuh, sehingga region menjadi faktor penting dalam menentukan profil rasa sebuah kopi.
Varietas
Berbagai varietas kopi seperti Arabika, Robusta, dan berbagai hibrida memiliki perbedaan dalam hal cita rasa, kekuatan, dan keunikan yang memengaruhi kualitas akhir dari kopi.
Pengolahan Biji Kopi
Metode pengolahan kopi seperti metode basah (washed), metode kering (natural), dan metode semi-basah (pulped natural) turut memengaruhi profil rasa dan karakteristik biji kopi.
Ukuran Biji Kopi
Ukuran fisik biji kopi dapat memberikan petunjuk tentang kualitas dan kemungkinan rasa yang dihasilkan ketika biji ini disangrai.
Bentuk Biji dan Warna
Bentuk dan warna biji kopi juga bisa menjadi indikator kualitas, sebagian dapat menunjukkan tingkat kematangan dan pengolahan biji kopi.
Jumlah Biji Kopi Yang Cacat dan Cacat Biji Kopi Yang Ditoleransi
Faktor ini bisa menjadi indikasi terhadap proses panen, pemrosesan, dan pemilahan biji kopi.
Densitas Biji Kopi
Densitas biji kopi adalah ukuran berat jenis biji kopi. Biji yang lebih padat mungkin memiliki karakteristik rasa yang berbeda.
Kualitas Cupping
Nilai dari kualitas cupping akan mencakup keseluruhan profil rasa kopi, tingkat keasaman, kepedasan, keharuman, serta keseluruhan pengalaman meminum kopi tersebut.
Dari beberapa hal pertimbangan tersebut, tidak semuanya yang digunakan, tergantung proses tiap negara. Bahkan beberapa sistem penilaian grade dan klasifikasi green bean ada yang berkembang untuk memenuhi persyaratan kualitas pembeli green bean. Jika ditemukan bahwa kecacatan green bean mempengaruhi tingkat risiko kontaminasi, maka sistem penilaian akan akan menyelaraskan kecacatan tersebut.
Metode tiap negara berbeda dalam menentukan grade dan klasifikasi green bean. Saya kutip dari International Coffee Organization, sebagai contoh green beans robusta dari Indonesia memiiki metode khusus dalam penentuan gradenya.

Klasifikasi Kopi Grade
Klasifikasi dari kecacatan green bean
| Grade 1 | Defects maximum 11 |
| Grade 2 | Total defects antara 12 and 25 |
| Grade 3 | Total defects antara 26 and 44 |
| Grade 4a | Total defects antara 45 to 60 |
| Grade 4b | Total defects antara 61 to 80 |
| Grade 5 | Total defects antara 81 to 150 |
| Grade 6 | Total defects antara 151 to 225 |
- Grade 1: Biji kopi dalam klasifikasi ini memiliki maksimal cacat sebanyak 11 butir. Ini menunjukkan bahwa biji kopi Grade 1 merupakan yang terbaik dari segi kualitas dan keseragaman.
- Grade 2: Biji kopi dalam klasifikasi ini memiliki total cacat antara 12 hingga 25 butir. Meskipun memiliki beberapa cacat, kopi Grade 2 masih dianggap memiliki kualitas yang baik.
- Grade 3: Biji kopi dalam klasifikasi ini memiliki total cacat antara 26 hingga 44 butir. Kualitasnya mungkin sudah mulai menurun dibandingkan dengan Grade 2.
- Grade 4a: Biji kopi dalam klasifikasi ini memiliki total cacat antara 45 hingga 60 butir. Grade 4a mungkin sudah dianggap sebagai kategori kopi dengan kualitas yang kurang baik.
- Grade 4b: Biji kopi dalam klasifikasi ini memiliki total cacat antara 61 hingga 80 butir. Grade 4b merupakan kategori kopi yang memiliki cacat yang cukup signifikan.
- Grade 5: Biji kopi dalam klasifikasi ini memiliki total cacat antara 81 hingga 150 butir. Grade 5 umumnya merupakan kategori kopi yang tidak memenuhi standar kualitas yang baik.
- Grade 6: Biji kopi dalam klasifikasi ini memiliki total cacat antara 151 hingga 225 butir. Coffee Grade 6 adalah kategori terendah dalam hal kualitas biji kopi dan umumnya tidak digunakan untuk kopi spesialitas.
Indonesia memiliki biji kopi dengan grade 4 dengan total defect 60, selain cupping dikutip dari supremo.be Indonesia menerapkan 4 standar pada pengklasifikasian green bean, berdasarkan defect, wilayah, ukuran biji kopi dan pengolahan biji kopi. Penentuan grade dan klasifikasi biasanya diterapkan untuk menghitung green bean dalam jumlah pembelian yang banyak. Dan tiap negara tidak bisa mengeneralkan metode terapan masing-masing, ataupun memaksakan terapan standarisasinya ke lain negara.
src: ico.org supremo.be img: finding dallas

Dipublikasi 21 desember 2017 dan diperbarui 15 februari 2024 oleh Yoga.
