GAHWA: BUDAYA KOPI QATAR YANG POPULER DI PIALA DUNIA - Majalah Otten Coffee
Budaya kopi Qatar adalah salah satu yang menjadi daya tarik khas di Piala Dunia Qatar 2022. “Gahwa” menjadi populer selama pertandingan sepak bola berlangsung.
PIALA dunia merupakan ajang kompetisi sepak bola yang paling dinanti seluruh penjuru dunia—seketika semua perhatian berpusat pada negara penyelenggara tersebut. Tahun ini ketika Qatar akhirnya menjadi penyelenggaranya, tentu banyak hal yang asing dan akan dikenal oleh seluru wisatawan ketika berkunjung.
Tidak hanya untuk menikmati pertandingan sepak bola namun juga menikmati bagaimana budaya Qatar secara menyeluruh. Dari mulai tempat wisatanya hingga kulinernya, bagi para pecinta kopi tidak lengkap jika belum merasakan secara langsung bagaimana budaya minum kopi di Qatar.
Untuk kamu yang menonton piala dunia di rumah, kamu juga merasakan bagaimana bagaimana budaya kopi di Qatar dengan membuat sajian kopi ala Qatar di rumah. Sekilas memang terkesan cukup ribet, tapi tentu saja kopi ini layak untuk dicoba.
Kopi Qatar sama halnya dengan sajian kopi di Arab pada umumnya, dan gahwa adalah kopi yang diseduh dari biji kopi arabika yang disangrai dan dicampur dengan kapulaga. Penyajiannya paling sering dikonsumsi bersama kurma kering.

- Pada proses menyangrai biji kopi, api dinyalakan untuk memanaskan teko kopi besar (khumrah), dan memanggang biji kopi mentah di atas api panas di sendok pemanggang (mihmas).
- Setelah dipanggang, biji kopi didinginkan di atas mubarrid atau semacam nampan. Kemudian, biji kopi ditumbuk dengan lesung dan alu (hawan wa yad al-hawan). Kapulaga juga ditambahkan pada proses ini dimana ia dituang ke teko kopi khumrah hingga mendidih.
- Setelah kopi mendidih, kopi dituang ke dalam panci saji yang disebut mizal dallah. Saringan anyaman palem biasa digunakan untuk menyaring ampas kopi.
- Selanjutnya, kopi disajikan ke fanajin atau cangkir kecil.
Jika proses minum kopi ini melibatkan banyak orang atau diseduh karena momen tertentu, maka penyajian harus mengikuti tata cara yang dianut.
- Kopi harus disajikan ke tamu pertama kali lalu ke para tetua.
- Secara tradisional, ketika seorang tamu telah menerima kopi, mereka harus minum tiga cangkir. Tiap cangkir memiliki makna: cangkir pertama dikenal sebagai cangkir tamu (finjan al-dhayf), yang kedua adalah cangkir pedang (finjan al-sayf), yang ketiga adalah cangkir kesenangan (finjan al-khayf). Masing-masing menunjukkan kepercayaan dan janji antara tamu dan tuan rumah.
- Kopi dituang dari teko saji (mizal dallah) yang dipegang di tangan kiri pelayan ke cangkir kecil (finjan) di tangan kanan. Kemudian, tamu mengambil cangkir kecil berisi gahwa dan meneguknya, sementara pelayan atau tuan rumah menunggu untuk mengisi ulang cangkir kopi tersebut dan dilanjutkan ke tamu berikutnya.
- Setelah kopi selesai diminum, cangkir kecil tadi tidak boleh diletakkan di atas tanah ataupun lantai.
Bagaimana menurut kamu budaya minum kopi di Qatar? Cukup seru untuk dicoba di rumah, kan? Kamu tidak harus menerapkan semuanya, cukup dengan menggunakan biji kopi arabika apa pun dan tambahkan kapulaga saat akan menyeduhnya. Kira-kira, bagaimana karakter rasa yang tercipta, ya?
sumber dari artsandculture.google.com

