FAKTA INDUSTRI KOPI DI UZBEKISTAN - Majalah Otten Coffee
Rasanya kurang cukup mengetahui secara mendalam mengenai industri kopi di Uzbekistan hanya berdasarkan kunjungan sesingkat satu minggu. Meski begitu setidaknya saya menemukan beberapa fakta kopi di negeri yang merupakan jalur sutra ini.

UZBEKISTAN sebenarnya saya kunjungi bukan karena ingin mengulik industri kopinya. Melainkan ingin menapak tilas kembali sejarah tentang negeri bekas pecahan Uni Soviet dan juga tentang sejarah jalur sutranya yang tersohor ini. Kami menjelajah Uzbekistan cukup singkat yaitu dalam kurun waktu seminggu saja. Kami datang dengan kereta dari Almaty, Kazakhstan menempuh kurang lebih 17 jam melewati perbatasan darat yang berada di Kota Keles. Kereta yang kami gunakan cukup nyaman malah dilengkapi restoran dan bar di dalamnya. Dan petualangan ngopi di Uzbekistan dimulai dari kereta ini.

Raf Coffee
Seperti negara Stan atau pecahan Uni Soviet lainnya, Rusia mewarisi satu kopi khas negeri ini yaitu raf coffee. Jika Perancis memiliki cafe au lait, Italia memiliki cappuccino, Australia dan New Zealand punya flat white dan Indonesia punya kopi susu aren, maka Uzbekistan, Kazakhstan dan negara Stan lain punya Raf Coffee. Raf Coffee adalah kopi susu dengan tamabahan vanila. Sejauh kami pergi tidak ada kedai kopi yang menyajikan raf coffee versi raf coffee pun hanya disajikan panas. Fakta lain adalah semodern apapun kedai kopi tersebut, mereka akan tetap menyediakan raf coffee.

Kopi Bukanlah Minuman Utama
Selain air putih, teh adalah minuman paling banyak dinikmati masyarakat Uzbekistan. Kopi bukanlah primadona di sini. Jadi tidak salah jika industri di sini kurang berkembang di negeri ini. Uzbekistan khususnya daerah seperti Samarkand dan dataran tinggi lainnya adalah penghasil teh dan sudah sangat tersohor sejak zaman jalur sutra. Tapi bukan berarti kopi tidak ada di negeri ini. Meski kehadiran kedai kopi tidak seramai di Almaty Kazakhstan, ibukota Uzbekistan, Tashkent tetap ada kedai kopi modern. Bahkan di kota wisata Samarkand sendiri banyak sekali kopi to go di mana-mana. Dan meskipun coffee to go namun memiliki mesin kopi mumpuni layaknya kedai kopi modern lainnya.

Berkunjung Ke SCA Uzbekistan
Jika Indonesia ada SCAI, maka Uzbekistan memilki SCA Uzbekistan. Di hari-hari terakhir kami di ibukota Uzbekistan, Tashkent, kami menyempatkan diri untuk mampir ke SCA Uzbekistan. Ternyata SCA Uzbekistan ini berada di tengah kota dan memiliki kedai kopi yang tempat duduknya berada di outdoor. Kami masuk dan ternyata hanya ada ruangan kecil tempat barista meracik kopi dan ruangan bagian dalam tempat kopi diproduksi. Ada beberapa biji kopi yang dijual di sini. Mulai dari house blend hingga single origin. Ada juga menjual beberapa alat kopi mulai dari Bialetti, Deloghi, aneka sirup adna masih banyak lagi.

Kami sendiri memutuskan untuk membeli satu single origin Kenya yang di kemasannnya sama sekali tidak kami mengerti tulisannya. Untung ada yang membantu dan bisa menjelaskan dalam Bahasa Inggris. Kami membeli single origin Kenya yang harganya mungkin sekitar 130 ribu rupiah saja. Sebenarnya kami ingin mengobrol lebih banyak tapi karena keterbatasan bahasa rasanya memang cukup sukar mencari dan mengulik lebih dalam soal SCA Uzbekistan ini.

Uzbekistan Bukan Negara Penghasil Kopi
Sayangnya Uzbekistan ini bukanlah negara produsen kopi. Kopi tidak bisa tumbuh di tanah mereka. Meski begitu peminum kopi di Uzbekistan tetap bertumbuh. Itu menjadikan Uzbekistan sebagai negara pengimpor kopi terbesar. Pada 2022 diketahui Uzbekistan mengimpor sekitar 340 ton kopi yang secara data diketahui selama Januari – September 2022.

Merebaknya Coffee To Go Di Mana-Mana
Sejauh mata memandang ada banyak seklai coffee to go di Uzbekistan. Semuanya rata-rata disinggahi turis. Sedangkan brand kopi dunia yang ada di Uzbekistan adalah Starbucks dan Gloria Jeans. Kami juga sempat melihat kopi saset dan ready to drink kopi Good Day, merek Indonesia di sana. Tapi menurut kami salah satu yang paling menonjol khususnya di Samarkand adalah coffee to go. Jadi di mana ada tempat turis, di sini coffee to go-nya merebak.

