ELIXIR COFFEE, KOPI YANG DIEKSTRAKSI DENGAN GELOMBANG SUARA - Majalah Otten Coffee
Ada banyak cara seduh yang dilakukan penikmat kopi untuk mendapatkan kenikmatan terbaik. Salah satunya dengan gelombang suara.
SAYA sendiri tak tahu kalau sound wave atau gelombang suara ternyata bisa membantu proses ekstraksi kopi. Sebelumnya seorang saintis asal Jepang Dr. Masaru Emoto yang pernah melakukan penelitian dengan menggunakan gelombang suara pada air yang mengakibatkan formasi kristal pada air berubah bentuk ketika diberikan suara-suara positif di dekatnya. Kini, teknik seperti ini ternyata diterapkan pada kopi yang kemudian melahirkan sebuah brand bernama Elixir Coffee.

Elixir Coffee sendiri adalah sebuah brand yang berasal dari Sydney Australia dan mulai berdiri sejak 2014 akhir oleh seorang interpreneur bernama Lee Safar. Lee Safar menggaet partner bisnisnya Nick Griffith seorang mantan juara barista dari Intillegentsia Coffee. Nick Griffith sendiri adalah seorang mixoligist di Los Angeles yang telah menciptakan aneka cocktails untuk club-club ternama seperti The Normandie Klub di Koreatown, dan Honeycut. Tak hanya dipasarkan di Sydney, Australia, Elixir Coffee juga secara ekslusif dipasarkan di Amerika Serikat oleh Copa Vida.
Sebelumnya, seorang teman saya pernah mencicipi Elixir Coffee di sebuah kedai kopi bernama Octane di Atlanta, Georgia. Menurutnya rasa cold brew yang satu ini sangat unik dengan cita rasa fruity, light dan tentu saja segar dalam tegukan. Warnanya sendiri cenderung seperti teh. Bening kekuningan dan ada pula yang kuning keemasan, tergantung jenis biji yang dipakai. Menurutnya, Elixir Coffee adalah kerumitan dalam rasa, tentunya dalam pengertikan positif. Kompleks, segar, kaya dan tentunya berbeda.

Lalu apa yang sebenarnya dilakukan gelombang suara hingga mampu mengekstraksi kopi sedemikian rupa? Pada Elixir Coffee sendiri dilakukan sebuah teknik bernama sonication-assisted extraction. Pihak Elixir Coffee sendiri mengatakan bahwa mereka hanya menggunakan kopi dan air yang dibuat layaknya cold brew selama 8 hingga 14 jam dan diberi alunan musik ‘tertentu’ dengan teknik yang disebut sonication. Secara ajaib, gelombang suara ini memberikan rasa yang halus, ringan, segar serta kompleksitas yang tak pernah didapatkan di jenis cold brew lainnya.
Wah, jadi tak ingin juga merasakan nikmatnya cold brew yang diekstraksi dengan gelombang suara. Atau jangan-jangan sudah ada yang pernah melakukannya di Indonesia hanya saja belum terekspos media? Kalau kalian, sudah pernah coba belum?
Foto utama dari coffeecities.net

