EKSPEDISI KONVERSI NEGERI - FLAVOR WHEELS JOURNEY: Writing Competition 2023 - Majalah Otten Coffee
Dengan tema: My Coffee Journey
Hanya tidak mudah, bukan tidak mungkin.
‘Kopi Fest Indonesia Writing Competition 2023’ yang diadakan oleh Otten Coffee menjadi angin segar bagi tim Ekspedisi Konversi Negeri, khususnya saya sendiri dalam berbagi kisah yang kami jalani selama 5 bulan mengaspal di jalur cincin kopi (the ring coffee).
Ekspedisi Konversi Negeri adalah kolaborasi 3 anak muda asal Sulawesi Selatan untuk melakukan perjalanan keliling Indonesia menggunakan sepeda.

Kecintaan terhadap kopi Indonesia yang akhirnya menyatukan misi kami bertiga untuk belajar, mendalami dan mengenal kopi-kopi Nusantara lebih dekat dan secara langsung ke petaninya. Selain itu, kami juga menyeduh dengan konsep ‘Slow Bar’ di beberapa kota yang kami singgahi dengan nama ‘Flavor Wheels Journey’.
Memulai perjalan yang tidak biasa ini sejak 18 Januari 2023, aspal panas membawa kami menyusuri tanjakan-tanjakan terjal wilayah penghasil kopi seperti: Bromo Tengger Semeru, Senduro Lumajang, Pegunungan Ijen, Bali Candikuning-Wanagiri, Sembalun Lombok dan Flores (masih dalam perjalanan).
Perjalanan ini adalah perjalanan bersepeda pertama kami bertiga dengan rute sejauh ini. Di hari pertama tiba di Surabaya, kami sudah dihadapkan dengan beberapa masalah kecil. Ban sepeda meledak, pedal kami patah dan harus dilas. Karena kejadian itu, atas dasar solidaritas, semua ikut menuntun sepeda sejauh 2 km sampai menemukan bengkel sepeda terdekat.
Pengalaman terberat di jawa juga kami rasakan ketika melewati jalur nongkojajar – hingga ke penanjakan Bromo. Jalur itu benar-benar membuat kami putus asa. Kami sempat menangis di jalur, merenungkan kenapa kami melakukan perjalanan ini.
Bahkan saat kami melintasi Alas Baluran, mental kami bertiga diuji. Setiap orang yang kami temui sepanjang jalur selalu mengingatkan kami untuk berhati-hati dan selalu berdoa jika melintasi wilayah itu. Kami tidak begitu paham maksudnya, dan apa yang salah dengan daerah itu. Belakangan baru terjawab ternyata Alas Baluran adalah jalur yang menghubungkan Situbondo dan Banyuwangi di sisi utara Jawa Timur. Menurut cerita, jalur ini menyimpan kisah mistis dan kejadian-kejadian janggal lainnya.
Setelah mengayuh sejauh 60 km, kami tiba di Taman Nasional Baluran. Ternyata jarak dari Balai sampai ke dalam Taman Nasional berjarak sekitar 12 km. Kami yang saat itu tergesah-gesah oleh ekspektasi dan rasa penasaran tinggi mengayuh ke dalam kawasan Taman Nasional tanpa perbekalan air yang banyak. Cuaca siang itu begitu terik, dehidrasi parah menyerang kami di tengah perjalanan hingga dalam sekejap menghabiskan cadangan air yang kami bawa.
Kami beberapa kali menghentikan mobil pengunjung yang lewat namun tidak ada satu pun yang berhenti. Tidak jauh dari lokasi tempat kami berdiri, ada satu bangunan yang memberi kami harapan. Air keran mengalir deras, dan bisa kami pakai minum beberapa teguk untuk melepas dahaga.
Tubuh yang terlanjur lelah oleh dehidrasi membuat kami menghentikan paksa mobil bak terbuka. Sepeda satu per satu kami naikkan, mobil melaju menyusuri aspal menembus hutan tropis Baluran hingga ke jalan Provinsi.
Kami merasakan begitu hebatnya kopi menjadi media komunikasi yang paling efektif dan berpengaruh dalam perjalanan panjang ini. Apapun topik obralan kami dengan orang baru, saat kami menyebut alasan perjalanan kami adalah untuk mengenal dan mendalami kopi lebih dekat, kami mendapat banyak kehangantan dari mereka supir-supir lintas kabupaten, masyarakat desa, petugas lalu lintas, basarnas, dan kuli bangunan. Dengan kopi di antara kami, obrolan berlangsung khidmat. Mereka begitu antusias mendengarkan kisah awal kami memulai perjalanan, begitu pun kami sangat teliti mendengar setiap apa pun yang mereka ceritakan tentang daerah dan kisah hidupnya.
Sepeda dan kopi. Dua hal yang berpengaruh besar dalam perjalanan ini. Sepeda membawa kami menuju desa Senduro di kaki gunung Semeru. Di Desa ini kami bertemu dengan Mas Rendi yang dulunya adalah peternak sapi perah namun beralih profesi menjadi petani kopi dan roastery. Mas Rendi menceritakan awal mula ia terjun ke industri kopi. Pada tahun 2020 saat dunia dilanda pandemi hebat, beberapa sapi juga ikut terdampak penyakit Antraks. Kondisi ini lah yang akhirnya menjadi alasan kuat Mas Rendi menjual sapi-sapinya dan banting setir menggeluti dunia kopi.
Masih dengan sepeda. Kami mengayuh ke arah pegunungan Ijen, menyebrangi selat Bali, dan menyusuri kekayaan alam Taman Nasional Bali Barat dan Utara Bali. Singaraja adalah tujuan utama kami di utara Bali. Singaraja terkenal dengan minuman tradisonalnya, Arak. Tapi siapa sangka di wilayah ini ternyata juga merupakan penghasil kopi legendaris, Banyuatis sejak 1960. Kopi Banyuatis secara produksi mengingatkan saya dengan kopi Liong khas Bogor. Di kemas dalam sasetan kecil untuk ukuran dua gelas menjadikan kopi Banyuatis lebih mudah diterima masyarakat.
Kami sepakat dengan tujuan mereka, “Mengedukasi orang minum kopi yang baik.” Dan itu juga yang kami lakukan selama ‘Slow Bar’ dalam ekspedisi. Kami menyeduh kopi filter tanpa gula, memaksimalkan ekstraksi agar rasa sweetness mendominasi hasil seduhan kami. Pelan-pelan kami ajarkan ke orang-orang yang kami temui di jalan, “Bahwa kopi sejatinya adalah bubuk yang disiram dengan air tanpa memerlukan kehadiran gula. Kopi mengajarkan kita konsep hidup apa adanya. Bagaimana menghasilkan rasa manis tanpa pemanis, menghasilkan asam yang nikmat untuk dikonsumsi dan pahit yang masih bisa ditoleransi.”
“Kopi adalah kopi, gula tidak selamanya dibutuhkan kopi, tapi rasa manis bisa dihasilkan dari kopi.”
Di Singaraja kami di sambut komunitas sepeda yang bermarkas di ‘Kedai Kopi Dekakiang’. Di kedai itu kami melakukan kegiatan sharing session dan nyeduh seru-seruan. Topik pembahasan kami melebar jauh sampai ke sejarah dan kebudayaan, namun berhasil kami bungkus dengan keterlibatan kopi dalam lahirnya sejarah dan budaya-budaya di Nusantara.
Mereka mengajak kami menelusuri sisi lain Bali. Memperkenalkan Singaraja sebagai Ibu Kota Bali pertama sebelum berpindah ke Denpasar. Memberi pemahaman baru ke kami bahwa sepeda pertama yang masuk di Bali ternyata melalui pelabuhan Singaraja.
Kami menemukan banyak keunikan di kota ini saat menelusurinya dengan sepeda, hingga fakta bahwa Ibunda dan Ayahanda Ir. Soekarno berasa dari Singaraja.
Begitulah cara kopi bekerja. Ia bukan sekadar minuman yang disajikan di atas meja. Lebih dari itu, kopi adalah akses masuk untuk semua aktivitas hidup yang kita jalani. Apapun profesinya, kopi selalu menjadi teman dalam lingkaran. Kehadirannya krusial, namun tepat sasaran.
Ekspedisi Konversi Negeri
Gowes Makassar – Timor Leste
Penulis: Hamcikaa
Berbahagialah dalam berbagi kisah,
terima kasih.
[Artikel Nominasi Kopi Fest Indonesia Writing Competition 2023]

