Dirty Latte Sebaiknya Menggunakan Susu Apa? Ini Pilihannya! - Majalah Otten Coffee
Dirty latte menjadi salah satu sajian kopi yang menarik perhatian bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena tampilannya. Segelas susu dingin berwarna putih menjadi dasar, kemudian espresso panas dituangkan perlahan di atasnya hingga menciptakan efek seperti kopi yang “mengotori” permukaan susu.
Berbeda dari iced latte biasa, dirty latte umumnya tidak menggunakan es batu. Susu dibuat sangat dingin, sementara espresso disajikan panas. Kontras suhu inilah yang menjadi salah satu karakter utama minuman tersebut. (Antara News)

Lalu, dirty latte sebaiknya menggunakan susu apa?
Jawaban paling sederhananya: susu full cream atau whole milk adalah pilihan yang paling aman untuk mendapatkan tekstur creamy dan rasa yang seimbang. Namun, susu oat khusus barista juga bisa menjadi pilihan yang sangat menarik, terutama untuk versi plant-based.
Mengapa Jenis Susu Penting untuk Dirty Latte?
Pada dirty latte, susu bukan sekadar bahan pelengkap espresso. Susu menjadi bagian terbesar dari minuman sehingga karakter susu akan sangat menentukan rasa akhir.
Espresso memiliki rasa yang intens, mulai dari pahit, fruity, acidic, nutty hingga chocolatey tergantung biji kopi dan proses roasting. Susu kemudian memberikan body, kelembutan, rasa manis alami, dan sensasi creamy yang membantu menyeimbangkan intensitas espresso. (Antara News)
Komposisi lemak dan protein juga berpengaruh terhadap tekstur susu. Penelitian mengenai milk foam menunjukkan bahwa kandungan protein memengaruhi karakter pembentukan foam, sementara kandungan lemak memengaruhi stabilitas dan sensasi tekstur. (ScienceDirect)
Namun, ada satu hal penting: dirty latte berbeda dengan latte panas.
Pada latte biasa, susu umumnya dipanaskan dan di-texture menggunakan steam wand. Dirty latte justru mengandalkan susu dingin sebagai bagian dari pengalaman minum. Karena itu, kemampuan susu menghasilkan microfoam bukan satu-satunya pertimbangan.

1. Susu Full Cream: Pilihan Klasik untuk Dirty Latte
Jika ingin membuat dirty latte dengan karakter creamy, rich, tetapi tetap clean, susu full cream adalah pilihan pertama yang layak dicoba.
Whole milk umumnya memiliki kandungan lemak sekitar 3–4 persen. Lemak memberikan sensasi lebih creamy dan body yang lebih penuh, sementara protein membantu membentuk struktur foam ketika susu dipanaskan. (Indonesia Specialty Coffee)
Untuk dirty latte dingin, keunggulan full cream justru terasa pada teksturnya.
Susu dingin full cream memberikan sensasi lembut ketika espresso panas masuk ke dalam gelas. Hasilnya adalah minuman dengan tiga pengalaman sekaligus: dingin dari susu, hangat dari espresso, dan creamy dari lemak susu.
Full cream juga relatif netral sehingga tidak terlalu mengubah karakter espresso. Karena itu, jika menggunakan specialty coffee dengan karakter cokelat, karamel, kacang-kacangan, atau sedikit fruity, full cream bisa menjadi pilihan yang aman.
2. Susu Oat Barista: Alternatif Plant-Based yang Menarik
Bagi yang tidak menggunakan susu sapi, barista oat milk merupakan salah satu alternatif terbaik untuk dirty latte.
Tetapi ada catatan penting: pilih produk yang memang bertuliskan “barista,” “barista edition,” atau “professional.”
Oat milk biasa tidak selalu diformulasikan untuk aplikasi kopi. Produk barista umumnya dirancang dengan komposisi lemak, emulsifier, dan stabilizer tertentu agar lebih tahan terhadap panas serta lebih stabil ketika digunakan bersama kopi. (Brewed Barista)

Untuk dirty latte, oat milk memberikan karakter yang sedikit berbeda dari susu sapi. Ada rasa manis seperti cereal atau grain yang dapat membuat espresso terasa lebih rounded.
Ini menarik terutama jika espresso yang digunakan memiliki karakter chocolatey, nutty, caramel atau roasted. Namun, oat milk juga bisa membuat karakter kopi menjadi lebih manis dan creamy. Jika tujuannya adalah menonjolkan acidity dan floral notes dari light-roasted specialty coffee, hasilnya bisa berbeda dibandingkan menggunakan full cream.
3. Susu Low Fat: Bisa, tetapi Body Lebih Ringan
Susu rendah lemak juga dapat digunakan untuk dirty latte.
Keuntungannya adalah rasa susu terasa lebih ringan sehingga espresso lebih menonjol. Namun, konsekuensinya adalah mouthfeel yang tidak se-creamy full cream.
Untuk espresso yang memiliki body tinggi, penggunaan low-fat milk bisa membantu membuat minuman terasa lebih ringan.
Sebaliknya, jika espresso sendiri sudah memiliki acidity tinggi dan body tipis, susu low fat berpotensi membuat keseluruhan minuman terasa kurang bulat. Jadi, low-fat bukan pilihan yang salah. Hanya saja, karakter akhirnya memang lebih lean.
4. Susu Almond: Lebih Aromatik, tetapi Tidak untuk Semua Espresso
Almond milk bisa digunakan, tetapi karakter almond cukup mudah muncul dalam minuman. Ini bisa menjadi kelebihan apabila espresso memiliki profil rasa yang cocok dengan kacang-kacangan. Namun, untuk specialty coffee dengan flavor notes yang kompleks, aroma almond dapat mengambil perhatian dari karakter asli kopi.
Karena itu, almond milk lebih cocok digunakan ketika memang ingin menciptakan signature drink dengan karakter rasa tertentu, bukan sekadar mencari pengganti susu sapi.

5. Susu Kedelai: Creamy dengan Karakter yang Lebih Khas
Soy milk memiliki kandungan protein yang relatif tinggi dibandingkan beberapa plant-based milk lainnya sehingga dapat menghasilkan tekstur yang cukup baik dalam minuman kopi. Namun, soy memiliki flavor khas yang lebih mudah dikenali.
Jika digunakan dengan espresso yang memiliki karakter nutty atau chocolatey, kombinasi tersebut bisa terasa menarik. Tetapi dengan kopi light roast yang floral dan fruity, karakter soy mungkin terasa lebih dominan.
Karena itu, pemilihan soy milk sebaiknya mempertimbangkan flavor profile espresso, bukan hanya jenis susunya. Jadi, Susu Apa yang Paling Cocok? Untuk versi klasik, full cream masih menjadi pilihan yang paling straightforward. Untuk versi non-dairy, pilih barista oat milk, bukan sembarang oat milk.
Apakah Susunya Harus Sangat Dingin?
Ya. Ini salah satu bagian penting dari dirty latte. Susu sebaiknya disimpan dalam kondisi dingin sebelum digunakan. Bahkan gelas juga dapat didinginkan terlebih dahulu.
Setelah itu, espresso ditarik dan segera dituangkan perlahan di atas susu. Perbedaan temperatur antara espresso panas dan susu dingin membantu menciptakan efek layering yang menjadi ciri khas dirty latte. (Antara News)
Teknik menuangkan juga penting. Espresso sebaiknya dituangkan perlahan agar lapisan kopi tetap terlihat di bagian atas sebelum perlahan menyatu dengan susu. Dengan kata lain, dirty latte bukan sekadar iced latte tanpa es. Kontras suhu dan layering justru merupakan bagian dari pengalaman minumnya.
Bagaimana dengan Susu UHT?
Susu UHT tetap bisa digunakan, terutama jika itu merupakan pilihan yang tersedia. Namun, penelitian mengenai karakteristik milk foam menunjukkan bahwa jenis pemrosesan susu dapat memengaruhi tekstur dan stabilitas foam, dengan susu pasteurisasi menunjukkan karakter foam yang berbeda dibandingkan UHT dalam kondisi tertentu. (ScienceDirect)
Untuk dirty latte yang tidak membutuhkan steamed milk atau latte art, persoalannya menjadi lebih sederhana: pilih susu yang memiliki rasa bersih, tekstur creamy, dan cukup dingin.
Tidak perlu mengejar susu yang khusus untuk steaming jika minuman memang dibuat tanpa pemanasan susu.

Dirty Latte Pakai Susu Apa?
Jika ingin membuat dirty latte klasik, gunakan susu full cream yang dingin. Susu ini memberikan body dan creaminess yang cukup untuk menyeimbangkan espresso panas tanpa terlalu mengubah karakter kopi. Jika ingin membuat versi plant-based, gunakan barista oat milk karena formulanya lebih cocok untuk aplikasi kopi dibandingkan oat milk biasa. Pada akhirnya, tidak ada satu susu yang mutlak paling benar. Susu yang ideal harus disesuaikan dengan karakter espresso.
Espresso yang bold dan chocolatey bisa sangat cocok dengan full cream.
Espresso yang manis dan nutty bisa menarik dengan oat milk.
Espresso yang ringan dan fruity mungkin membutuhkan susu dengan karakter lebih netral agar flavor kopinya tetap terasa.
Inilah alasan mengapa memilih susu untuk dirty latte sebenarnya bukan hanya soal “susu apa yang paling creamy”, tetapi tentang bagaimana susu dan espresso bekerja sebagai satu kesatuan rasa. Dan mungkin justru di situlah daya tarik dirty latte: satu gelas sederhana, tetapi perbedaan kecil pada jenis susu bisa mengubah seluruh pengalaman minumnya.
