NGOBROL DENGAN LOCAL HERO DARI PANTAN MUSARA, PEMENANG CUP OF EXCELLENCE 2022/2023 - Majalah Otten Coffee
Ajang internasional Cup of Excellence Indonesia 2022 sudah selesai digelar dan menghadirkan pemenang biji kopi skor tertinggi — 2 tahun berturut-turut dari Pantan Musara. Kami berkesempatan mengobrol dengan salah satu pemenangnya. Simak wawancara kami.
Pak Asman Arianto adalah sosok di balik kejayaan biji kopi Gayo Pantan Musara di Cup of Excellence 2022, dari 23 biji kopi yang keluar sebagai pemenang dengan perolehan tertinggi. Koperasi Ribang Gayo Musara mengirimkan 10 biji kopi ikut serta di CoE 2022 dan menakjubkannya, Pak Asman dan kawan-kawan membawa 8 penghargaan skor tertinggi.
Istimewanya lagi, pada CoE 2021, biji kopi asal Pantan Musara ini beberapa petaninya juga menyabet penghargaan skor tertinggi. Jadi bisa dibilang, para petani kopi di Koperasi Ribang Gayo Musara memenangkan CoE untuk 2 tahun berturut-turut.
|
|
Perjalanan Asman Arianto di Indutri Kopi Pantan Musara
Didorong oleh rasa penasaran tentang biji kopi asal Pantan Musara yang begitu kemilau di bawah naungan Koperasi Ribang Gayo Musara, tim kami pun berkesempatan untuk mengobrol langsung dengan Pak Asman selaku ketua koperasinya.
Perawakan ramah, obrolan kami langsung akrab seperti teman lama yang sudah tidak pernah bertegur sapa dan dipertemukan kembali. Walau obrolan jarak jauh ini terbatas waktu dan terganggu koneksi, saya dan tim sangat menantikan kesempatan melihat langsung bagaimana tanaman kopi di Pantan Musara ini tumbuh dan menjadi primadona di 2 tahunnya CoE Indonesia.
“Awalnya saya dan banyak petani kopi di Pantan Musara bertanam kopi untuk produksi kopi konvensional ke pasar umum. Setelah di Koperasi Ribang Gayo Musara, mulailah kami memproduksi tanaman kopi specialty, tergiur dengan potensi harga jualnya yang bagus dibandingkan kopi konvensional,” Pak Asman menuturkan kisahnya di industri kopi.
Pantan Musara Masuk Skor Tinggi di Cup of Excellence 2021/2022 dan Cup of Excellence 2022/2023
Tentunya banyak hal yang perlu dipelajari dan harus dilakukan karena standar kopi spesialti yang begitu ketat. Dulunya di Aceh, perkebunan kopi specialty masih terbilang sedikit dan yang paling populer hanya kopi specialty dari kabupaten Bener Meriah. Sekarang, industri kopi harus berbangga memiliki Pantan Musara dari kabupaten Aceh tengah.
Pak Asman menambahkan lagi perkenalannya dengan ajang CoE, “dulunya SCAI pernah mengadakan ajang yang serupa khusus di kabupaten Aceh Tengah, dan biji kopi asal Pantan Musara juga mendapatkan pengharga skor tertinggi, sejak saat itu saya dan teman-teman petani kopi di Koperasi Ribang Gayo Musara terus belajar untuk masuk ke industri kopi specialty. Hingga dikenalkan oleh ajang bergengsi Cup of Excellence ini,”.
Karena mayoritas penduduk di desa Pantan Musara ini adalah petani kopi konvensional, maka untuk beralih memproduksi kopi specialty tidaklah begitu sulit. Bahkan di koperasi pak Asman dan teman-teman petani sangat sering mengadakan pertukaran informasi, apa yang harus dilakukan untuk mencapai hasil panen yang berkualitas. Malahan tidak sedikit juga, satu atau dua petani kopi yang datang kepada ke Pak Asman untuk diskusi terkait perawatan tanaman kopi.

Pak Asman menjelaskan yang paling mendasar dalam perawatan kopi specialty adalah ketika masa panen itu sendiri. Ceri kopi yang dipetik haruslah ceri merah yang benar-benar matang, bahkan untuk kebun yang dikelolah oleh Pak Asman sendiri ketika masa penen tiba, anggotanya bisa lembur hanya untuk menyortir ceri kopi.
Ceri kopi yang benar-benar merah dan matang akan diproses pasca panen untuk pasar kopi specialty, sedangkan ceri kopi yang tergolong hampir merah atau tidak merah menyeluruh masih hijau akan diproses untuk pasar kopi konvensional.
Uniknya dari pengalaman pak Asman mengikuti 2 tahun CoE dan menang dua tahun berturut-turut, beliau menjelaskan biji kopi yang dikirim untuk ikut serta semakin bertambah banyak.
“Biji kopi yang kami ikut sertakan di CoE2022/2023 tidak jauh berbeda dengan biji kopi yang diikutkan untuk CoE2021/2022,” pak Asman mengungkapkan proses pasca panen tidak ada yang berubah.
Para petani kopi di Pantan Musara masih menerapkan pasca panen tradisional seperti full wash, natural, honey, dan wet haul atau lebih populer dikenal giling basah.
Tantangan dan Harapan pak Asman untuk kopi Pantan Musara
“Tiap kopi itu menurut saya bagus semua, yang berbeda adalah perlakuan kita terhadap kopi itu sendiri dari mulai perawatan hingga proses pasca panennya, mungkin karena petani kopi di Pantan Musara masih menerapkan perawatan tradisional tanpa bahan kimia sehingga biji kopi banyak mendapatkan skor tinggi di CoE2022-2023,” ungkap pak Asman.
Harapan pak Asman setelah CoE ini, semakin terbuka potensi kerjasama yang lebih luas, bahkan memungkinkan untuk permodalan ataupun sejenisnya. Produksi tiap bulannya bisa hingga 10 sampai 20 ton, dan pernah dikirimkan ke kota besar di Indonesia bahkan sampai luar negeri seperti Amerika, negara-negara Eropa dan daerah Timur Tengah. Hanya saja pengirimannya masih terbilang sedikit dibandingkan jumlah produksi kopi specialty Koperasi Ribang Gayo Musara.
Apakah Anda penasaran bagaimana cita rasa khas dari seduhan kopi asal desa Pantan Musara, kecamatan Pegasing, kabupaten Aceh Tengah ini? Pak Asman menutup obrolan dengan pesan singkat untuk para penikmat kopi specialty secara umum untuk menjawab pertanyaan ini,
“Anda dapat merasakan pengalaman menikmati kopi dari biji kopi pemenang Cup of Excellence dan salah satunya dari Koperasi Rimbang Gayo Musara. Selain itu, tentunya biji kopi Pantan Musara juga bisa kalian dapatkan di Otten Coffee. Langsung order saja!”
Selengkapnya tentang Cup of Excellence.
Dinarasikan Yoga A Musika, hasil interview Lingga Arieska. Dok. foto oleh pak Asman.




