Cerita Kopi: Membuka Banyak Pintu - Majalah Otten Coffee
Ini adalah cerita kopi saya. Pertama kalinya saya memegang mesin roasting. Bukan lagi dengan penggorengan dari tanah liat. Untuk pertama kali juga saya menyicip kopi tanpa gula dan meminum kembali kopi setelah 20 tahun berhenti dari kebiasaan masa kecil saya.
Suatu pagi.
“Minum teh atau kopi dulu biar hangat perutnya. Sudah Nenek siapkan di meja,” sebuah suara membuka obrolan pagi itu.
“Jangan lupa sarapan” imbuhnya.
“Ya, Nek” jawab bocah kecil itu.
Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun lamanya. Dihadapkan pada pilihan antara teh hangat kental manis nasgitel (panas, legi, tur kentel) (panas, manis dan juga kental,red)) atau kopi hitam manis.

Ya, satu diantara dua minuman itu menjadi penghangat perut dan energi pagi sebelum sekolah. Sampai dengan kelas 5 SD (Sekolah Dasar) di tahun 1997, minuman itu selalu menjadi pemberi energi di awal hari. Namun lewat pertengahan tahun setelahnya, tidak ada pilihan selain hanya segelas teh hangat saja yang menemani. Tepat ditanggal 9 Agustus 1997, nenek yang biasa menyiapkan 2 minuman itu, meninggal. Tentu kebiasaan itu tidak berlanjut lagi, temasuk aktivitas menyangrai kopi.
Saat itu, saya hanya tahu dan kenal bahwa sangrai menggunakan penggorengan dari tanah liat. Setiap dua atau tiga hari sekali, entah di waktu pagi atau sore hari, saya akan melihat nenek menyangrai kopi, kemudian menumbuknya menggunakan alu dan mortal dari batu dan mengayaknya.
Nenek kemudian mengemas serbuk kopi dalam plastik dan menjajakannya bersamaan dengan tape yang beliau buat. Tidak lupa, nenek akan menyisihkan sebagian dalam toples untuk diseduh setiap pagi. Harum semerbak kopi sangrai menjadi aroma yang familiar di indra penciuman saya karena khas dihirup setiap kali nenek menyangrai kopi. Ya, anak kecil itu adalah saya!
Dua puluh tahun kemudian, siapa sangka bahwa pengalaman masa kecil itu akan membekas dan membawa saya bergelut langsung dengan kopi yang saya mulai di tahun 2017.
“Sudah pernah pegang mesin roasting?” tanya seseorang
“Belum” jawab saya.
“Oke, kamu coba mesin roasting ini dan belajarlah!” ujarnya dalam nada perintah.
Itu pertama kalinya saya memegang mesin roasting. Bukan lagi dengan penggorengan dari tanah liat. Untuk pertama kali juga saya menyicip kopi tanpa gula dan meminum kembali kopi setelah 20 tahun berhenti dari kebiasaan masa kecil saya.
Tidak disangka bahwa perjalanan menjadi seorang penyangrai kopi, atau sekarang ini orang lebih mengenalnya dengan sebutan roaster justru berawal dari memori harum itu. Harum kopi sangrai yang membuat saya candu.
Harum kopi pulalah yang membangkitkan kembali kenangan manis pengalamanmasa kecil saya. Harum yang kemudian berkembang dan saya kenal sebagai harum buah, bunga, manis dan lain sebagainya. Harum yang selalu saya rindukan bila tidak menghirupnya beberapa waktu. Ya, harum kopi ketika di roasting.
Enam Tahun Roasting Kopi

Dengan berjalannya waktu, tidak terasa sudah 6 tahun saya me-roasting kopi dan menghirup aroma kopi yang keluar selama proses sangrai. Sepanjang waktu itu, saya belajar satu hal mendasar bahwa meroasting kopi bukanlah perkara mudah. Bukan hanya memasukkan kopi ke dalam mesin roasting kopi kemudian menunggunya hingga menjadi hitam, kemudian proses roasting kopi selesai. Bukan.
Kopi masih bisa dinikmati dengan cara yang “layak” dan membuatnya enak. Tidak hanya persepsi pahit seperti yang dikenalkan nenek moyang kita. Untuk membuat kopi enak dan layak, saya menyadari bahwa ilmu dan skill dalam meroasting kopi sangat dibutuhkan.
Mengenal tentang level roasting kopi adalah awalan yang saya ketahui. Kita ternyata bisa membuat satu jenis kopi dengan beragam rasa dengan level roasting berbeda. Satu pengetahuan ini semakin menyeret saya masuk ke dalam “pintu” untuk belajar lebih tentang kopi.
Untuk tahu beragam rasa dalam secangkir kopi misalnya, maka indera pengecapan harus mempunyai sensitivitas. Kepekaan lidah merupakan hal lain yang harus saya pelajari. Pintu ilmu lain yang kemudian perlu saya buka adalah bahwa ada proses pasca panen dalam kopi yang mempengaruhi rasa dalam kopi. Menarik dan menakjubkan!! Semakin menakjubkan ilmu kopi ini, begitu pikir saya.
Semakin saya masuk dan membuka pintu rasa ingin tahu, semakin saya seperti “terperangkap” dalam lorong panjang yang harus saya cari ujungnya untuk mendapatkan jawaban. Satu hal yang menjadi keyakinan saya untuk melangkah bahwa kopi ini bukan hanya sekedar minuman berwarna gelap, tapi ada ilmu pengetahuan dalam memprosesnya. Ilmu pengetahuan yang tanpa henti harus dipelajari tanpa batas.
Dan sekarang pintu itu telah membawa saya sampai di sini, memetik kopi ceri kemudian memprosesnya, menyemangati petani supaya menanam kopi dengan hati dan bersemangat dan akan terus mendampingi petani menghasilkan kopi-kopi terenak Indonesia. Karena kopi bukan hanya sekedar minuman biasa, dia adalah karya. Karya bernilai yang dihasilkan orang yang mau belajar dan terus belajar. Dia membuka banyak pintu hingga sampai di perjalanannya saat ini.
Penulis: Laela Nur Rokhmah (laelarokhmah3@gmail.com)
