CERITA CANGKIR KOPI: DARI PETANI HINGGA KONTRIBUSINYA TERHADAP GDP - Majalah Otten Coffee
Selain kenikmatannya, kopi juga punya cerita lain yang luar biasa. Berasal dari pohon yang hidup di ketinggian 1500 mdpl dengan suhu 15-23 0C, kopi telah berhasil mengukir cerita bersama para tokoh pemainnya.
Bagaimana tidak, dibutuhkan waktu sekitar 5 tahun untuk mengubah tunas pohon kopi menjadi secangkir minuman yang dapat memberikan kebahagiaan bagi para penikmatnya, menjadi teman tugas kuliah, ngobrol tanpa arah, hingga sekadar menikmati suasana.
Tokoh pemainnya pun beragam, mulai dari petani, pemilik kedai kopi, barista, hingga penikmatnya sendiri. Hegemoni minum kopi memang terus meningkat setiap tahunnya. Kopi yang dulu hanya dinikmati oleh orang-orang lanjut usia, kini telah menjadi opsi bagi para remaja. Oleh karena itu, sulit rasanya jika tidak memikirkan bahwa kopi juga berkontribusi pada sektor yang jauh lebih besar, termasuk ekonomi.
Kontribusi Terhadap GDP
Terdapat 1,3 juta petani di Indonesia dan terdapat 7 juta penduduk yang menggantungkan hidupnya dari biji kopi. Dengan lahan seluas 1,25 juta Ha, petani tersebut diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar yang mencapai 5 juta kantong berukuran 60 Kg.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2022, produksi kopi di Indonesia mencapai 794,8 ribu ton. Jumlah produksi tersebut melanjutkan tren positif peningkatan produksi kopi antara 1-2% setiap tahunnya, meskipun persentase tersebut masih dibawah harapan dari International Coffee Organization yang memperkirakan peningkatan produksi hingga 3-5,8%.
Angka yang besar bukan? Industri yang berjalan di balik cangkir kopi tentu memberikan kontribusi yang positif terhadap sektor ekonomi, sebut saja Growth Domestic Product (GDP). GDP adalah jumlah nilai tambah dari suatu barang atau jasa yang diproduksi di suatu negara tertentu dan dalam periode waktu tertentu. GDP telah menjadi salah satu parameter pengukuran utama aktivitas ekonomi suatu negara.
Faktor produksi GDP berasal dari berbagai sektor, baik migas maupun non-migas, termasuk perkebunan. Kopi telah menjadi komoditas unggulan karena telah menyumbang kontribusi sebesar 16,15% dari total GDP sektor perkebunan, tertinggi ketiga setelah kelapa sawit dan karet alam.
Pertanyaannya, apakah peningkatan produksi sebesar 1-2% sudah optimal? Jika melihat potensi yang ada, rasanya belum. Jumlah petani di Indonesia lebih tinggi dibanding jumlah petani kopi di Kolombia dan Vietnam, namun kedua negara tersebut menjadi produsen kopi tertinggi kedua dan ketiga di dunia, melampaui Indonesia di urutan keempat.
Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk mengoptimalkan besarnya potensi biji kopi di Indonesia, dimana salah satu yang bisa dilakukan adalah meningkatkan peran industri kreatif dalam post-produksi biji kopi.
Peran Industri Kreatif dalam Post-Produksi
Masih ingat film Filosofi Kopi? Betul, film yang telah dirilis tiga kali sejak pertama kali diputar di Bioskop tahun 2015 tersebut, secara tidak langsung telah mengubah paradigma masyarakat Indonesia tentang budaya minum kopi.
Meskipun ketiga film-nya tidak pernah ditonton oleh lebih dari 500 ribu penonton, namun cerita Ben dan Joddy sebagai dua sahabat yang memperjuangkan coffee shop dan petani kopi telah menginspirasi berbagai kalangan untuk ikut berkontribusi dalam memperjuangkan industri kopi.
Alhasil, jumlah coffee shop di Indonesia yang hanya berkisar 1.000 gerai per tahun 2016 meningkat hampir 3 kali lipat pada tahun 2019 menjadi 2.950 gerai. Peningkatan tersebut banyak terjadi di daerah urban, sebut saja Yogyakarta yang hanya memiliki 350 kedai kopi pada 2014 dan meningkat hingga 1.100 kedai pada tahun 2018. Tidak hanya jumlah coffee shop, awal tahun 2022 kemarin ditandai dengan adanya perusahaan waralaba bidang food and beverage (FnB) pertama yang memiliki valuasi lebih dari 1 milliar USD alias Unicorn. Perusahaan yang memiliki lebih dari 3000 karyawan yang tersebar pada 600 gerai di 45 kota seluruh Indonesia tersebut memberikan hilirisasi dampak industri hingga ke petani kopi.
Peran industri kreatif sangat lah nyata, kita bisa melihat bagaimana konsep American dream tercermin pada film-film Hollywood-nya, bagaimana paparan K-Pop dapat meningkatkan ekspor produk skin care ala Korea, dan lain-lain. Peningkatan peran industri kreatif tidak hanya terbatas pada seni peran layar lebar, tapi juga seni peran teater, karya-karya puisi, sastra, hingga konten media sosial.
Membuat karya seni yang relatable dengan cangkir kopi seharusnya bukan lah perkara sulit, karena itu akan merefleksikan budaya masyarakat Indonesia pada umumnya. Penulis puisi dapat menceritakan sosok kakek yang berjuang hari demi hari untuk merawat kebun kopi yang setiap tahunnya terdampak erupsi gunung Merapi, pegiat TikTok atau Instagran dapat memberikan edukasi perbedaan masing-masing varietas biji kopi yang tersedia, menjadikan coffee shop sebagai tempat pertunjukan bakat kesenian seperti mendongeng, dan lain-lain.
Persaingan di Industri kreatif memang berat, namun kopi selalu punya cara untuk membuat mereka berhenti sejenak dan duduk bersamanya.
Penulis: Mochamad Afifudin
