Cascara: 'Teh' dari Kulit Ceri Kopi yang Biasanya Dibuang — Manis Buah Kering & Semangat Zero-Waste - Majalah Otten Coffee
Bayangkan ada bagian dari buah kopi yang rasanya manis seperti kismis dan bunga rosela, tapi selama puluhan tahun cuma berakhir jadi tumpukan kompos di belakang tempat pengolahan. Itulah cascara — kulit dan daging ceri kopi yang dikeringkan, lalu diseduh jadi minuman hangat mirip teh.
Kalau kamu sudah kenal kopi honey process atau natural, kamu sebenarnya sudah “berkenalan” dengan bahan ini tanpa sadar: cascara berasal dari bagian buah yang sama, cuma nasibnya berbeda. Di artikel ini kita bahas apa itu cascara, dari mana asal rasa manisnya, kenapa ia jadi simbol gerakan zero-waste di dunia kopi, plus cara menyeduhnya di rumah biar gak mubazir.
Kita tetap jujur soal fakta — termasuk soal kafein dan klaim kesehatan yang sering dilebih-lebihkan.
Cascara Itu Sebenarnya Apa?
Kata “cascara” berasal dari bahasa Spanyol yang artinya “kulit” atau “cangkang”. Dalam dunia kopi, cascara merujuk ke kulit luar dan daging (pulp) buah ceri kopi yang dikeringkan setelah bijinya diambil.
Buah kopi punya beberapa lapisan: kulit luar, daging buah manis, lapisan lendir (mucilage), kulit tanduk, lalu biji hijau di dalamnya. Yang selama ini kita seduh sebagai “kopi” adalah bijinya. Nah, saat biji diproses — terutama lewat metode washed — kulit dan dagingnya dikupas dan biasanya dibuang.
Cascara adalah upaya “menyelamatkan” bagian itu: dijemur sampai kering, lalu diseduh layaknya teh herbal (tisane). Jadi secara teknis cascara bukan teh sungguhan (bukan dari daun Camellia sinensis), melainkan seduhan buah kering.
Dari Mana Asal Rasa Manis Buah Kering-nya?
Daging ceri kopi matang memang manis — itu sebabnya luwak dan burung suka memakannya. Saat dikeringkan, gula alaminya makin pekat, mirip proses anggur jadi kismis atau plum jadi prune.
Profil rasa cascara umumnya condong ke:
- Buah kering manis: kismis, kurma, cherry, kadang mangga atau tamarind.
- Floral & asam menyegarkan: rosela (hibiscus), rosehip, sedikit seperti teh buah.
- Sentuhan seperti madu atau gula merah di aftertaste.
Karakter persisnya beda-beda tergantung origin, varietas, dan tingkat kematangan ceri saat dipetik — sama seperti biji kopinya. Cascara dari ceri yang dipetik matang penuh (petik merah) cenderung lebih manis dan bersih.

Semangat Zero-Waste: Kenapa Cascara Penting
Inilah bagian yang bikin cascara menarik bukan cuma soal rasa. Untuk memproduksi kopi, sebagian besar massa buah justru terbuang — biji hanya sebagian kecil dari berat ceri utuh.
Di banyak tempat pengolahan, kulit dan daging buah yang menumpuk bisa jadi masalah: kalau membusuk tanpa dikelola, air lindinya berpotensi mencemari sungai. Mengeringkannya jadi cascara mengubah “limbah” ini menjadi produk bernilai tambah.
Buat petani, ini bisa jadi sumber pendapatan ekstra dari bahan yang tadinya gratis dibuang. Buat kita peminum, ini cara menikmati satu buah kopi lebih utuh — dari biji sampai kulitnya. Filosofi nose-to-tail ala dunia masak, tapi versi kopi.
Perlu dicatat: cascara berkualitas tetap butuh penanganan higienis dan pengeringan yang benar, sama seperti pangan lain. Di Uni Eropa, misalnya, cascara sempat baru resmi diklasifikasikan sebagai novel food pada awal 2020-an — tanda bahwa regulasinya masih terus berkembang.
Cara Menyeduh Cascara di Rumah
Kabar baiknya: menyeduh cascara gampang dan gak butuh alat khusus. Perlakukan seperti teh herbal.
Versi hangat (seduh cepat):
- Takar sekitar 5–8 gram cascara kering untuk 200–250 ml air.
- Panaskan air ke sekitar 90–95°C (mendekati mendidih lalu diamkan sebentar).
- Seduh dan diamkan 4–5 menit. Makin lama, makin pekat dan makin terasa asam-sepatnya.
- Saring, lalu minum hangat. Gak perlu gula — manisnya sudah alami, tapi tambahan madu tipis juga cocok.
French press sangat pas untuk ini karena plunger-nya langsung memisahkan ampas dari seduhan.

Untuk kontrol suhu dan tuang yang rapi, gooseneck kettle memudahkan, terutama kalau kamu terbiasa manual brew.

Versi dingin (cascara cold brew / iced tea):
Rendam cascara dalam air dingin (rasio kira-kira 8–10 gram per 250 ml) di kulkas selama 8–12 jam, lalu saring. Hasilnya minuman menyegarkan mirip es teh buah — enak disajikan dengan es dan seiris jeruk nipis.

Tips: mulai dari takaran encer dulu, lalu naikkan sesuai selera. Karena teksturnya ringan, cascara juga asyik dijadikan campuran — misalnya sebagai sirup cascara untuk topping soda atau espresso tonic.
Berapa Kadar Kafeinnya?
Ini pertanyaan yang paling sering muncul, dan jawabannya perlu kehati-hatian.
Cascara mengandung kafein, karena berasal dari tanaman kopi. Namun jumlahnya umumnya jauh lebih rendah dibanding secangkir kopi seduh biasa — beberapa pengujian menunjukkan kandungannya lebih dekat ke teh, meski angkanya bervariasi tergantung takaran dan lama seduh.
Artinya cascara bukan minuman bebas kafein. Kalau kamu sensitif kafein atau menghindarinya menjelang tidur, tetap batasi jumlahnya. Jangan anggap ini “teh tanpa kafein”.
Kesalahan Umum Saat Pertama Coba Cascara
- Menyeduh terlalu lama atau terlalu pekat. Overdosis takaran bikin rasa jadi terlalu sepat dan asam. Mulai ringan.
- Air terlalu mendidih 100°C. Bisa menonjolkan sisi pahit; air agak diturunkan lebih ramah.
- Berharap rasanya seperti kopi. Cascara lebih dekat ke teh buah — nikmati apa adanya.
- Menyimpan sembarangan. Simpan di wadah kedap udara, jauh dari lembap dan matahari, supaya aroma buah keringnya awet.
FAQ
Apakah cascara sama dengan kopi? Tidak. Cascara dibuat dari kulit dan daging buah kopi yang dikeringkan, bukan dari bijinya. Rasa dan cara seduhnya lebih mirip teh herbal daripada kopi.
Apakah cascara aman diminum setiap hari? Sebagai minuman, cascara umumnya dinikmati layaknya teh. Tapi karena mengandung kafein dan regulasinya di beberapa negara masih berkembang, konsumsi secukupnya dan pilih produk yang diproses higienis. Kalau punya kondisi kesehatan tertentu, konsultasikan dulu ke tenaga medis.
Apa bedanya cascara dengan kopi honey atau natural? Bahan bakunya sama-sama dari ceri kopi. Bedanya, honey dan natural adalah metode mengeringkan biji dengan sebagian daging buah masih menempel, sementara cascara justru menyeduh daging dan kulitnya yang sudah dipisahkan dari biji.
Kenapa cascara belum sepopuler kopi biasa? Produksinya masih terbatas, butuh penanganan pengeringan yang benar, dan di sejumlah pasar regulasi pangannya baru tertata. Tapi minatnya terus naik seiring tren zero-waste.
Penutup
Cascara adalah pengingat manis bahwa satu buah kopi menyimpan lebih dari sekadar biji. Dari bagian yang dulu dibuang, kita dapat minuman manis buah kering yang menyegarkan — sekaligus ikut mengurangi limbah pengolahan kopi.
Kalau kamu penasaran ingin mencoba, mulai saja dengan menyeduh takaran kecil pakai alat yang sudah ada di rumah, seperti French press atau teko biasa. Untuk melengkapi ritual seduhmu — dari kettle leher angsa sampai aneka biji dan produk eksplorasi rasa — kamu bisa lihat-lihat koleksi alat seduh manual di Otten Coffee dan pilih yang paling cocok dengan gaya ngopi (dan ngeteh cascara) kamu.
