BUNA TETU; TRADISI NGOPI DI ETHIOPIA - Majalah Otten Coffee
Sejak ditemukannya ceri kopi secara tidak sengaja, kopi seperti menjadi saksi di beberapa perkembangan budaya di daerah kopi tumbuh dan menjadi tren, tradisi Buna Tetu di Ethiopia.
UNTUK mereka yang menikmati kopi seperti menikmati damainya embusan angin, Ethiopia adalah sebuah angin dari arah barat yang menghadirkan musim semi layaknya mitologi Yunani. Jika kopi kini adalah sebuah tren, di tiap masa pun kopi menjadi tren dan akhirnya menjadi sebuah budaya yang hidup di lingkungan masyarakat. Hampir tiap daerah punya cerita menarik akan minuman kopi, di Indonesia sendiri; bagaimana sebutan “kopi tubruk” menjadi sebutan metode seduhan tradisional. Saya yakin pasti ada cerita menarik dibalik sebutan “kopi tubruk”, juga cerita manarik lainnya akan kopi di daerah-daerah Indonesia.
Buna Tetu dari bahasanya berarti “minum kopi”, erat kaitannya dengan kebudayaan yang tumbuh di Ethiopia, di sini Buna Tetu seperti sebuah seremoni jejaring sosial, melibatkan banyak orang saling bertukar cerita. Menyeduh kopi kemudian diberikan dari yang muda untuk mereka yang lebih tua, seremoni yang mempererat hubungan sosial antar keluarga juga hubungan bermasyarakat. Dan biasanya pada seremoni Buna Tetu di Ethiopia, jika ada anak-anak, mereka para anak-anak akan melayani memberikan cangkir kopi pada yang lebih tua terlebih dahulu di seremonial ini. Tradisi ini sangat menarik, belum lagi cerita dibalik persiapannya dan juga cerita dibalik 3 putaran minum kopi dalam seremoni minum kopi ini. Dari mulai meroasting, persiapannya dilakukan sendiri di rumah, dan biji kopi pun terkadang biji kopi dari kebun sendiri.
SEREMONI KOPI DI ETHIOPIA
Seremoni kopi ini biasanya dilakukan untuk menyambut tamu di kediaman mereka atau pada event-event tertentu dalam masyarakat. Selalunya yang menyeduhnya seorang wanita, atau seorang wanita yang paling muda di kediaman tersebut. Kemudian setelah diseduh, barulah yang paling muda akan memberikan kopi kepada yang tua sebagai bentuk rasa penghormatan yang santun padanya.

Jika seremoni ini diadakan untuk menyambut tamu di kediaman mereka, yang paling muda di kediaman mereka akan memberikan kopi pertama untuk para tamu yang hadir. Setelah kopi sudah dibagikan, lanjutlah dibagikan makanan ringan seperti roti dibagikan, makanan ringan di sini adalah opsi, tidak selalunya roti terkadang popcorn, dan juga kacang-kacangan. Seremoni ini dilakukan sebagai penghormatan dan penyambutan tamu yang hadir di rumah mereka.
Burning Sandalwood/ Sebelum menyeduh kopi untuk nantinya disajikan, langkah pertama sebagai syarat seremonial ini adalah menambah kesan aroma yang mendalam dengan membakar potongan kecil kayu cendana. Aroma kayu cendana akan meremang sepanjang ritual ngopi ini berlangsung.
Kaytama is Scattered on The Floor/ Dalam bahasa Amharic, “kaytama” adalah rumput varietas khusus yang sengaja ditebar di lantai rumah sebagai bentuk penyambutan, dan menjadi salah satu materi yang perlu dipersiapkan untuk melakukan seremoni.
Pouring and Serve/ Menyeduh kopi, merebusnya dari ketle yang dalam bahasa Amharic disebut “jebena” teknik menyeduhnya seperti kopi ibrik. Dan menuangkannya di cangkir dengan agak menjauhkan ketle agar jatuhan air tinggi, namun tidak bersuara saat kopi jatuh ke cangkir. Saat menyajikannya, kopi pertama untuk para tamu kemudian kopi selanjutnya untuk anggota keluarga.
Abol, Tona, Baraka/ Pada seremoni ini, orang Ethiopia percaya pada 3 putaran minum kopi ini ada magis di dalamnya, dan menyelesaikan kesemuanya yang maknanya menyelesaikan cangkir ke 3 mereka, akan mendapatkan keberkatan. Abol sebutan putaran pertama, Tona putaran kedua, Baraka putaran ketiga. Tiga cangkir kopi dalam sekali duduk.
Pada seremoni ini, kopi menjadi sebuah sarana saling bertukar cerita pada hubungan bermasyarakat, dan topik pembahasan pun tidak membatasi obrolan, topik apa saja bisa menjadi bahan cerita.
src: travelgluttons.com thespruce.com sprudge.com img: travelgluttons

