Buka Booth di Mall? Pertimbangkan Hal Ini! - Majalah Otten Coffee
Buka booth di mall bukan hanya soal berdagang di tempat ramai.

Ini adalah strategi pemasaran langsung yang bisa memperkuat eksistensi merek, menguji pasar, atau bahkan menjadi langkah awal sebelum membuka toko permanen. Namun, tingginya persaingan dan biaya sewa yang tidak murah membuat keputusan ini perlu disertai perencanaan matang. Artikel ini akan membahas delapan hal penting yang wajib dipertimbangkan sebelum kamu membuka booth di mal, disertai insight dari berbagai sumber bisnis terkini.
Cari tau event Kopi Fest Indonesia!
1. Tujuan yang Jelas: Awareness atau Penjualan?
Langkah pertama yang paling krusial adalah menjawab pertanyaan: kenapa kamu ingin buka booth di mal? Beberapa brand membuka booth untuk meningkatkan penjualan langsung, sementara yang lain fokus pada memperkenalkan produk ke audiens baru. Menurut KoinWorks dan MokaPOS, tujuan ini akan memengaruhi cara kamu mendesain booth, mengatur strategi promosi, hingga mengukur keberhasilan.
Misalnya, jika tujuannya adalah brand exposure, maka aktivitas interaktif seperti sampling, kuis, atau live demo produk lebih tepat ketimbang fokus pada transaksi penjualan. Sebaliknya, jika fokus pada omzet, maka strategi diskon dan penawaran terbatas (flash sale) bisa menjadi daya tarik utama.

2. Lokasi adalah Segalanya
Dalam dunia booth dan pop-up store, istilah “lokasi menentukan prestasi” sangat relevan. Pilih lokasi strategis yang ramai lalu lintas, misalnya dekat pintu masuk utama, dekat eskalator, atau persimpangan antara dua koridor utama. Hindari area yang “mati” atau tersembunyi dari arus pengunjung.
Beberapa pusat perbelanjaan juga menyediakan event space khusus untuk bazar tematik, seperti fashion week, kuliner, atau UMKM kreatif. Lokasi seperti ini biasanya sudah menarik target pasar yang relevan. Kamu boleh kunjungi mal secara langsung pada hari kerja dan akhir pekan untuk mengamati lalu lintas pengunjung sebelum memilih lokasi booth.
3. Biaya Sewa & Persyaratan Teknis
Setiap mal memiliki kebijakan sewa yang berbeda. Kamu perlu memahami secara detail:
- Biaya sewa per hari/minggu/bulan
- Uang jaminan atau deposit
- Apakah booth perlu desain khusus atau disediakan pihak mal
- Kebutuhan listrik dan air
- Jam operasional
Menurut Total-Expo dan beberapa EO penyedia booth, sewa booth ukuran 2×2 meter di mal kelas menengah bisa berkisar antara Rp3–5 juta per minggu, sedangkan di mal premium bisa dua hingga tiga kali lipatnya. Pastikan kamu sudah memperhitungkan ini dalam proyeksi keuntungan.

4. Desain Booth yang Menarik dan Fungsional
Desain booth yang baik bukan hanya estetika, tapi juga fungsional. Pertimbangkan:
- Warna dan visual yang sesuai brand
- Pencahayaan yang cukup
- Penempatan produk yang mengundang eksplorasi
- Akses masuk yang terbuka (jangan terlalu tertutup)
Brand seperti Miniso atau Pop Mie Corner pernah sukses dengan desain booth yang memikat secara visual sekaligus mengajak pengunjung untuk mencoba. Jika budget terbatas, kamu bisa menggunakan standing banner, rak modular, atau backdrop kain yang ringan dan mudah dibongkar-pasang.
5. Persiapan Produk & Inventaris
Sebelum booth dibuka, pastikan kamu sudah menghitung kebutuhan stok produk berdasarkan estimasi pengunjung harian. Jangan sampai kehabisan stok saat booth sedang ramai.
Gunakan sistem pencatatan stok sederhana, bisa pakai aplikasi seperti MokaPOS atau spreadsheet untuk tracking manual. Juga, siapkan:
- Alat transaksi (QRIS, e-wallet, cashbox)
- Kantong kemasan dan kartu nama
- Katalog produk (jika produk punya banyak varian)
6. Promosi Sebelum dan Selama Booth
Promosi harus dimulai minimal seminggu sebelum booth dibuka. Manfaatkan media sosial untuk:
- Mengumumkan kehadiran booth
- Membagikan voucher atau diskon khusus
- Mengadakan giveaway dengan syarat kunjungan
Selama booth berlangsung, minta pengunjung tag akun bisnismu atau unggah foto mereka di booth sebagai bagian dari promosi user-generated content (UGC). Menurut data Harmoni Kreasi Digital, booth yang aktif di media sosial memiliki tingkat konversi pengunjung yang lebih tinggi.
7. Staf yang Ramah dan Terlatih
Satu hal yang kerap diabaikan: siapa yang akan menjaga booth? Pastikan orang yang kamu pilih:
- Ramah dan aktif menawarkan produk
- Menguasai informasi dasar tentang produk
- Siap menghadapi keluhan atau pertanyaan sulit
Pelayanan yang buruk akan merusak reputasi brand, bahkan jika booth-nya sudah didesain sebaik mungkin. Latih staf atau partner kamu sebelumnya dengan simulasi tanya jawab ringan.
8. Evaluasi Kinerja Booth
Setelah booth selesai, jangan langsung pindah ke event berikutnya. Lakukan evaluasi menyeluruh:
- Berapa banyak produk terjual?
- Apakah target tercapai?
- Feedback pelanggan?
- Apakah lokasi dan waktu sudah ideal?
Jika booth menguntungkan, pertimbangkan membuat jadwal rutin atau membuka booth di mal lain dengan karakter pasar serupa.
Siapkan dengan Serius
Membuka booth di mal bisa jadi strategi cerdas untuk memperluas jangkauan pasar, selama disiapkan dengan serius. Dari pemilihan lokasi, desain booth, hingga interaksi dengan pelanggan semuanya harus diperhitungkan. Ingat, booth bukan sekadar tempat jualan, tapi perpanjangan identitas brand kamu di dunia nyata. Dengan perencanaan yang matang, bukan tidak mungkin booth kecilmu di pojok mal jadi awal dari bisnis yang besar dan berkelanjutan.
Rekomendasi mesin kopi rumahan
Disc. hingga 1JT* Mesin Kopi Breville

