Buka Bisnis Kopi itu Mudah! Menjalankannya itu yang Sulit: Writing Competition 2023 - Majalah Otten Coffee
Saya adalah seorang karyawan swasta di salah satu startup. Ketika pandemi datang dan mengharuskan saya bekerja dari rumah, saya mulai merasa bosan dan mencoba mencari kegiatan yang bisa mengisi waktu luang. Mulai memelihara kucing, burung, bahkan ikan cupang, semua dilakukan. Selain itu, saya juga sering bekerja di kedai kopi dekat rumah di daerah Pondok Cabe, Pamulang.
Suatu hari, berawal dari angan-angan di jam makan siang, saya mendapatkan ide untuk membuka kedai kopi sendiri. Meski tidak memiliki pengalaman atau pengetahuan tentang kopi sebelumnya, saya suka minum kopi hitam dan memiliki V60 di rumah. Saya memulai dengan menghitung modal yang diperlukan untuk membeli perlengkapan baru, gaji karyawan, dan sewa tempat. Ternyata, harganya cukup fantastis bagi saya yang tidak memiliki uang berjuta-juta.
Menyiasati hal tersebut, saya mulai mencari perlengkapan kedai kopi bekas di Facebook Marketplace, mulai dari mesin kopi, meja bar, meja untuk pelanggan, freezer, showcase, dan lain-lain. Semua barang yang saya beli adalah barang bekas, kecuali beberapa peralatan seperti lampu, piring, gelas, dan sendok garpu. Barang pertama yang saya beli adalah mesin kopi Ferratti Ferro FCM 3605 bekas seharga satu jutaan dan grinder seharga 300 ribu rupiah.
Setiap malam saya tidur pada pukul 1 atau 2 pagi, menghabiskan waktu membaca artikel dan menonton video di YouTube tentang kopi, mulai dari perbedaan jenis kopi seperti arabika, robusta, hingga dan cara membuat espresso, latte, cappuccino, dan sebagainya. Namun, ketika saya mencoba membuat espresso pertama kalinya, saya sadar bahwa perjalanan kopi saya akan panjang dan tidak mudah. Setelah menghabiskan lebih dari 500 gram biji kopi, saya belum juga bisa membuat espresso yang benar.
Setelah saya menonton kembali dan mencari tahu, ternyata grinder memiliki peran penting dalam membuat espresso. Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli grinder bekas seharga 1,5 juta rupiah. Ajaibnya, dengan grinder yang lebih mahal ini, saya berhasil membuat espresso pertama saya. Berikutnya, saya mencoba membuat resep pertama, yaitu kopi susu gula aren, dengan melakukan penyesuaian dari resep yang saya temukan di internet.
Tapi, membuat minuman kopi dingin lebih mudah daripada membuat kopi panas. Untuk membuat minuman kopi panas, terutama latte, saya merasa perlu untuk menguasai latte art. Dalam berlatih membuat latte art, saya menghabiskan berliter-liter susu dan tidur larut malam setiap harinya. Hingga pada akhirnya saya bisa membuat bentuk “love” pada latte yang saya buat.
Bermodalkan pinjaman KUR sebesar Rp50 juta dari salah satu bank swasta, akhirnya saya membuka kedai kopi dengan nama Kopi Kemiri di sebuah ruko berukuran 3×6. Kenapa namanya Kopi Kemiri? Sederhana, karena kedai tersebut berada di Jalan Kemiri Raya.
Saya mendapatkan barista yang sebelumnya bekerja di tempat laundry kiloan. Ia tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan apa pun yang dibutuhkan oleh seorang barista. Saya mengajarkannya dasar-dasar tentang kopi, dan kami belajar bersama cara membuat kopi yang baik, termasuk latte art. Seiring berjalannya waktu, dia bisa membuat latte art yang lebih baik dari saya.
Di kedai ini, saya hanya memiliki satu barista, dan hanya memiliki satu shift (14.00-22.00). Di hari pertama beroperasi, pelanggan pertama datang pada pukul 22.10, bahkan barista saya sudah pulang saat itu. Tapi perasaan ketika pelanggan pertama datang adalah pengalaman yang akan saya ingat sepanjang hayat.
Karena hanya memiliki satu barista, saya sering membantu menyiapkan makanan/minuman ketika sedang banyak pelanggan, terutama di malam minggu. Berdua, kami belajar bersama bagaimana mengelola kedai kopi dengan baik. Mulai dari aspek operasi, SOP, membuat menu baru, dan lain sebagainya.
Sayangnya, Kopi Kemiri hanya bertahan selama dua tahun karena lokasi yang kurang strategis dan karena kedua orang tua saya sakit pada saat itu. Meski berat, saya harus mengubur mimpi untuk memiliki kedai kopi karena besar pasak dari pada tiang. Semua barang dijual, kecuali mesin espresso dan beberapa peralatan kopi untuk membuat kopi sendiri di rumah.
Waktu berlalu, hingga beberapa bulan setelah Kopi Kemiri menemui ajalnya, istri saya memberitahu bahwa bosnya di kantor berencana membuka kedai kopi dan mengajak saya untuk bekerjasama. Sebelumnya, bos istri saya pernah mencoba kopi gula aren dari Kopi Kemiri dan merasa kopi tersebut enak dan seharusnya laku dijual.
Setelah beberapa kali pertemuan, akhirnya kami sepakat untuk bekerja sama mendirikan Kopi HOSC. Kenapa namanya Kopi HOSC? Simpel, karena berdiri di Jalan HOS Cokroaminoto. Saya bertanggung jawab untuk operasi, merancang menu dan resep, desain dan branding, mengelola sosial media, termasuk melatih enam orang barista yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang kopi, .
Kopi HOSC sangat berbeda dengan Kopi Kemiri. Kopi HOSC menggunakan mesin espresso yang harganya 20 kali lipat lebih mahal. Grinder, dan peralatan kopi lainnya juga jauh lebih canggih.
Untuk Sistem POS pun menggunakan sistem berbayar, berbeda dengan Kopi Kemiri yang menggunakan aplikasi gratisan. Namun, perbedaan yang paling penting adalah lokasi kedai yang strategis.
Jika Kopi Kemiri mendapatkan pelanggan pertama pada pukul 22.10, Kopi HOSC mendapatkan pelanggan pertamanya pada pukul 09.00, atau hanya satu jam setelah opening. Hingga saat artikel ini ditulis pada bulan Juli 2023, Kopi HOSC telah menerima 83 ulasan positif di Google Maps dalam waktu kurang dari 2 bulan sejak pembukaannya.
Saat ini, kapasitas kursi di Kopi HOSC terbatas karena hanya berbentuk ruko. Beberapa kali, pelanggan tidak jadi masuk karena kapasitas ruangannya penuh. Tapi dalam beberapa bulan ke depan, kami berencana untuk membuat area semi outdoor di belakang ruko. Ketika pembangunan ini selesai, Kopi HOSC akan memiliki kapasitas kurang lebih 75 seat.
Saya sempat mengubur mimpi untuk memiliki kedai kopi ketika saya mengubur Kopi Kemiri beberapa bulan yang lalu. Tapi kini saya kembali menemukan semangat menjalankan bisnis kopi. Meski saya bukan owner, tapi saya diberikan kebebasan untuk menentukan menu dan konsep dari kedai kopi ini, termasuk dalam penggunaan budget marketing. Meski belum genap dua bulan, kami optimis Kopi HOSC akan membuahkan hasil positif.
Oleh karena itu, jangan pernah berhenti bermimpi, karena kita tidak akan tahu dari mana impian kita akan terwujud. Saya juga belajar bahwa memulai sebuah bisnis itu mudah, tetapi menjalankannya adalah tantangan yang sebenarnya. Dalam membuka bisnis, kita bisa meminjam uang dari orang tua, bank, atau bahkan pinjol. Namun, kita tidak bisa meminjam konsistensi, kerja keras, dan kreativitas, yang hanya dapat tumbuh dan berkembang dari dalam diri kita sendiri.
[Artikel Nominasi Kopi Fest Indonesia Writing Competition 2023]

