Bagaimana Kriteria Gen Z dalam Memilih Kedai Kopi? - Majalah Otten Coffee
Bagi Generasi Z, kedai kopi bukan lagi sekadar tempat membeli secangkir kopi. Coffee shop telah berubah menjadi ruang untuk bekerja, belajar, bertemu teman, mencari inspirasi, membuat konten, bahkan membangun identitas diri.

Karena itu, ketika Gen Z memilih kedai kopi, pertimbangannya juga semakin kompleks. Bukan hanya soal apakah kopinya enak atau harganya murah, tetapi juga bagaimana suasana tempat tersebut, apakah nyaman untuk berlama-lama, menarik secara visual, mudah ditemukan di media sosial, hingga apakah brand-nya terasa relevan dengan nilai yang mereka percaya. Lantas, apa saja kriteria Gen Z dalam memilih kedai kopi?
1. Suasana dan desain yang punya karakter
Hal pertama yang sering menarik perhatian Gen Z adalah suasana.
Penelitian mengenai preferensi Gen Z di beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa kualitas lingkungan fisik atau servicescape seperti pencahayaan, tata furnitur, layout, dan fasilitas merupakan faktor penting dalam memilih coffee shop. Bahkan penelitian di Cianjur pada 2026 menemukan bahwa servicescape quality menjadi faktor paling dominan dalam preferensi Gen Z. (UPI Repository)
Artinya, desain kedai kopi tidak harus selalu mewah. Yang lebih penting adalah memiliki karakter. Kedai dengan interior yang konsisten, pencahayaan nyaman, musik yang tepat, meja yang tidak terlalu berhimpitan, serta detail visual yang menarik akan lebih mudah menciptakan pengalaman yang diingat. Gen Z tidak selalu mencari tempat yang paling mahal atau paling mewah. Mereka mencari tempat yang punya suasana.

2. Instagramable, tetapi tidak sekadar cantik
Istilah instagramable mungkin terdengar klise, tetapi pengaruhnya masih nyata. Penelitian terbaru terhadap 100 responden Gen Z di Kota Medan menemukan bahwa instagramable tourism berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan memilih coffee shop. Bahkan dalam penelitian tersebut, faktor visual ini lebih dominan dibandingkan pengaruh konten influencer. (Jibema)
Namun, menjadi Instagramable hari ini tidak cukup hanya menyediakan satu dinding dengan tulisan neon. Gen Z semakin mencari tempat yang memiliki visual identity secara keseluruhan: logo, warna, kemasan, interior, gelas, menu, hingga cara penyajian. Dengan kata lain, brand experience harus terlihat konsisten dari layar smartphone sampai pengalaman langsung di kedai.
3. Kopi tetap penting bahkan ketika tempatnya menarik
Meski pengalaman menjadi semakin penting, jangan sampai coffee shop lupa bahwa produknya tetap kopi. Gen Z memiliki banyak pilihan kedai. Ketika visual dan suasana beberapa tempat terlihat sama-sama menarik, kualitas produk dapat menjadi pembeda. Pilihan biji kopi, metode seduh, rasa yang konsisten, menu signature, hingga kemampuan barista menjelaskan kopi dapat menciptakan alasan untuk kembali.

Penelitian mengenai kepuasan konsumsi kopi lokal Gen Z di Solo juga menunjukkan bahwa selain atmosfer, keunikan produk, variasi biji kopi, pelayanan, dan customer experience ikut membentuk daya tarik coffee shop. (IPM2KPE Journal). Karena itu, kedai kopi yang ingin menarik Gen Z sebaiknya tidak hanya bertanya, “Apakah tempat kami bagus untuk difoto?”
4. Nyaman untuk nongkrong, bekerja, atau sekadar sendirian
Coffee shop kini semakin berfungsi sebagai third place: ruang di luar rumah dan tempat kerja atau sekolah yang digunakan untuk beraktivitas dan bersosialisasi. Bagi sebagian Gen Z, coffee shop bahkan menjadi individual third place tempat untuk bekerja dengan laptop, mengikuti kelas online, bermain, menikmati konten digital, atau sekadar menghabiskan waktu sendiri. Akses Wi-Fi dan kenyamanan menjadi bagian penting dari pengalaman tersebut. (ScienceDirect)
Karena itu, hal-hal yang terlihat sederhana justru sangat menentukan:
- Wi-Fi yang stabil
- colokan yang mudah dijangkau
- kursi yang nyaman
- meja dengan ukuran proporsional
- pencahayaan yang cukup
- musik yang tidak terlalu keras
- toilet yang bersih
- ruang yang tidak terlalu sempit
Bagi Gen Z, kenyamanan adalah bagian dari produk.

5. Harga harus terasa worth it
Gen Z juga bukan konsumen yang otomatis memilih produk termurah. Yang mereka cari adalah value for money. Secangkir kopi seharga Rp35.000 bisa terasa mahal jika kopinya biasa saja, tempatnya tidak nyaman, dan pelayanannya buruk. Sebaliknya, harga yang sama bisa terasa masuk akal jika kualitas kopi, suasana, pelayanan, dan pengalaman yang diberikan sepadan.
Studi literatur terbaru mengenai preferensi Gen Z dalam memilih coffee shop juga mengidentifikasi harga, kenyamanan, suasana, variasi menu, dan media sosial sebagai faktor yang berpengaruh terhadap pilihan mereka. (OJS). Jadi, persoalannya bukan sekadar “murah atau mahal”, tetapi apakah pengalaman yang didapat terasa sepadan dengan uang yang dikeluarkan.
6. Media sosial menjadi pintu masuk pertama
Sebelum datang ke sebuah kedai kopi, banyak Gen Z mungkin sudah melihatnya lebih dulu di TikTok, Instagram, atau platform sosial lainnya. Konten dari teman, kreator, maupun influencer dapat menjadi pemicu keputusan untuk mencoba sebuah tempat.
Alat Kopi Praktis Untuk Liburan Semakin Menyenangkan!

Penelitian di Medan pada 2026 secara khusus menemukan bahwa konten influencer memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan Gen Z dalam memilih coffee shop. Ketika dikombinasikan dengan daya tarik visual tempat, kedua faktor tersebut menjelaskan 68,3% variasi keputusan memilih coffee shop dalam penelitian tersebut. (Jibema). Ini membuat media sosial bukan lagi sekadar kanal promosi. Bagi coffee shop, media sosial sudah menjadi etalase digital. Apa yang terlihat di Instagram atau TikTok sering kali menjadi pengalaman pertama calon pelanggan terhadap sebuah brand.
7. Brand yang terasa autentik
Gen Z juga semakin sensitif terhadap brand yang terasa dibuat-buat. Mereka tidak hanya membeli produk, tetapi juga berinteraksi dengan cerita di baliknya: siapa pemiliknya, bagaimana kopi diperoleh, apa yang diperjuangkan brand, dan bagaimana bisnis tersebut memperlakukan komunitasnya.
Hal ini juga berlaku untuk isu sustainability.
Penelitian mengenai sustainable branding pada coffee shop di Indonesia menemukan bahwa konsumen memang mulai memperhatikan praktik keberlanjutan, tetapi perhatian tersebut masih sering berhenti pada simbol visual seperti kemasan ramah lingkungan. Yang menarik, konsumen juga dapat membedakan praktik yang benar-benar autentik dari sekadar greenwashing. (Jurnal Era Publikasi). Jadi, mengatakan “eco-friendly” saja tidak cukup. Gen Z ingin melihat bukti bahwa nilai tersebut memang dijalankan.
8. Ada rasa menjadi bagian dari komunitas
Pada akhirnya, alasan Gen Z kembali ke sebuah coffee shop bisa sangat sederhana: mereka merasa cocok di sana. Penelitian tentang kebiasaan nongkrong Gen Z menunjukkan bahwa coffee shop dapat menjadi ruang untuk membangun sense of belonging, kenyamanan, koneksi sosial, sekaligus identitas. Aktivitas seperti bekerja dengan laptop, memilih minuman tertentu, bertemu teman, hingga membuat konten dapat menjadi bagian dari cara Gen Z menampilkan dirinya. (UBM Journal)
Inilah mengapa kedai kopi dengan komunitas yang kuat sering memiliki pelanggan yang lebih loyal. Mereka tidak hanya datang untuk membeli kopi.
Mereka datang karena merasa “ini tempat gue.”
Jadi, apa sebenarnya yang dicari Gen Z?
Jika dirangkum, kriteria Gen Z dalam memilih kedai kopi dapat dilihat sebagai kombinasi antara produk, tempat, harga, pengalaman, dan identitas. Kopi harus enak. Harga harus masuk akal. Tempat harus nyaman. Visual harus menarik. Media sosial harus meyakinkan. Brand harus punya cerita. Dan yang paling penting, pengalaman keseluruhannya harus terasa autentik.

Dengan semakin banyaknya coffee shop di berbagai kota, persaingan tidak lagi hanya terjadi pada rasa kopi. Kedai kopi bersaing untuk mendapatkan waktu, perhatian, dan loyalitas konsumen.
Gen Z tidak sekadar mencari tempat untuk minum kopi. Mereka mencari tempat untuk bekerja, bertemu, beristirahat, membuat cerita, menunjukkan siapa diri mereka, atau bahkan hanya duduk sendirian selama beberapa jam.
Karena itu, coffee shop yang ingin memenangkan hati Gen Z tidak harus menjadi yang paling mahal, paling besar, atau paling viral. Mereka hanya perlu menjawab satu pertanyaan penting: “Pengalaman apa yang membuat seseorang ingin datang kembali bahkan ketika tidak sedang ingin minum kopi?” Di situlah kedai kopi berhenti menjadi sekadar tempat membeli minuman dan mulai menjadi sebuah ruang yang punya makna.
