BACKLANE COFFEE: SEBUAH 'PELARIAN' MANIS - Majalah Otten Coffee
Ada dua cara menikmati Malaka a la saya. Pertama, meleburkan diri di antara bangunan tua bersejarah. Kedua, menemukan kedai-kedai kopi kecil di antara bangunan-bangunan tua tersebut.

SAYA tak bosan menikmati keduanya. Jika Kuala Lumpur nan metropopolis dan angkuh itu membuat kamu jengah, maka Malaka begitu arif dalam keanggunan yang tak lekang oleh zaman. Kota penuh bangunan heritage dan cerita masa lalu yang menarik ini selalu menjadi ‘pelarian’ menyenangkan untuk saya. Meski kini Malaka telah menjadi tujuan turis segala penjuru dunia, kota ini masih saja mencuri perhatian. Tak hanya bangunan tua yang membuat senyum mengembang, akhir-akhir ini Malaka telah berdandan lebih menarik dengan menghadirkan kedai-kedai kopi yang berada di antara lorong-lorong tua.

Jonker Street di kawasan China Town adalah area padat turis yang jangankan mau berjalan-jalan santai, berdiri di pinggir jalan ini saja sudah sulit sangkin sesaknya. Aneka restoran, café, kedai kopi dan toko oleh-oleh bersesakan. Turis ramai berlalu-lalang tanpa pasang mata. Meski begitu padat, saya masih bisa sedikit bernapas lega saat menemukan sebuah kedai kopi yang berada di salah satu lorong sempit kawasan Jonker Street, kedai yang tersembunyi dan jauh dari keriuhan turis: Backlane Coffee.

Awalnya saya kesulitan menemukan Backlane Coffee karena coffee shop yang bertempat di Jalan Hang Jebat ini berada di belakang sebuah toko. Dengan memasuki toko saya disambut sebuah papan nama bersinar terang dan di sanalah Backlane Coffee berada. Saat memasuki kedai kopi ini saya langsung merasa tidak berada di riuhnya Jonker Street area. Suasana begitu tenang, sesekali terdengar suara mesin espresso atau mesin penggiling kopi sedang bekerja. Dari berbagai sudut lamat-lamat terdengar suara pengunjung bercengkrama dibalut dengan lagu dari pemutar musik yang tak berisik.

Desain interiornya sungguhlah menambah kenyamanan. Kursi-kursi dan meja dipadankan dengan perpaduan yang asik. Di beberapa sisi suasana unfinished industrial begitu terasa, pun lighting-nya memberi pendar hangat yang mencukupkan. Sebuah kesatuan yang lahir dari perhitungan yang matang. Tapi dari semua yang ada di Backlane Coffee ini, bagian favorit saya tentulah coffee bar-nya. Alat-alat kopi dipajang berjejer, sususan yang berantakan di berbagai sisi sepertinya justru menambah keindahan. Sekilas saya seperti melihat coffee bar yang ada di Pinterest. Atau mungkin mereka terinspiras dari sana? Hi-hi-hi.

Apalah arti sebuah kedai kopi nan fotogenik tanpa kopi yang nikmat. Karena tidak ada menu kopi manual brewing, jadilah saya dan teman memesan secangkir cappuccino dan piccolo latte. Rasanya tentu tidak mengecewakan, pun sang barista sepertinya juga cukup tahu benar perkara kopi. Tak cukup dengan ngopi, saya memesan salted caramel cake sebagai teman ngopi. Lembutnya cake yang dikejutkan dengan isi caramel yang berada di tengahnya menyeimbangkan rasa kopi yang memang tidak terlalu creamy. Sambil sesekali mengagumi kedai ini saya juga baru tahu bahwa Backlane Coffee ini bisa dimasuki dari lorong belakang yang berada di bagian belakang kafe. Tak melulu harus masuk dari toko. Yah, saya juga baru tahu.

Oh iya , selain ngopi-ngopi dan ngemil-ngemil, Backlane Coffee ternyata menyajikan menu sarapan dan beberapa pasta. Yah mungkin kali saja ada pengunjung yang lapar saat mampir ke sini. Intinya, jika kamu mampir ke Malaka dan suka minum kopi, Backlane Coffee adalah satu dari banyaknya kedai kopi yang tak boleh kamu lewatkan. Kenapa? Salah satu alasannya karena kedai kopi ini adalah pelarian sempurna dari hiruk pikuk area turistik yang berisik. Selamat mencoba.
BACKLANE COFFEE
Jalan Hang Jebat 129, Jonker Street,
Malaka, Malaysia

