APA YANG MENYEBABKAN PAHIT PADA KOPI? - Majalah Otten Coffee
Pernahkah terbersit di kepala kenapa kopi bisa pahit padahal minuman ini sesungguhnya hadir dari buah? Jika pernah dan belum menemukan jawabannya silakan terus baca di sini.
KOPI identik dengan rasa pahit yang hadir lewat warna hitam gelap dalam cangkir kita. Padahal jika ditilik kembali sedari awal kopi adalah tanaman yang buahnya tidak berasa pahit. Saya sendiri pernah mencicipi langsung buah ceri kopi berwarna merah tua yang siap dipanen. Buah ini tidak pahit, cenderung asam segar dengan sekilas manis. Mungkin rasanya tergantung varietas dan daerahnya. Yang jelas saya sadar benar, beberap akali mencicipi ceri kopi dari berbagai daerah di Indonesia dan sekali di Myanmar tak ada rasa pahit di sana.

Para coffee expert mungkin sudah tahu jawabannya. Namun banyak teman pemula atau mungkin awam yang belum tahu kenapa rasa pahit ini bisa serta merta hadir. Setelah buah ceri dipetik maka dengan berbagai proses pascapanen biji kopi dilepas dari buahnya. Kemudian dijemur dan memasuki proses penyangraian. Penyangraian inilah yang perperan dalam mencipta rasa pahit.
Sebenarnya tak melulu pahit yang hadir. Ada catatan rasa yang turut hadir seperti manis, buah-buahan, bebungaan dan banyak lagi. Namun memang benar di luaran sana kopi yang banyak dikenal adalah yang pahit. Pahit ini tiba karena disangrai terlalu gelap. Jadi tidak seumua kopi menghadirkan pahit yang sama. Rasa pahit dipengaruhi oleh level sangraian, varietas kopi dan daerah dan cara seduhnya. Variabel ini yang menentukan hasil akhir. Jadi jangan kaget jika suatu hari kamu mungkin mencicipi dua kopi yang sama dengan rasa yang jauh beda. Ada faktor yang menentukan, bukan perkara satu variabel saja.

Lalu apakah benar kopi yang pahit adalah yang enak? Soal selera tak ada takarannya. Enak untukmu bisa jadi tak enak untuknya. Biasanya kopi yang disangrai gelap dan menghadirkan rasa pahit saja menghilangkan ‘catatan rasa’ yang mungkin bisa saja hadir andai tak disangrai segelap itu. Tapi lagi-lagi semua kembali ke selera dan ‘keyakinannya’ dalam menikmati kopi. Bukan begitu?

