APA YANG BISA DIAJARKAN SECANGKIR KOPI PADAMU? - Majalah Otten Coffee
Tulisan ini mungkin bersifat personal tapi saya percaya bahwa ada beberapa poin yang mungkin akan menyentilmu sedikit secara personal.
SEBERAPA sering kamu bahwa dalam setiap cangkir kopi mengandung pelajaran yang berbeda-beda setiap harinya? Untuk peminum kopi aktif seperti saya, kopi tidak lagi sekedar minuman pengawal hari, pelengkap di antara percakapan dan teman kencan untuk laptop saya yang dibuai mesra deadline.
Mengapreasisi
Pernahkah kamu merasa bahwa secangkir kopi juga bisa menjadi guru yang memberi pelajaran yang remeh tetapi penting juga. Setidaknya setelah empat tahun belakangan berkutat dengan kopi dan tiga tahun aktif bergelut di industri kopi saya merasa kopi mengajarkan saya tentang bagaimana caranya mengapresiasi. Secangkir kopi yang tiba di mejamu enak atau tidak enak menurut pallet lidahmu itu berasal dari kerja keras rantai industri yang begitu panjang. Setidaknya habiskan kopimu hingga tandas karena dalam tiap tetesnya mengandung nilai-nilai yang perlu di apresiasi salah satunya kerja keras.
Pun jika kamu kurang mengapresiasi secangkir kopi yang sudah hadir diseduh untukmu, dunia sudah memberikan apresiasinya pada industri kopi. Sebagai bentuk dunia memberikan apresiasi tertinggi, banyak kompetisi yang diadakan tingkat dunia untuk industri kopi.
Cup of Excellence (CoE) merupakan kompetisi tahunan yang digelar di beberapa negara, mengidentifikasi kopi berkualitas tinggi yang pernah diproduksi, dan biji kopi para pemenang akan dijual melalui lelang internet.
World Coffee Roasting Championship (WCRC) merupakan kompetisi kelas dunia yang mempertemukan para roaster untuk dinilai kepiawaiannya dalam hal menyangrai biji kopi, mulai dari keahlian roaster mengevaluasi kualitas green bean, mengembangkan metode sangrai dan kualitas rasa kopi dari hasil penyangraian.
Bahkan, di industri penyajian kopi telah banyak kompetisi sebagai bentuk apresiasi tertinggi untuk yang terlibat seperti World Barista Championship, World Brewers Cup Championship, dan World AeroPress Championship.

Kesabaran
Tak berhenti di satu poin, secangkir kopi mengajarkan saya berlapis-lapis kesabaran. Kesabaran adalah kunci lahirnya kopi nikmat di mulai dari hulu hingga ke hilir. Jangan tanya lagi berapa tebal rasa sabar para petani dan antek-anteknya di hulu sana mengasuh kopi sepenuh hati. Jangan tanya lagi berapa sabarnya para pelaku industri kopi yang berjuang mendapatkan cita rasa yang nikmat. Dan terakhir jangan pernah ungkap lagi seberapa sabar para barista menghadapi penikmat kopi yang terkadang kejam dalam menilai. Kopi yang enak mungkin lahir dari sang ahli. Tapi kopi yang nikmat itu lahir dari mereka yang tekun, tulus dan bersabar. Setidaknya saya mengamini ini.
Tanpa sesekali mencobanya sendiri, menyeduh kopi akan melatih kesabaran dalam segala hal dan berpengaruh secara positif di hidup ini.
Mencobanya tiap kali dan akhirnya cukup sabar untuk menerima kenyataan, bahwa membuat kopi tidak sesederhana yang dibayangkan dan tidak serumit yang terlihat. Perlu menemukan formula tepat hingga akhirnya, buah kesabaran dari waktu ke waktu mencobanya, terciptalah resep kopi yang bisa diandalkan.
Sebuah resep kopi yang lahir dari perjalanan penuh sabar untuk menemukan kenikmatan seduhan kopi buatan sendiri.

Menikmati Proses
Meski kopi mengajarkan begitu banyak hal tapi saya harus memilih bahwa kopi mengajari saya menikmati proses. Setiap orang tentu mengelu-elukan hasil akhir yang sukses, tapi tidak semua orang mampu menikmati dan beradaptasi dengan proses. Pada kopi saya belajar banyak perihal menikmati proses, berproses dan menjadi rantai dari proses itu sendiri. Tanpa proses kopi hanyalah minuman pereda haus atau penunda kantuk. Proses baik menyeduh maupun pascapanen adalah seni yang menentukan akan jadi apa kopi dan manusia yang terlibat di sana. Tanpa proses kopi kita akan menjadi disobek bukan diseduh. Ah, yang disobek pun bahkan perlu proses!
Pada saat menemukan resep kopi yang bisa diandalkan, pada saat itu pula semua proses terasa begitu nikmat.
Bukan hanya hasil akhir yang menjadi tujuan utama, melainkan detail proses dan tiap tahapannya semacam ruang berbincang satu arah antara kamu dan biji kopi.
Berusaha berkenalan melalui ekstraksi kopi yang diseduh dengan metode bervariasi dan dipersiapkan teliti dari rasio serta variabel seduh lainnya. Kini tiap proses terasa biasa, kamu pun semakin menikmatinya.
Sekian dulu yang diajarkan kopi pada saya sejauh ini. Well, kopi mengajarkan kita menikmati pahit dan candu. Tapi kopi tak pernah mengajarkan kita soal penghakiman dan menjadi jagoan instan. Meski banyak hakim kopi, jangan pernah salahkan kopinya. Salahkan oknumnya yang mungkin sedikit malas ‘belajar’ mengenai biji hitam nan seksi ini. Salam kopi!
Artikel ini dipublikasi oleh Mustika T Yuliandri pada 21 juni 2018.
Diperbarui oleh Yoga Aizeindra pada 29 april 2023.
Foto utama dari squarespace.com

