Angkringan Kopi, dari Jogja ke Mancanegara - Majalah Otten Coffee
Bayangkan pagi atau sore hari yang hangat; aroma kopi asli menyatu dengan asap arang, dan terdengar gelak canda pengunjung dari berbagai kalangan, simak konsep angkringan kopi.

Inilah keajaiban angkringan yang lebih dari sekadar tempat nongkrong, kini sudah menjelma jadi gerakan budaya. Dulunya ikon Yogyakarta dan Jawa, sekarang muncul di Samarinda, Kendari, Pati, Lasem, bahkan hingga London dan Jepang. Apa yang membuatnya melejit?
|
|
|
|
|
1. Jejak Kopi Jos: Dari Jogja Menyebar ke Dunia
Angkringan Kopi, terutama kopi jos kopi hitam yang disajikan dengan arang panas juga sudah menjadi phénomène global. Bermula dari Angkringan Lek Man (Lik Man) di Yogyakarta dan diperkenalkan oleh generasi awalnya sejak era 1960-an, kopi itu tanpa sengaja diciptakan lewat eksperimen menggunakan arang panas .
Karena rasa uniknya, kopi jos menyebar luas tidak hanya merambah kota-klitik di Jawa seperti Semarang dan Pati, tetapi juga ke luar negeri. Misalnya, angkringan di Tokyo sempat viral dan bahkan ada bule Swiss yang berjualan angkringan di Kediri . Sayangnya kopi ini pernah sempat dilarang di Malaysia karena regulasi kesehatan.
2. Adaptasi Lokal: “Angkringan Van Java” hingga “Futuristis Coffee”
Salah satu bukti kreatifitas adaptasi angkringan di luar Jawa bisa ditemui di Samarinda. Angkringan Van Java menghadirkan menu khas Jogja seperti gudeg, sate jeroan, oseng mercon, dan tak lupa kopi jos serta wedang jahe tetapi dengan sentuhan kafe modern dan suasana santai dengan tenda dan musik Jawa.
Di Kendari, Futuristis Coffee memperkenalkan konsep angkringan “fresh” yang digandrungi generasi milenial. Menyajikan Americano, Cappuccino, dan bahkan Thai tea, dengan omzet harian Rp 100–300 ribu. Yang menarik, cukup mengganti kopi sachet dengan merek lokal seperti Kopi Kopen dari Semarang, mereka meningkatkan kualitas kopi tanpa menaikkan harga.

3. Angkringan sebagai Ruang Interaksi Komunitas
Angkringan bukan hanya tempat makan, tapi ruang sosial. Contohnya di Lasem, Angkringan Tridaya Karla menjadi pangkalan komunitas multietnis. Kopi “lelet” lokal disajikan dengan harga Rp 3–4 ribu, dan pengunjung dari pelajar hingga santri sering diskusi soal kemajuan kota hingga larut malam. Ini menunjukkan angkringan mampu menjadi wadah inklusif untuk berjejaring dan melahirkan gagasan.
4. Inovasi Kopi Kelas Café di Angkringan
Tren berikutnya adalah angkringan menghadirkan kopi ala café premium dengan harga tetap terjangkau. Di Pati, angkringan Bang Salam menyajikan kopi “sekelas kafe” dalam suasana sederhana tanpa merogoh kantong dalam-dalam. Begitu juga Arief Rachmanto di Semarang: dengan mengganti kopi sachet dengan kopi murni, ia meningkatkan kualitas dan loyalitas pelanggan tanpa menambah biaya . Strategi ini mencerminkan paradigma baru: mengusung “kualitas premium harga merakyat”.
5. Go Internasional: Angkringan di London & Jepang
Ikon budaya tradisional ini sukses menembus batas negara. Di London, pada acara “Pasar Rakyat” HUT RI ke-78, Hariyanto Radiman membuka stand kopi Indonesia dengan nuansa angkringan . Tidak hanya sekadar menyajikan minuman, tetapi memboyong atmosfer khas Indonesia yang hangat, santai, dan ramah memperkenalkan budaya minum kopi mereka ke orang asing.
Begitu pula di Jepang: angkringan asli Yogyakarta mangkal dan jadi viral, sampai banyak bule tertarik mencicip kopi jos. Martin Johnson, warga AS yang tinggal di Yogya, sampai pamer di media sosial bagaimana serunya mencoba kopi jos pertama kalinya.
Mengapa Tren Ini Bisa Menyebar?
A. Modal Ringan, Citra Kuat
Konsep angkringan mudah direplikasi: cukup gerobak sederhana, menu lokal merakyat, dan suasana bersahaja. Modalnya rendah, potensinya besar.
B. Kombinasi Tradisi & Inovasi
Angkringan mempertahankan kekhasan (kopi jos, nasi kucing, sate jeroan) sekaligus bisa berinovasi (menu ala café, Thai tea, wedang unik, kopi dengan merek lokal). Fleksibilitas ini membuatnya relevan bagi berbagai kalangan, dari mahasiswa hingga pekerja kantoran.
C. Ruang Sosial yang Autentik
Hadir sebagai tempat berkumpul yang ramah tanpa batas sosial. Dialog ringan hingga diskusi serius menjadikannya ruang publik modern. Humor khas angkringan seperti guyonan spontan tentang “kopi item” dan masa depan membuatnya terasa hidup dan inklusif.
D. Identitas Budaya yang Bisa Dipasarkan
Angkringan tidak terbatas sebagai produk kuliner, tetapi bagian dari citra budaya Indonesia. Hadir di luar negeri, beda banget jika dibandingkan toko kopi biasa. Mereka membawa cerita dan aura negeri asalnya hangat, guyub, kreatif.
Kesimpulan: Angkringan Kopi, Lebih dari Sekadar Kopi
Angkringan kopi kini bergerak dari:
- Ikon kuliner Jogja → menjadi tren bisnis luas: Samarinda, Kendari, Pati, Lasem, hingga penjuru dunia.
- Menu tradisional → berkembang jadi kopi kelas cafe, Thai tea, bahkan kopi murni berkualitas.
- Warung asyik → menjadi ruang kreatif, komunitas, dan diplomasi budaya.
Fenomena ini menunjukkan betapa angkringan itu fleksibel: murah, mudah dimodifikasi, dan sarat nilai budaya. Maka nilai yang mereka bawa bukan hanya soal rasa kopi, tetapi juga suasana kehangatan, inklusivitas, dan identitas asli.
Saran untuk Kamu yang Tertarik
- Pedagang baru? Pelajari kopi lokal berkualitas, pikirkan inovasi menu sederhana namun menarik, dan ciptakan suasana hangat ala angkringan.
- Penikmat kopi? Jelajahi angkringan dengan kopi arsik, kopi jos, atau kopi murni. Rasakan langsung suasana yang tak bisa kamu dapat di kafe biasa.
- Pelaku budaya atau diaspora? Bawa nuansa angkringan ke komunitas di luar negeri bikin tempat ngumpul yang bukan cuma menjual kopi, tapi juga cerita Indonesia.
Angkringan bukan sekedar tren: ia adalah gerakan mengubah cara kita menikmati kopi, membangun komunitas, dan mempromosikan budaya Indonesia, satu cangkir hangat di satu meja sederhana. Selamat ngopi, selamat berbagi cerita!
Rekomendasi mesin kopi rumahan
Disc. hingga 1JT* Mesin Kopi Breville

