5 METODE SEDUH KOPI DAN JODOH KOPINYA - Majalah Otten Coffee
Rekomendasi cara seduh manual dan single origin yang pas menjadi pasangannya.
SEBENARNYA tulisan ini bermula dari kekaguman seorang teman dan saya yang merasa takjub ketika mencecap satu single origin yang terasa luar biasa karena diseduh dengan metode manual brew di luar pour over. Bukan seduhan biasanya tak nikmat, hanya saja kali ini karakternya terasa lebih tebal dan wow sehingga memberi kami satu kesimpulan: “ternyata kopi ini makin enak kalau diseduhnya dengan manual brew metode begini.”
Seperti manusia, manual brew pun ternyata memiliki jodoh kopinya masing-masing. 😀 Setelah mencoba berbagai single origin dan metode manual brew yang saling silang, lima daftar berikut ini pun lahir sebagai kesimpulannya. Tentu saja pengalaman saya masih belum sebanyak coffee connoisseurs dan mungkin kalian para pembaca di luar sana, namun setidaknya kelima daftar ini adalah rekomendasi berdasarkan pengalaman saya, sejauh ini. Oke, langsung saja.
Aeropress + Java Andung Sari
Cara seduh memakai resep dari Lukas Zavronik, pemenang World Aeropress Championship 2015.
· 20 gram biji kopi, giling dalam level medium coarse. Saya menggiling di settingan 7.3 di grinder Mahlkonig EK 43.
· Siapkan air dengan suhu 79°C.
· Basahi filter sampai merata.
· Masukkan bubuk kopi, tuang 60 gram air. Biarkan blooming selama 15 detik. Goyangkan (tidak diaduk) selama 15 detik.
· Tambahkan sisa air selama 10 detik.
· Pasang filter, balikkan (metode inverted).
· Press selama 45 detik.
· Stop ketika press-nya sudah berada di level nomor 1. Sajikan.
Hasil: body penuh, mouthfeel dan notes lemon segar tapi lembut.
Eva Solo + Bali Kintamani
Metode Eva Solo ini sebenarnya agak-agak tricky karena “sistemnya” yang mirip-mirip dengan French press. Alias memakai metode perendaman. Dan surprisingly, single origin Bali Kintamani ternyata sangat luar biasa ketika dipasangkan dengan Eva Solo.
· 18 gram biji kopi, gilingan di level 7.5
· Siapkan air dengan suhu 83°
· Panaskan server Eva Solo terlebih dahulu.
· Masukkan bubuk kopi, tuang 70 gram air. Biarkan blooming sebentar. Aduk sekitar 10-15 detik.
· Tambahkan sisa air hingga 230-250 gram.
· Masukkan filter.
· Tutup dan kencangkan jacket Eva Solo. Biarkan tidak lebih dari 3 menit.
· Sajikan.
Hasil: medium body, notes orange yang soft, clean finish.
Note. Selain dengan Eva Solo, single origin Bali Kintamani juga cocok diseduh dengan menggunakan Kinto Faro. Hasilnya: bold tapi clean, dengan after taste seperti dark chocolate yang cukup panjang.
Chemex + Flores Manggarai
Sebenarnya Chemex hampir selalu akan membuat single origin apa saja menjadi terasa luar biasa, namun kompilasi kali ini adalah salah satu yang paling ‘nendang’.
· 17 gram biji kopi, giling medium atau di settingan 7.
· Panaskan air hingga suhu 87°
· Pasang filter ke server Chemex. Basahi dengan air panas, berikut servernya. Buang airnya.
· Masukkan bubuk kopi.
· Tuangkan air secara perlahan.
00:30 – 60 gram
01:00 – 120 gram (hasil/berat di atas scale)
01: 30 – 180 gram
02:00 – 200 gram
02:30 – 230 sampai 250 gram
Hasil: Flavors sweet caramel, medium body, clean cup.
Hario V60 + Toraja Sapan
Sama seperti Chemex, metode V60 ini pun hampir selalu akan menghasilkan karakter yang sangat memuaskan pada setiap single origin yang diseduh. Clean cup, ringan dan flavours yang utuh adalah hasil yang umumnya diberikan V60. Nggak heran kenapa metode ini menjadi pilihan dan kesukaan banyak penggemar manual brew. Dan bagian kali ini pun merupakan salah satu yang paling oke ketika dipasangkan.
· 17 gram biji kopi, giling medium atau di settingan 7.
· Panaskan air hingga suhu 83°
· Pasang filter ke server. Basahi dengan air panas, berikut servernya. Buang airnya.
· Masukkan bubuk kopi.
· Tuangkan air secara perlahan.
00:45 – 50 gram
01:00 – 70 gram (hasil/berat di atas scale)
01: 30 – 180 gram
02:00 – 200 gram
02:30 – 210-230 gram
Hasil: Full body, notes sweet spicy, taste-after taste dark chocolate.
Syphon+ El Salvador/Ethiophia Sidamo/single origin Africa yang memiliki sweetness cukup tinggi
Syphon ini juga termasuk alat seduh yang cukup tricky, sama seperti Eva Solo. Kita nggak bisa menentukan sampai seberapa panas suhu air untuk seduhannya karena airnya yang akan bersuhu diatas 95° – karena mendidih. Satu-satunya pilihan yang bisa dilakukan adalah bermain dengan durasi, mau seberapa lama bubuk kopi dibiarkan terekstraksi. Dan itu cukup memusingkan buat saya yang belum ada apa-apanya ini. Itulah sebabnya alat ini, sejujurnya, bukan favorit saya juga. Haha… Ajaibnya, waktu nyobain Hario smart beam heater, ternyata kita bisa mengatur (mengurangi) kadar panasnya ketika air telah naik ke chamber atas sehingga, meskipun panas, tapi tekanannya tidak semaksimal waktu menggunakan gas burner biasa. So again, alat ini pun kemudian menjadi daftar syphon favorit saya karena cara kerjanya pinter, persis namanya.
· Siapkan 20 gram biji kopi, giling coarse atau di settingan 9-10.
· Siapkan 270 gram air
· Masukkan air ke dalam chamber bawah siphon. Pasang chamber atasnya. Letakkan di atas pemanas – yep, kali ini saya memakai Hario smart beam heater yang keren itu. 😀
· Set pemanasnya hingga mendekati maksimal.
· Ketika air telah naik ke chamber atas, tuangkan bubuk kopi. Biarkan selama sekitar 10 detik.
· Lalu aduk sekitar 10 detik. Jangan lupa sambil mengurangi level panasnya agar kopi tidak terasa terlalu “gosong”.
· Matikan pemanas.
· Sajikan.
Hasil: medium soft body, sweet, ringan tapi cukup clean.
That’s all. Itulah beberapa rekomendasi manual brew arabica dan pasangan kopinya berdasarkan pengalaman kami… sejauh ini. Btw, sekiranya kalian memiliki rekomendasi manual brew bersama pasangan kopinya, share di kolom komentar, ya. 🙂
Notes.
· Semua single origin adalah light roasted.
· Grinder yang digunakan adalah Mahlkonig EK 43.
· Ukuran air adalah Celcius
Artikel ini diperbaharui oleh Mustika T. Yuliandri pada 29 September 2023




