3 TEKNIK POURING DAN RAHASIA BLOOMING - Majalah Otten Coffee
Pouring dalam metode seduh mengacu pada sajian kopi menggunakan dripper, seperti V60, Chemex, dan Kalita, namun alat kopi pour over tidak hanya itu saja.

SEBAGIAN penikmat kopi menganggap metode manual brew merupakan ritual, untuk beberapa orang manual brew bukan hanya sekadar ritual, tapi meditasi. Karena dengan menyeduh kopi, menikmati tiap detik prosesnya, adalah kebahagiaan batin. Metode seduh manual tidak menggunakan mesin, tidak ada lampu indikator, tidak perlu terhubung dengan listrik, hanya memerlukan alat kopi seduh yang sederhana, yaitu dripper.
|
|
|
|
|
Jika pada konsepnya, untuk menyajikan kopi yang nikmat perlu memperhitungkan 7 hal yang antara lain, metode seduh serta teknik seduhan, rasio kopi, ukuran gilingan kopi, kualitas air seduhan, lamanya air bertemu dengan kopi, suhu air, dan juga filter. Maka teknik pouring masuk pada tahap pertama yang perlu diperhitungkan. Walaupun beberapa orang berpendapat teknik pouring tidak memberikan kesan yang terlalu jelas untuk hasil akhir kopi, setidaknya kamu perlu mengetahui ada 3 teknik pouring yang sering diterapkan para barista.
Mengenal Teknik Pouring

Teknik ini bukan tentang bagaimana gerakan air saat pouring, apakah itu zig-zag, membentuk spiral atau jatuhnya air hanya pada satu titik. Namun yang sering diterapkan seorang barista adalah, waktu bertemunya air dengan bubuk kopi, dan bagaimana proses agitasi pada saat pouring.
Awal Pouring
Pouring di awal untuk blooming biasanya hanya membasahi keseluruhan bubuk kopi pada dripper, setelah beberapa saat proses blooming, kemudian dilanjutkan pouring akhir untuk menyelesaikan semua sisa airnya. Pada teknik ini hanya membutuhkan 2 kali pouring.
Proses Blooming Setelah Pouring
Sama seperti sebelumnya, di awal melakukan pouring untuk blooming beberapa saat, setelahnya dilanjutkan menuangkan setengah sisa air ke dripper yang terisi bubuk kopi. Setelah air mulai turun dan terlihat permukaan bubuk kopi, melanjutkan pouring akhir. Teknik ini yang ramai digunakan para barista, membutuhkan 3 kali pouring.
Akhir Pouring
Blooming di awal pouring beberapa saat, kemudian sedikit demi sedikit menuangkan air ke dripper yang berisi bubuk kopi. Berapa ml air yang dituang, tidak menjadi acuan, sedikit demi sedikit menuangkannya, ketika dituang sudah menutupi permukaan bubuk kopi, berhenti sejenak, bila terlihat bubuk kopi maka tuang lagi sedikit, begitu berulang sampai air dituang semuanya. Jumlah pouring tidak tetap pada teknik ini, dan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Lebih Dalam Mengenai Blooming

Makna blooming masih menyisakan misteri, ada yang berpendapat blooming artinya bahwa biji kopi yang digunakan masih fresh, ada juga mengartikan blooming adalah proses pelepasan gas yang ada pada biji kopi. Biasanya pada 15-45 detik awal proses blooming terjadi saat bubuk kopi pada dripper di tuang air. Pelepasan gas ini juga, melepaskan karakter rasa yang tidak diinginkan dari kopi, sehingga memang perlu sentuhan awal dari air ke bubuk kop untuk beberapa saat. Terlalu banyak air pada proses blooming, malah akan membuat rasa kopi menjadi hambar.
Tiap teknik menuang air memiliki khas masing-masing, perihal karakter rasa pastinya berbeda, karena mengacu pada waktu ekstraksi dan lamanya air bertemu dengan bubuk kopi. Untuk pouring yang maksimal, ada baiknya menggunakan kettle yang sesuai dan nyaman saat melakukan pouring. Bagaimana pengalaman kamu ketika pouring, pernahkah kamu menggunakan alat kopi pour over seperti Bonavita, Boduum, atau Kinto?

src: seattle coffee gear handground.com img: lacolombe
